Beberapa figur superhero layar lebar memiliki kehidupan dengan dua dunia. Di satu sisi, dia sama seperti orang biasa: memiliki pekerjaan, kehidupan personal, berbagai persoalan yang juga dihadapi kebanyakan orang.

Di belahan hidupnya yang lain, ia adalah manusia berkekuatan super yang memperjuangkan keadilan, menumpas kejahatan. Kostum dan topeng selalu dipakai ketika ia tampil sebagai superhero, agar tidak diketahui siapa identitas aslinya.

Di dalam film mereka dapat menjalani rutinitas orang biasa sekaligus menjadi pahlawan kota, seakan dua identitas itu tidak saling berkaitan, dan para penonton akan terkagum dengan kelihaiannya. Namun, ini tidak berlaku di dunia nyata. Hidup dengan topeng lebih banyak menjadi sesuatu yang membahayakan daripada sesuatu yang mengagumkan.

Di tengah situasi dunia informasi dan relasi yang meluas, setiap orang merancang topengnya masing-masing agar dikenal baik, diterima, dan diapresiasi oleh orang lain. Topeng itu bisa mewujud paling tidak berupa dua hal, yaitu (1) ketakutan yang menghambat kebaikan hati terpancar keluar. Banyak orang yang memiliki nilai-nilai kebenaran di dalam dirinya terlalu kuatir ditentang banyak orang, sehingga akhirnya mereka memilih untuk mengikuti saja arus yang ada.

Atau kebalikannya, (2) topeng itu berupa tameng untuk menyembunyikan keburukan yang disimpan di dalam hati. Nampak baik dan heroik, tapi rupanya ada sejuta kepentingan dan motivasi yang buruk di dalam hatinya.

Pahlawan Tanpa Topeng merupakan tema Kebaktian Raya Kaum Muda pada hari Pahlawan, Minggu 10 Nopember 2019 lalu, menjadi momentum ‘tepat’ bagi para pemuda GKI yang hadir untuk merenungkan makna kepahlawanan sebagai bagian dari perjalanan imannya.

Jangan-jangan, selama ini kita adalah ‘pahlawan bertopeng’. Nampak baik-baik saja, tapi tidak melakukan apa-apa. Atau memegang nilai keadilan, tetapi tidak berani untuk menampilkannya, sehingga hidupnya tidak memiliki dampak bagi tempat dimana ia berada, atau bagi orang yang ada di sekitarnya.

Merujuk Matius 5:13-16, Pdt. Indra Kurniadi Tjandra mengingatkan setiap pemuda tentang identitas anak-anak Tuhan sebagai garam dan terang. Garam sudah barang tentu hadir untuk memberi rasa, dan terang sudah otomatis menerangi kegelapan.

Berdampak adalah identitas kita sebagai seorang Kristen. Tidak ada terang yang disembunyikan, atau garam yang tidak asin. Memperjuangkan kebenaran adalah harga mati seorang pengikut Kristus.

Topeng, entah dalam bentuk kekuatiran atau kemunafikan, hanya membuat manusia berlindung di balik zona abu-abu dan tidak menghasilkan dampak apapun. Terang Kristus yang dimiliki setiap para pengikut-Nya harus terpancar dan memberikan dampak bagi kegelapan dimanapun mereka berada.

Dalam kegiatan itu hadir tiga tokoh nasional sebagai narasumber talkshow memberikan semangat bagi para pemuda GKI. Mereka orang-orang yang berani terjun ke dunia politik dan berdampak bagi bangsa.

Rian Ernest—seorang politikus muda dengan idealisme tinggi—mengingatkan para pemuda agar dapat terus mengawal dunia perpolitikan Indonesia; Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta yang telah memberikan sumbangsih besar bagi DKI Jakarta dengan integritas dan kedisiplinannya mengajak para pemuda untuk selalu berpegang pada apa yang benar.

Dan, Maruarar Sirait, politikus partai dan mantan anggota DPR RI—memberikan semangat kepada para pemuda agar memiliki nilai kejujuran dalam menjalankan amanat bangsa.

Setiap mereka menghadapi tantangannya masing-masing, bahkan tidak jarang menerima penolakan dari masyarakat karena identitas kesukuan dan agama mereka. Namun, itu tidak menyurutkan semangat para tokoh ini untuk tetap memperjuangkan kebenaran di dalam dunia politik.

“Kalau kita sudah memilih satu pilihan yang benar, jangan mudah digoyahkan. Apapun yang terjadi, peganglah kebenaran,” begitu ujar Basuki Tjahaja Purnama. Menjadi pahlawan yang memberikan dampak berarti berani berkorban, sebab kebenaran selalu berhadapan dengan lawan-lawannya.

Menjadi pahlawan juga tidak perlu pakai topeng, karena seorang pahlawan tidak bersembunyi karena takut, apalagi berubah-ubah mengikuti arus. **adm

 

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.