Kondisi sosial politik bangsa kita beberapa tahun terakhir memang punya sisi yang tidak mengenakkan. Ada cukup banyak berita hoax, yang tak jarang menyangkut isu sensitif seperti agama. Kita perlu tetap menggunakan akal sehat dalam beragama, supaya tidak mudah untuk dihasut dan diperdaya.

Ada pepatah arab yang berbunyi al-dinu huwa al-aql, agama adalah akal. Dalam pengertian ini umumnya pemuka agama menjelaskan bahwa beragama membutuhkan akal, agar manusia tidak terjatuh dalam kepercayaan buta yang bisa menyesatkan. Agaknya kita perlu terus melakukan evaluasi terhadap hidup keagamaan kita, menguji diri dengan pertolongan hikmat yang dari Allah.

Yang perlu kita evaluasi pertama kali adalah terkait identitas keagamaan kita. Ketika Tuhan Yesus mengatakan kamu adalah garam dunia, Ia hendak menegaskan hakikat bahwa kita sudah menjadi garam dunia dan bukan baru akan menjadi garam dunia.

Garam dan terang dunia adalah identitas yang perlu dinyatakan dalam hidup keagamaan kita dengan memberikan pengaruh dan dampak positif bagi sesama disekitar kita. Itu bukan gagah-gagahan kelompok dengan memandang diri hebat atau melihat kelompok lain lebih rendah. Akal sehat mestinya menuntun kita untuk melihat identitas umat beriman dari apa yang dikerjakannya bagi sesama, bukan sekedar labelnya.

Berikutnya adalah terkait tujuan dan makna dari ibadah kita. Orang Yehuda pada zaman nabi Yesaya rajin beribadah, mendengarkan Firman dan berpuasa. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yang harus dilakukan oleh Israel. Namun, puasa yang mereka lakukan tidak diindahkan oleh Allah. Mengapa? Sebab kesalehan mereka tidak disertai dengan melakukan keadilan, mengasihi sesama (kesalehan sosial).

Padahal, hidup keagamaan yang dikehendaki oleh Allah tidak tertuju hanya bagi diri sendiri, tetapi juga harus ditujukan kepada orang lain juga. Artinya, Allah menghendaki agar hidup keagamaan kita bergerak seperti salib, mengarah ke atas (kepada Allah), tetapi juga ke samping (pada sesama).

BACA JUGA  Refleksi di Ulang Tahun UKRIDA ke-53

Hal yang juga penting dievaluasi adalah terkait pesan dan pembawa pesan keagamaan. Dalam surat kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menyatakan, “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rm 10:17).

Perkataan ini mengandaikan ada orang yang memberitakan Firman Tuhan dan mengajak orang percaya untuk terlibat di dalamnya. Pada bagian surat kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus justru mengatakan supaya iman jangan bergantung pada hikmat manusia (si pemberitanya).

Jika kedua kalimat ini dihubungkan, Rasul Paulus sebenarnya hendak mengingatkan agar orang percaya perlu bersikap kritis agar iman yang muncul atas pemberiaan Firman Allah dapat bertumbuh dan berbuah dengan tepat. Orang percaya perlu menguji semua pengajaran yang disampaikan dengan bergantung pada Roh Allah. Itu sebabnya kita pun perlu untuk terus belajar Firman Tuhan agar dimampukan untuk menguji setiap pengajaran yang ada di sekitar kita.

Tuhan telah memberikan kita akal untuk berpikir dengan baik, dan mintalah agar Tuhan juga memberi kita hikmat untuk menguji setiap pengajaran yang disampaikan serta kerendahan hati untuk mengubah apa yang perlu diubah. Tuhan kiranya memampukan kita untuk bertumbuh dan berbuah sesuai kehendak-Nya.

Penulis: Pdt Debora Rachelina (GKI Perniagaan)

Ilustrasi: Stonesoup