Selain soal air bersih, pengupayaan sumber makanan secara mandiri menjadi perhatian saat tim GKI hadir di Kabupaten Asmat. Sebenarnya wilayah ini tidak begitu kekurangan sumber untuk nutrisi. Disini terbilang limpah sagu sebagai sumber karbohidrat serta ikan sebagai sumber protein.

Penduduk juga mengkonsumsi kasbi (singkong) dan gedi, yang tumbuh alami, sebagai sumber karbohidrat alternatif. Meski demikian, bencana kesehatan dan gizi buruk yang terjadi di awal 2018, adalah hal faktual.

Dalam analisis bersama masyarakat, tokoh setempat dan para rohaniwan, tim GKI melihat sejumlah catatan yang penting bagi penyediaan sumber makanan di Asmat, khususnya Distrik Pulau Tiga.

Pertama, kondisi tanah yang umumnya bergambut, memang hanya cocok ditanami sejumlah tanaman. Kelor bisa menjadi alternatif selain gedi dan kasbi. Selain karena tumbuh sepanjang musim, tanaman ini juga bisa menjadi bahan obat.

Kedua, kebiasaan masyarakat menerima bantuan langsung (terutama beras dan dana tunai desa) dalam jangka panjang memang memiliki dampak negatif. Salah satunya, semakin sedikit yang mengambil sagu dari hutan. Proses mencacah sagu yang mereka terapkan memang masih membutuhkan waktu lama.

Oleh karenanya diusulkan untuk penyediaan mesin pencacah sagu. Hal yang dinilai cukup penting, namun masih perlu upaya lebih untuk pengadaannya.

Jika hal tersebut berjalan baik, di pelayanan berikutnya tim GKI berencana untuk mengirim satu warga Saparua untuk mengajarkan membuat sagu lempeng dan satu warga Dobo untuk mengajarkan membuat bubu ikan yang nantinya mengarah ke penjaringan serta keramba.

Mereka direncanakan akan menetap selama satu bulan di kampung Kapi. Alasan mendatangkan dari daerah tersebut, karena perjalanannya paling mudah, hanya satu kali dengan menggunakan kapal Pelni menuju Agats.

Hal yang lebih mendasar adalah berurusan dengan kebiasaan di masyarakat. Secara kultural, masyarakat tradisional Asmat memang berorientasi pada food gathering (berburu dan meramu), sehingga tidak terlalu berorientasi untuk memelihara, mengumpulkan atau mengawetkan bahan makanan seperti pada masyarakat berbasis agraris. Untuk ini memang perlu penyesuaian yang tidak sekali program.

Ide-ide ini memang dimunculkan bersama. Tidak sekedar dari tim GKI. Harapan semua masyarakat bencana kesehatan dan gizi buruk tidak terulang lagi. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.