Irama lagu Gemufare dengan langgam etnik khas Nusa Tenggara itu digubah menjadi lagu bertema pujian Kristiani. Anak-anak sekolah minggu dengan t-shirt warna kuning cernah itu pun serempak mengajak anggota jemaat menyanyikannya bersama. Tidak hanya warga sekolah minggu, sejumlah kaum dewasa dan para pengerja GKI Sion Tasikmalaya pun turut mempersembahkan nyanyian pujian.

Suasana itu ada pada Minggu (19/1) saat GKI Sion Tasikmalaya merayakan ulang tahun pelembagaan jemaatnya. Tiga puluh sembilan tahun lalu, tepatnya pada 18 Januari 1981, jemaat ini diresmikan sebagai jemaat GKI, yang tergabung dalam Klasis Priangan.

Perayaan syukur ini mengambil tema Bergerak ke Tujuan. Ev. Timothy Soegijanto, yang menyampaikan refleksi dalam perayaan mengangkat cerita tentang pembangunan tembok Yerusalem sebagaimana dikisahkan dalam Nehemia 4:7-15.

Ev. Timothy menekankan bagaimana umat Tuhan diajar untuk terus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai visi bersama dalam jemaat. Sama seperti saat orang-orang Yahudi sempat diganggu oleh komplotan Sanbalat dan Tobia dan orang-orang asing yang ada di Yerusalem, namun mereka tetap berfokus membangun tembok kota.

Apa yang diteladankan Nehemia, patut diperhatikan oleh umat Tuhan masa kini. Bagaimana saat ada rintangan yang nyaris membuat putus asa, namun justru disana perlu terus semakin giat bekerja sembari terus berjaga-jaga.

GKI Sion kini memasuki usia yang semakin matang dalam perjalanan bersama membangun jemaat. Meski masih terbilang muda jika dibanding rekan sekotanya GKI Veteran, atau sejumlah gereja lain di Tasikmalaya, jemaat ini akan terus berupaya bergerak ke tujuan, semakin serupa dengan Kristus yang membangun karya yang kekal bagi sekitarnya. **arms

Foto: Tim Media GKI Sion Tasikmalaya