Di masa Injil, berita tentang Kerajaan Allah sudah sering dikumandangkan baik oleh orang-orang Israel maupun orang-orang yang bukan Israel, sebab ia digunakan sebagai komoditas politik, alat untuk mengumpulkan dukungan, komponen penting politik identitas antar faksi di kalangan orang-orang Israel maupun orang-orang yang bukan Israel. Kalau seseorang mau bertahan dalam kekuasaan kala itu, ia harus tahu menempatkan gagasan ini dalam memutarkan roda pemerintahannya.

Ketika itu kekaisaran Roma tidak memilih satu orangpun putra bangsa Israel yang menjadi raja boneka, sebab Roma mengangkat Herodes Agung yang adalah seorang keturunan Edom.

Di bawah pemerintahan Herodes, frasa kerajaan Allah sepertinya menjadi pusat perhatian. Maka Herodes berinisiatif untuk merenovasi bait Allah secara besar-besaran, dengan bahan-bahan bangunan yang spektakuler. Sebab menurut staf khususnya yang terdiri dari orang farisi dan ahli taurat, salah satu tanda berdirinya kerajaan Allah adalah apabila rumah Allah dapat berdiri tegak di tanah yang dijanjikannya.

Setelah renovasi selesai dan Israel dibagi menjadi tiga wilayah kekuasaan dipimpin oleh anak-anak Herodes. Namun, kerajaan Allah tidak kunjung kelihatan.

Di tengah banyaknya kekecewaan, sekarang umat Allah mendengar seorang laki-laki berjubah bulu unta berseru-seru di tepi sungai Yordan, ia memberitakan sesuatu yang baru, tanda kehadiran kerajaan Allah bukan pada dirombaknya Rumah Allah, serta dipersiapkannya pasukan yang militan, tapi dirombaknya hati, pikiran, perkataan dan perilaku umat Allah.

Seruan-seruan pertobatan yang diberitakannya mengguncang penduduk desa dan kota, sehingga orang dari pelbagai profesi datang berduyun-duyun bertanya apa yang mesti mereka buat. Banyak orang takut dan gentar, mereka merasa pemberitaan laki-laki berjubah bulu unta ini bukan sekedar komoditas politik murahan.

Banyak orang meyakini lelaki berjubah bulu unta ini adalah manifestasi nubuatan nabi Yesaya, sebuah suara yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Dan jalan bagi Tuhan tidak terbuat dari dari batu dengan hamparan permadani, tetapi jalan bagi Tuhan adalah perubahan hidup.

Kalau kita menantikan kedatangan Tuhan, tapi kita tidak berjalan di jalan Tuhan maka apa yang kita lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Persiapkan jalan bagi Tuhan adalah identik dengan ajakan berjalanlah di jalan Tuhan, pikirkanlah apa yang disukai-Nya dan lakukanlah apa yang dikehendaki-Nya.

Banyak orang Kristen merayakan Advent tapi tidak berjalan di jalan Tuhan. Mereka berjalan menurut kehendak sendiri. Yang serakah tetap hidup dalam kemaruk dan keserakahnnya, yang pendendam tetap hidup di dalam dengki dan kebenciannya, yang malas tetap hidup dalam apatis dan kemalasannya.

Maka tidak heran ketika mereka merayakan Natal, mereka tidak merasakan sukacita yang hakiki, Natal tidak ubah sebuah perayaan tahunan yang datang dan pergi. Bahkan tidak jarang orang Kristen melewati Natal di dalam dosa: perseteruan, permusuhan, perselingkuhan dan perbantahan.

Tak jarang kita datang kepada Tuhan tanpa pertobatan. Merasa benar karena kita mempunyai jabatan dan kedudukan dalam pelayanan. Merasa tidak bersalah karena sanggup menyembunyikan dosa di balik nama besar yang disandang dan tidak mau meninggalkan perbuatan yang jelas melukai hati Allah. Untuk sikap seperti ini, Allah menegur keras. Sekeras hardikan “ular beludak” yang disematkan Yohanes pada agamawan yang tak kunjung menunjukkan sikap pertobatan.

Penulis: Pdt. Suta Prawira

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.