Letusan senapan yang entah darimana itu mengacaukan rancangan Daan Mogot. Prajurit Jepang di Depot Militer Lengkong tadinya sudah bersedia menyerahkan senjata. Namun mereka berbalik melawan, menghabisi taruna republik. Demi melihat anak binaannya terdesak, Daan pun turun dalam pertempuran. Ia gugur bersama 33 kadet dan dua perwira lain di 25 Januari 1946.

Cerita akhir hidup pemuda Minahasa ini barang kali tidak terlihat megah. Ia wafat di usia yang masih sangat belia, belum genap 18 tahun. Pertempuran yang menggugurkannya pun bukanlah perang yang terbilang heroik, lebih karena kesalahan strategi saat pelucutan senjata.

Untuk ukuran cerita masa kini, karya militer Daan, mungkin tidak memberi efek cerita yang ‘wah’. Jika kisah hidupnya mau dijadikan skenario film zaman now, sutradara mungkin akan lebih tertarik menyorot wajahnya yang terbilang tampan, atau kisah cintanya dengan Hadjari Singgih, yang sangat menyentuh hati. Bagian ini pasti jadi menu yang menuai banyak like dan share. Bukan kiprah dan dampak Daan bagi perjuangan bangsa, sebab itu kurang ‘wah’.

Kenyataan itulah yang belakangan ini suka mencuat saat kita memperlakukan figur pahlawan. Perjuangan dan karya pahlawan kita seringkali jadi tereduksi, pada hal-hal yang membuat kita terkesan secara emosional. Pada hal-hal yang terlihat ‘wah.’ Wajar jika kiprah orang seperti Daan Mogot, kini tidak terlalu menarik untuk dibahas.

***
Di sinilah Elias Daniel Mogot menjadi contoh yang relevan untuk menggugat persepsi kita. Mengangkat sosoknya, adalah mengangkat sisi biasa dari seorang yang dijadikan pahlawan. Pahlawan kita ini manusia yang lumrah. Remaja yang malas melanjutkan sekolah karena gaya sekolah berubah, lalu memutuskan untuk sekalian nyemplung ke dinas militer Jepang di usia 14 tahun.

BACA JUGA  ‘Mengusik’ Guru Sekolah Minggu

Daan memang berprestasi, bahkan diangkat jadi instruktur militer di usia 16 tahun. Cukup unik, jika ia dipercaya sedemikian, karena etnis Minahasa yang lazimnya beragama Kristen tidak banyak dapat posisi di tentara Jepang. Mereka dicurigai terlalu dekat dengan Belanda.

Tapi alasannya kemudian bergabung dengan pasukan republik pun amat manusiawi. Sebagaimana diungkap kerabatnya, AE Kawilarang, yang juga tokoh militer Indonesia, motivasi Daan bergabung adalah dendam. Ia sakit hati karena ayahnya pernah ditawan dan disiksa oleh tentara Jepang.

Bagi umat Kristiani alasan ini tentu terdengar tidak religius bahkan kurang bermoral. Bagi orang yang nasionalis ini pun terdengar terlalu ‘sepele’ untuk dijadikan penggerak perjuangan. Daan memang tetap pemuda biasa, tidak mesti dibumbui cap religius atau nasionalis yang muluk.

Dari sisi perjuangan militer nasional, pria yang lahir dua bulan selepas Sumpah Pemuda itu tidak pernah memimpin atau terlibat pertempuran besar. Peran signifikannya bagi perjuangan republik Indonesia ‘hanya’ sebagai penggagas dan instruktur di Akademi Militer Tangerang.

***
Namun disinilah sosok kita ini mewakili banyak pahlawan yang jasanya tidak langsung terlihat wah. Bukan kemenangan di pertempuran kolosal, tapi bergelut dengan keseharian calon prajurit, melatih mereka dari tak kenal senjata menjadi pejuang tangguh di garis depan. Bukan capaian di satu momentum sejarah, tapi kesetiaan di tiap-tiap hari. Bukan sekedar karya menuai sensasi, tapi lebih ke karya esensi.

Ini adalah soal melihat kebutuhan dan tahu menempatkan peran. Tidak semua orang, meski dia mampu, harus tampil di depan. Bayangkan jika semua prajurit republik binaan KNIL maupun PETA saat itu melulu mengurus pertempuran fisik, tanpa menyiapkan kader militer terlatih. Praktis perjuangan revolusi kita tidak akan berlangsung lama.

BACA JUGA  Bumi Lampu Merah

Demikian pula, tidak semua pahlawan harus dinilai berdasarkan seberapa megah karya juangnya, seberapa mentereng atau seberapa terlihat religius dan nasionalis ia. Atau sejumlah sematan ideal kita yang lain. Kita mestinya memberi ruang penghargaan lebih lagi pada mereka yang konsisten berjuang meski terlihat biasa. Mereka yang setia dalam perkara kecil maupun besar.

Dalam suasana peringatan hari pahlawan kali ini, nampaknya bisa jadi momen baik buat kita merefleksikan kembali cara kita mempersepsikan pahlawan nasional. Ada banyak tokoh pahlawan nasional seperti Daan yang seringkali terlupa karena kita tidak melihatnya sebagai sosok yang wah, padahal karya mereka nyata.

Lebih jauh, kita pun semestinya bisa menemukan dan menghargai sosok-sosok serupa Daan di masa kini. Mereka berkarya nyata meski tidak wah. Atau bahkan kata ‘mereka’ itu pun mesti kita ganti dengan ‘kita.’ Karena tiap kita pun dituntut untuk berkarya nyata, wah atau tidak wah, itu bukan esensinya.

Penulis: Basar Daniel Jevri Tampubolon
Sumber Foto: boombastis