Quo Vadis Domine?” (Mau kemana Dikau, Tuhan?)

Romam eo iterum crucifigi!” (Aku mau ke Roma dan disalibkan kembali!).

Itulah penggalan dialog visioner antara Petrus dan Yesus yang dicatat dalam catatan apokrif Kisah Petrus. Naskah yang diperkirakan berasal dari abad ke-2 Masehi itu menceritakan bagaimana Rasul Petrus sudah berada di gerbang kota Roma, hendak menghindari penganiayaan terhadap umat Kristen yang dikampanyekan Kaisar Nero (sekitar tahun 60 M).

Namun di gerbang itu pula Petrus bertemu Kristus dalam penglihatan. Momen itu menjadi titik balik, ia kembali ke Roma dan menjadi martir bersama ratusan umat Kristen lain. Catatan Origenes, juga di abad kedua, menambahkan bagaimana Petrus wafat dengan disalibkan secara terbalik. Konon, ia merasa tak layak mengalami kematian dengan cara yang sepantar dengan Gurunya, yang pernah dia sangkali dan umat-Nya yang harusnya digembalakan pun hendak ia tinggalkan.

Jika kita menelaah catatan Perjanjian Baru soal karakter Petrus, narasi-narasi pasca Alkitab ini memang terbilang bersesuaian dalam menggambarkan pribadi Rasul Petrus. Ia amat spontan sekaligus sangat emosional dalam mengekspresikan kasih sekaligus perasaan yang berkecamuk.

Petrus adalah murid Tuhan Yesus yang paling banyak disebutkan di Alkitab, dan menjadi pemimpin dan “juru bicara” para murid. Nama asli Petrus adalah Simeon, nama yang terbilang lazim di masyarakat Israel karena merujuk pada salah satu putra Yakub. Nama itu sendiri berarti “mendengar.” Dalam teks Perjanjian Baru kita lebih sering menemui bentuk Yunaninya yaitu “Simon.

Ia pertama kali diperkenalkan oleh Andreas, saudaranya, kepada Tuhan Yesus. Kemudian, ia dipanggil menjadi murid ketika ia sedang menjala ikan. Dalam catatan Injil Yohanes, Tuhan Yesus memberi Simon nama baru, “Kepha” dalam bahasa Aram, yang berarti batu karang. Sehingga dalam bahasa Yunani nama itu disebut “Petros,” meski terbilang sering juga menggunakan varian Yunani dari Kepha yaitu Kefas.

Petrus adalah salah satu murid terdekat Tuhan Yesus, bersama Yakobus dan Yohanes. Mereka bertiga sering Tuhan libatkan dalam peristiwa-peristiwa penting, tanpa kehadiran sembilan murid lainnya. Misalnya, ketika Ia dimuliakan di atas gunung dan ketika Ia berdoa di Getsemani.

Kepemimpinan Petrus di gereja mula-mula semakin nyata ketika Tuhan Yesus telah naik ke Surga. Petruslah yang memimpin 120 orang murid yang berdoa menantikan turunnya Roh Kudus, dan yang berinisiatif untuk memilih pengganti Yudas Iskariot.

Ketika terjadi pencurahan Roh Kudus pada Hari Pentakosta, dialah yang tampil berkhotbah di hadapan orang-orang Yahudi sehingga 3.000 orang bertobat. Dialah juga yang tampil untuk memberi pengaturan jemaat mula-mula serta memimpin pemberitaan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi.

Ia pula yang pertama kali diutus Tuhan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Sejumlah tradisi gereja Timur, seperti di Antiokhia, Khaldea dan Asyiria merujuk bahwa Rasul Petruslah yang menjadi pendiri jemaat di wilayahnya. Klaim yang juga dinyatakan oleh Gereja Roma.

Tradisi Katolik menyebut bahwa makam Petrus terdapat di dasar Basilika St, Petrus di kota Vatikan, gereja terbesar di dunia dan pusat gereja Katolik. Rasul Petrus meninggalkan warisan berupa Kitab Suci, yakni surat 1 Petrus dan 2 Petrus, pengaruh Petrus juga sangat kuat di dalam penulisan kitab Injil Markus. **arms

Ilustrasi: Catholic Today

 

 

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.