Ernestine Schuman-Heink bukanlah yang pertama bertanya, “Apakah rumah tangga itu?” Tetapi jawaban yang diberikannya adalah salah satu yang paling indah yang pernah dituliskan. Ia berkata:

Atap untuk berlindung dari hujan
Empat dinding untuk berlindung dari angin
Lantai untuk berlindung dari dingin
Ya, namun rumah tangga adalah lebih dari itu

Tawa seorang bayi, nyanyian ibu, kekuatan ayah
Kehangatan hati yang mengasihi
Cahaya bersinar dari mata yang bahagia
Kemurahan hati, kesetiaan, sepenanggungan

Rumah tangga adalah sekolah serta gereja pertama bagi anak-anak.
Di mana mereka belajar apa yang benar, apa yang baik dan apa yang murah hati.
Di mana mereka mencari penghiburan ketika terluka atau sakit
Di mana para ayah dan para ibu dihormati dan dikasihi
Di mana anak-anak diinginkan
Di mana makanan yang paling sederhana cukup pantas bagi raja-raja karena merupakan hasil jerih payah
Di mana uang tidak lebih penting dari pada kemurahan hati yang penuh kasih
Di mana bahkan teko-teko air pun bernyanyi bahagia
Itulah rumah tangga. Allah memberkatinya

Allah meminta kita untuk memanggilNya “Bapa”, dan kehidupan keluarga adalah inti dari Injil. Akibatnya, kitab suci kita banyak membicarakan tentang seperti apa seharusnya rumah tangga yang bahagia itu.

Salah satunya seperti yang tertulis dalam Mazmur 133, dikatakan bahwa sebuah keluarga yang berkenan di hadapan Allah ialah sebuah keluarga yang setiap anggotanya dapat berperan sebagai embun dan minyak. Embun yang mendatangkan kesegaran dan kekuatan bagi setiap anggota keluarga.  Minyak yang mendatangkan kesehatan hati, jiwa dan pikiran.

Dan, yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga kita ialah Yesus Kristus, Allah kita.  Kehidupan keluarga yang baik tidak pernah merupakan suatu kebetulan melainkan suatu prestasi atau hasil yang diupayakan bersama-sama.

Apabila Bapa sorgawi merupakan pusat dari rumah tangga kita, rumah tangga kita akan mencerminkan Dia. Namun terkadang memang menjadi lebih mudah dibicarakan ketimbang melaksanakannya. Itulah sebabnya, Tuhan memberikan kepada kita 66 kitab dalam Alkitab untuk membantu kita supaya terus melatih dan membentuk rumah tangga yang sesuai dengan kehendak Allah.

Panggilan bagi kita sekarang ini ialah menjaga nyala api rumah tangga tetap bersinar terang. Menjaga nyala api rumah tangga berarti membiarkan firman Allah dan kehadiran Allah membimbing jalan kita dan menjaga kasih Allah menyala dalam hati setiap anggota keluarga kita. Sehingga keindahan sebuah keluarga atau rumah tangga dapat kita rasakan.

 

Penulis: Pdt. Jotje Hanri Karuh (Bagai Biji Sesawi)
Foto: pixabay

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.