Bulan Januari seringkali dikenal sebagai bulan yang cukup sibuk bagi lembaga Gereja (khususnya GKI). Karena di bulan Januari hampir semua GKI sedang sibuk menyiapkan program kerjanya masing-masing.

Apa itu program kerja? Secara ringkas, program kerja gereja dapat dikatakan sebagai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh gereja di semua lingkupnya. Hal ini menjadi sangat penting karena program kerja menjadi dasar dalam melakukan kegiatan-kegiatan dengan baik dan terencana.

Fungsi dan kegiatan ini sebenarnya bukan hanya ada pada zaman modern. Alkitab mencatat bahwa saat raja Daud ingin membangun Bait Allah dan Istana, ia juga membuat perencanaan kerja dan menyerahkan rencana itu kepada Salomo agar ia yang kemudian melaksanakan rencana kerja tersebut (1 Taw. 28:11-12).

Ayat 12 menyebutkan bahwa rencana itu dibuat berdasarkan apa yang dipikirkan oleh raja Daud, apa yang menjadi impian dan bayangannya tentang Bait Allah. Inilah yang disebut dengan visi, visi inilah yang menjadi dasar dalam pembuatan perencanaan pembangunan yang kemudian diberikan kepada Salomo untuk dikerjakan.

Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang dan di masa kini? Acapkali kita mengatakan bahwa program yang dibuat adalah sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh jemaat, tapi coba kita lihat kembali program-program kita, apakah betul sudah dibuat sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi?

Banyak dari antara kita yang membuat program kerja sekedar sebuah rutinitas belaka. Maka yang terjadi adalah sekedar menyalin ulang semua program, ganti tahun pelayanannya, naikkan anggarannya dan program kerja selesai dibuat. Firman Tuhan, visi, misi dan tema hanya menjadi sebuah slogan yang menempel di bagian depan buku program, tidak ada kaitannya sama sekali dengan program yang disusun.

BACA JUGA  Pahlawan Tanpa Topeng

Satu kali pada awal tahun 1990-an, terjadi kekerasan geng di Boyle Heights, sebelah timur Los Angeles. Tidak tanggung-tanggung, ada delapan geng yang sedang bertikai di sekitar paroki Dolores Mission Catholic Church. Setiap hari selalu ada korban jiwa dan luka-luka. Suatu hari sekelompok ibu-ibu sedang bersekutu bersama sambil membaca kisah Yesus berjalan di atas air. Kisah itu tercatat dalam injil Matius 14:22-33.

Salah seorang dari ibu itu terkesima dengan kisah ini. Mengapa? Ia menemukan kesamaan antara Matius 14 dengan realita yang sedang terjadi di sekitar mereka. Ibu yang terkesima itu melihat konflik antar geng di Boyle Heights adalah badai (angin sakal) yang terjadi di danau Galilea; orang-orang yang ketakutan dan bersembunyi di rumah mereka adalah murid-murid yang bersembunyi dari badai (angin) itu; suara bising peluru yang dimuntahkan dari senjata-senjata api itu bagaikan petir yang menyambar dalam badai itu.

Kematian terasa begitu dekat. Lalu, Yesus menampakkan diri dan mereka menaruh pengharapan atas keselamatan diri mereka, berharap Yesus akan segera menolong dan menghentikan badai yang ada. Tetapi Yesus berkata: “Keluarlah dari perahu… berjalanlah di atas air!” Masuklah dalam keributan yang terjadi!

Malam itu juga, 70 orang perempuan melakukan peregrinacion, yakni sebuah prosesi mengunjungi satu geng ke geng lain. Para perempuan itu datang dengan membawa makanan, gitar dan yang paling utama membawa cinta kasih. Mereka duduk bersama dengan para anggota geng, makan keripik, minum coke, menyanyikan lagu-lagu lama bersama-sama.

Ini mereka lakukan bukan hanya sekali atau dua kali. Hampir setiap malam para perempuan (ibu-ibu) ini berkunjung ke kelompok-kelompok geng yang ada, sampai akhirnya mereka mendapatkan kepercayaan dan keterbukaan. Para anggota geng bercerita apa yang menjadi latar belakang mereka melakukan tindakan- tindakan kekerasan: keputusasaan karena tidak adanya lapangan pekerjaan, kemarahaan terhadap tindakan-tindakan brutal yang ada, kebencian terhadap kemiskinan, dan sebagainya.

BACA JUGA  Cerita GKI Saat Banjir Jakarta

Para ibu-ibu ini menemukan akar permasalahan yang ada dalam kehidupan mereka. Selanjutnya, bersama-sama mereka, dan gereja yang ada memotori pembangunan sentra-sentra ekonomi kecil. Membangun pabrik torilla, toko roti, pusat penitipan anak, pelatihan pekerjaan, tempat pelatihan penyelesaian konflik, sekolah untuk belajar, badan bantuan hukum, dan sebagainya.

Intinya para ibu-ibu dan paroki Dolores Mission Catholic Church berusaha untuk membuat program dan melaksanakan program sebagai wujud melaksanakan Firman Tuhan yang mereka dengar dan mereka pelajari. Apakah dengan mudah mereka melakukan itu semua? Rasanya tidak, tentunya mereka juga menghadapi berbagai macam tantangan dan hambatan dalam melaksanakannya. Itulah sebabnya dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, ketekunan (loyalitas), pengorbanan (kesediaan untuk memberi).

Pertanyaan yang sama kembali diulang: bagaimana dengan program kerja yang kita susun dan kita buat saat ini? Apakah kita membuatnya sebagai perwujudan dari Firman Allah yang kita ajarkan dan kita pelajari selama ini yang dapat menyapa kebutuhan dan tantangan yang dihadapi Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah dan Sinode? Ataukah sekedar sebuah program yang disusun karena sudah biasa kita lakukan tahun pertahun, tanpa lagi melihat perkembangan zaman, situasi masa kini, kebutuhan dan tantangan Jemaat?

Penulis: Pdt. Engeline Chandra (Bid. Persekutuan BPMK GKI Klasis Jakarta Barat)