Hai … (nama kita), hari ini Aku mau mampir di rumahmu!” Kalimat itu terasa indah, hangat, tetapi juga sekaligus menyejukkan hati kita. Apalagi jika diucapkan oleh seseorang yang berkedudukan tinggi yang rasanya tidak mungkin mengenal kita secara personal.

Demikianlah ucapan Tuhan Yesus jadi sesuatu yang sangat berbeda dari yang biasa didapatkan Zakeus. Sepanjang hidupnya sebagai pemungut cukai, saudara sebangsanya mungkin mencapnya sebagai musuh masyarakat, pengkhianat bangsa, teman sang penjajah, sang pendosa, si pendek, dan banyak ucapan lain yang merendahkan, menghina dan menyingkirkannya.

Panggilan nama yang sangat personal itu lebih dari sekedar panggilan manusia kepada manusia yang lain. Tetapi panggilan Allah kepada manusia, tatapan kasih-Nya yang lembut, penuh belas kasihan, penerimaan dan pengampunan. Bahasa tubuh Tuhan Yesus dan sikapnya yang memperlakukan Zakeus dengan baik, membuat hati, perasaan, jiwanya dipulihkan oleh Tuhan Yesus.

Di kisah tersebut tidak diceritakan apa yang selanjutnya dikatakan oleh Tuhan Yesus. Tidak ada kata-kata ataupun kalimat ancaman, “Bertobatlah, kalau tidak bertobat, neraka menunggumu!” ataupun kata-kata caci maki yang pedas, kemarahan yang terdengar. Bukan pula Tuhan Yesus yang menuntut sesuatu dari Zakheus.

Tetapi, itu sudah sangat cukup untuk memulihkan hati Zakeus dari segala kepahitan, luka-luka, sakit hati, tertolak, kesepian, kehinaan yang selama ini dia alami. Zakheus ingin menyatakan bahwa hidupnya sudah berubah, cara berpikir, perasaan, tindakan yang lama tidak lagi menjadi pola hidupnya.

Pengakuan atas segala kesalahannya selama ini, penyesalannya yang sangat mendalam dan iman yang bertumbuh kepada Tuhan Yesus, menghasilkan suatu kebulatan tekad yang ia buktikan dengan mengatakan bahwa setengah dari harta miliknya ia berikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang diperas dari seseorang akan dikembalikan empat kali lipat. Dua kali lebih banyak dari budaya Yahudi yang mensyaratkan penggantian dua kali lipat.

BACA JUGA  Ronaldo dan Messi Pulang

Apa yang dinyatakan oleh Zakheus mendapat respon dari Tuhan Yesus? Yesus menjawab: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.

Pernyataan itu merupakan pernyataan yang memulihkan kembali, mengangkat Zakheus dimata sesama manusia. Menyatakan bahwa ia sederajat dengan yang lain, ia sama haknya dengan yang lain. Sebagai anak Abraham, bapa orang beriman yang sangat dihormati oleh orang Israel. Ini juga menegaskan misi Yesus, datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Memulihkan kehidupan.

Mari terus menguji dalam kehidupan kita sehari-hari apakah “perjumpaan kita dengan Tuhan” melalui setiap peristiwa hidup menyentuh kita untuk semakin dipulihkan dan juga menjadi pemulih bagi sesama manusia? Biarlah kita belajar dari teladan Tuhan Yesus yang memulihkan, mengangkat dan menerima orang lain.

Penulis: Pdt. Agnes I.S Lukardie (GKI Kebonjati)