Ini bisa langsung diminum,” seru Pastor Heri Ola sembari mengangkat dua gelas air. Gelas di tangan kiri pastor adalah filtrasi dari air sungai, sedangkan di tangan kanannya hasil filtrasi dari tempat penampungan air hujan.

Presentasi itu disampaikan sang pastor di depan warga Kampung Kapi, Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat. Mereka tampak senang dan antusias dengan adanya alat filtrasi ini. Keesokan harinya, sebelum memulai aktivitas, sebagian warga mampir untuk mengambil air tersebut. Tempat filtrasinya memang sengaja ditaruh di gereja, agar memudahkan siapa saja yang membutuhkan untuk mengambil.

Akses pada air bersih merupakan masalah yang cukup menonjol, dimana penduduk masih menggantungkan kebutuhan airnya dengan mengambil langsung air dari sungai. Pengadaan sumur bukanlah solusi yang tepat, karena tidak memperhatikan kepercayaan khas warga Asmat yang begitu menghargai sungai sebagai sumber air.

Distrik Pulau Tiga merupakan wilayah paling Barat dari Kabupaten Asmat, Papua. Di wilayah ini ada sebelas kampung yang umumnya berada di wilayah sungai maupun anakan sungai. Pada bencana kesehatan Asmat di awal 2018, distrik ini merupakan salah satu daerah dengan dampak terparah. Dari 72 orang yang meninggal saat itu, 31 orang dari antaranya berasal dari distrik Pulau Tiga.

Tim GKI hadir di wilayah ini sepanjang 15-23 Maret 2018 lalu. Bekerja sama dengan Keusukupan Agats, serta pemuka adat setempat, tim ini membantu pengadaan peralatan filter air serta mensosialisasikan penggunaannya pada masyarakat. Momen ini pun dipakai untuk memetakan kebutuhan lebih lanjut dari masyarakat. Ada tiga kampung yang dikunjungi oleh tim GKI, yaitu kampung Kapi, As dan Atat.

Di kampung Kapi, yang merupakan fokus pelayanan, tim membagikan beberapa unit filter air. Tiap alat ini memiliki kapasitas penyaringan untuk 24 liter air perhari. Alat berfilter keramik ini memang didesain untuk memenuhi kebutuhan air minum dengan biaya murah serta ramah lingkungan. Penggunaannya telah teruji di berbagai wilayah dengan krisis air bersih seperti di Guatemala, Nikaragua, Sudan, Filipina, Kamboja dan Nusa Tenggara Timur.

BACA JUGA  Merayakan Idul Fitri

Tim GKI juga sempat mengunjungi sekolah di Kapi, serta memberikan bingkisan peralatan olahraga yang disambut gembira oleh para pelajar. Mereka yang saat itu sempat berhenti sekolah selama sebulan karena meningkatnya wabah campak, kini kembali bersekolah dengan semangat baru. **arms

Sumber: Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia