Cukup banyak gereja, termasuk kita di GKI yang menyelenggarakan kebaktian tutup tahun. Momen ini sering menjadi sarana refleksi akan apa yang tengah dikerjakan. Di sebagian jemaat biasanya sepulang ibadah tutup tahun, di keluarga masing-masing – atau dalam kelompok yang lebih kecil – akan berkumpul berjaga hingga menunggu waktu pergantian tahun.

Sebenarnya kebiasaan ini terbilang baru dalam perkembangan liturgi. Dalam tradisi klasik Gereja Barat malam tahun baru biasanya hanya merupakan bentuk tersendiri dari ibadah tengah malam (vigil). Tidak ada perayaan liturgis khusus untuk menutup tahun. Sebab secara tradisi, tahun baru gerejawi bukanlah jatuh pada tahun baru sipil (1 Januari), namun pada minggu advent pertama.

Meski demikian, momen untuk berkumpul dan instropeksi di akhir tahun ternyata kemudian berkembang terutama selepas tradisi Protestan. Gerakan Moravia dan kaum pietis memulai kebiasaan merayakan malam pergantian tahun dengan berkumpul bersama dalam perjamuan kasih (lovefeast). Hal serupa juga dikerjakan di jemaat Methodis.

Awalnya kebaktian seperti ini diselenggarakan, sebagai alternatif atas kebiasaan masyarakat yang lebih banyak berpesta di malam pergantian tahun. Alih-alih tenggelam dalam pesta-pora yang memabukkan, tradisi pietis yang menekankan kesalehan dan kesederhanaan ini lebih memilih menyikapi pergantian tahun dengan lebih instrospektif. Dalam kebiasaan awal Gereja Methodis, malam pergantian tahun ini biasanya diisi nyanyian pujian, pembacaan firman doa spontan dan kesaksian.

Bagi komunitas kristiani Afro-Amerika, malam pergantian tahun punya makna yang lebih mendalam. Pada malam 31 Desember 1862, kaum Afro-Amerika berkumpul di gereja sembari menantikan pengumuman dan konfirmasi atas penerapan Emancipation Proclamation oleh Presiden Abraham Lincoln. Hal yang terjadi pada awal tahun 1863.

Ibadah tutup tahun memang kini menjadi hal yang lumrah kita temui. Umumnya punya penekanan pada introspeksi diri dan kebersamaan dalam komunitas yang lebih kecil. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.