Sahabat Sepanjang Embara,” itulah tema yang diangkat dalam kebaktian peneguhan Ujun Junaedi sebagai pendeta di GKI Guntur. Dalam kebaktian yang berlangsung pada Senin sore (2/12) itu, refleksi tentang perjalanan dan persahabatan menjadi hal yang bertaut mendalam. Terutama dalam tulisan serta khotbah yang dibawakan Pdt. Jotje Hanri Karuh.

Tema ini dipilih sebagai bentuk evaluasi diri. Pdt. Ujun ingin berefleksi bersama jemaat dan pengerja GKI. Memikirkan kembali soal makna tujuan, saat kita menyatakan bahwa kita berjalan bersama Tuhan.

Dalam pelayanan dan perencanaan, kita mungkin seringkali menganggap penting untuk memiliki visi pribadi atau visi pelayanan. Mengandaikan bahwa perjalanan kita haruslah memiliki tujuan yang jelas.

Namun, bagaimana jika tujuan dari perjalanan adalah perjalanan itu sendiri? The Journey is home,” ungkap Pdt. Ujun menukil apa yang pernah dituliskan oleh Pdt. Joas Adiprasetya dalam Labirin Kehidupan. Pertanyaan ini bertolak dari bagaimana Yesus menyatakan diri sebagai Sang Jalan yang satu dengan Sang Bapa yang adalah Tujuan (Yohanes 14:6-9). Di situ kita melihat bahwa Sang Jalan dan Sang Tujuan adalah satu.

Pemahaman ini sekaligus menyadarkan saya bahwa menikmati setiap langkah perjalanan bersama Yesus menjadi hal yang utama, bukan lagi pencapaian pribadi yang terkadang menggunung atau menekan diri, bukan pula rutinitas mati-rasa yang dilakukan tiap hari,” lanjut Pdt. Ujun.

Berjalan bersama Tuhan berarti secara sadar memaknai dan mengakui bahwa perjalanan itu bukanlah soal perjuangan pribadi dengan segala ambisinya, tetapi perjalanan mencapai kehendak-Nya dalam hidup ini.

Itulah mengapa saya memilih kata embara, perjalanan tanpa agenda pribadi yang ambisius,” jelas pendeta lulusan STT Jakarta ini. “Perjalanan ini mengingatkan bahwa kita rapuh dan terluka. Sebuah perjalanan bersama Yesus dan para sahabat.

BACA JUGA  Varian untuk Sekolah Minggu Liburan (2)

Apa yang diunggah oleh Pdt. Ujun ini menjadi perhentian yang layak direnungkan oleh gereja. Di tengah begitu banyaknya tuntutan akan tujuan dan prioritas, tak jarang pelayanan kita seolah tak tentu arah dan membuat frustasi. Kita dituntut untuk punya visi, punya arah, punya ambisi mencapainya.

Alih-alih menghidupi perjalanan dengan memandang Tuhan dan sahabat seperjalanan, kita mungkin abai dan hanya menatap apa yang kita anggap sebagai tujuan. Lupa bahwa tujuan dan perjalanan itu adalah satu adanya. **arms

Ilustrasi: Wordswow