Pada minggu Adven kedua hari ini kita diajak untuk merenungkan makna penantian akan kedatangan Tuhan. Tema yang akan menolong kita untuk memaknai penantian tersebut ialah “Datangnya Zaman Baru.” Apa yang ingin kita lihat dari datangnya zaman baru ini? Apa pula yang terjadi dengan zaman lama dalam hidup kita?

Bacaan Injil menceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan dengan membaptis orang-orang Yahudi. Baptisan diberikan sebagai wujud penyerahan diri untuk bertobat dari perilaku yang menyimpang selama ini. Yohanes menyadari bahwa untuk menyambut kedatangan Tuhan manusia dituntut untuk meninggalkan perilaku lamanya dan berbuah dalam pembaruan hidup.

Di saat ia sedang membaptiskan orang banyak, Yohanes melihat orang Farisi dan Saduki berada dalam kerumunan orang yang ingin dibaptiskan. Yohanes dengan tegas menegur orang Farisi dan saduki dengan sebutan “ular beludak.” Sebutan ular beludak dikenakan bagi mereka karena Yohanes tahu bahwa mereka hidup penuh kepura-puraan dengan menutupi sikap yang menyimpang memakai kedok agama.

Yohanes Pembaptis menyadari bahwa untuk menantikan kedatangan Tuhan setiap manusia baiknya meninggalkan kehidupan lamanya. Ia memberi contoh kehidupan orang Farisi dan Saduki yang terlihat beriman tetapi nyatanya tidak mampu menerapkan iman mereka. Orang Farisi dan Saduki memakai pemahaman agamanya untuk menekan, menindas, dan menghakimi orang pada saat itu. Mereka hidup dalam kepura-puraan untuk terlihat sebagai orang yang beriman.

Sikap kepura-puraan inilah yang ditentang oleh Yohanes pembaptis dalam menantikan kedatangan Tuhan. Yohanes menekankan bahwa ketika memberi diri untuk dibaptis maka kehidupan lama baiknya ditinggalkan. Kehidupan dalam pertobatan akan membuahkan hidup yang baru dimana tidak ada kepura-puraan. Hidup yang jujur dan membuahkan perbuatan kasih sesuai dengan firman Tuhan itulah yang Yohanes ingatkan bagi orang banyak pada saat itu.

Dalam memaknai minggu Adven ini kita sebagai orang percaya kembali diingatkan oleh teguran Yohanes pembaptis kepada orang Farisi dan Saduki. Apakah kehidupan kita yang sudah menerima Tuhan Yesus Kristus benar-benar sudah jujur? Apakah orang banyak dapat melihat Tuhan Yesus Kristus melalui sikap sehari-hari kita? Apakah kita dapat menjadi orang yang mendatangkan zaman baru yang penuh kasih bagi kehidupan sekitar? Pertanyaan tersebut menjadi perenungan kita dalam memaknai masa penantian. Biarlah jawaban atas pertanyaan tersebut semakin mengokohkan kita dalam menantikan Tuhan.

Penulis: Pnt. Galvin Barus (GKI Nurdin)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.