Panggilan untuk menjadi Kristen autentik semakin menantang ketika kita diperhadapkan pada diri sendiri. Entah saat sendirian, di tengah orang-orang yang tidak kita kenal, saat diburu waktu dan harus mengambil keputusan dengan cepat, berhadapan dengan sikon dan orang yang menyebalkan, atau bahkan kesenangan untuk pemuasan diri, kesempatan, dan keberhasilan yang jelas-jelas ada di depan mata.

Tidak mudah! Karena untuk menjadi Kristen yang autentik – asli, dapat dipercaya, apa adanya – kita tidak hanya harus mengalahkan diri kita sendiri, tapi juga berdamai dengannya, dan akhirnya bersedia berkomitmen untuk berproses bersama Tuhan. Dipertajam oleh-Nya sehingga menjadi autentik, dan bukannya Kristen abal-abal.

Kata-kata yang kita ucapkan bisa saja terdengar indah. Tampilan yang kita tunjukkan mungkin terlihat bagus. Tetapi perbuatan adalah hal yang tidak akan bisa dipalsukan. Mengapa? Karena lama-kelamaan setiap orang akan diperhadapkan pada pilihan untuk melakukan yang benar atau salah.

Kenyataannya, ada banyak yang marah ketika hak pejalan kaki direbut, tapi kemudian menjadi perebut hak pejalan kaki di kemudian hari. Pembenarannya? Banyak. Macet, diburu waktu, yang lain jugamelanggar, dan seterusnya. Ada yang mencaci koruptor dan berlagak seperti hakim bagi sesamanya, tapi kemudian malah berkompromi; menjadi permisif dalam pekerjaan, apalagi kalau itu menyangkut kesejahteraan diri dan keluarga.

Ujian sebenarnya untuk menjadi Kristen autentik sejatinya tidak terletak pada orang dan sikon tertentu tetapi pada diri sendiri. Diri kitalah yang akan memberikan keputusan tentang apa yang akhirnya kita pilih. Pada saat itulah akan terlihat bagaimana sejatinya diri seseorang. Bukankah semakin lama kita berhubungan dengan seseorang atau berada dalam sikon tertentu, akan semakin pahamlah kita bagaimana keasliannya?

BACA JUGA  Melepas Kemelekatan

Oleh karena itu jangan terlalu yakin pada pandangan pertama pada segala sesuatu. Ujilah itu bersama waktu. Selama minggu Advent kita diajak untuk berproses menjadi Kristen autentik dengan menghadapkan diri kita pada pertobatan yang sesungguhnya, bukan hanya nampak luarnya saja!

Pertobatan (Yunani metanoeo), adalah sebuah proses mengubah pikiran untuk sesuatu yang lebih baik dan benar. Sungguh-sungguh memperbaiki diri dengan membenci dosa. Kita tidak akan mengalami pertobatan yang sesungguhnya jika saat ini kita masih menjadi penikmat dosa, bergantung dan membutuhkan hal-hal yang akhirnya membuat kita jatuh dalam dosa, bahkan berkompromi dengan dosa.

Mari kalahkan diri kita dengan bertobat dari dosa-dosa yang kita nikmati dan akhirnya membelenggu diri. Berdamailah dengan diri, dalam kesadaran kita ini adalah orang-orang yang memiliki banyak keterbatasan.

Oleh karena terbatas, bergantunglah penuh kepada Tuhan! Bukannya justru menjadikan itu alasan untuk berbuat dosa. Berproseslah bersama Tuhan dengan melatih diri kita membuat keputusan yang akhirnya menunjukkan iman dan kasih kita pada Tuhan di tengah berbagai sikonyang kita hadapi.Selamat sama-sama berjuang menjadi Kristen autentik!

Penulis: Pnt. Maria Sindhu (GKI Samanhudi)