Chicken ala Carte adalah sebuah film semi-dokumenter berdurasi enam menit karya sutradara asal Filipina, Ferdinand Dimadura. Kisahnya tentang seorang miskin yang mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tempat sampah restoran cepat saji di kota Manila. Ia lalu memasaknya lagi dan menghidangkan untuk keluarganya. Ada satu adegan yang menyentuh di film. Ketika sang kepala keluarga melarang anak-anaknya makan, sebelum mereka berdoa mengucap syukur lebih dahulu.

Beberapa kali saya menampilkan film ini sebagai bagian dari refleksi, khotbah atau pembinaan dan hasilnya selalu “sukses”. Dalam arti respon penonton sesuai yang diharapkan: terharu, trenyuh, bahkan tak jarang meneteskan air mata. Ada juga yang berkomentar bahwa kini mereka bisa belajar untuk lebih bersyukur dalam segala hal, bahkan dalam kekurangan.

Namun satu kali saya tidak “sukses” ketika memutarkan film tersebut. Itu terjadi dalam sebuah sesi retreat anak-anak sekolah minggu. Alih-alih trenyuh atau meneteskan air mata, hampir semua peserta sesi yang berusia 9-12 tahun (kelas 4-6 SD) tertawa terbahak-bahak. Komentar yang mereka berikan pun bervariasi antara jijik, heran kenapa mereka (anak-anak dalam film tersebut) mau makan sampah yang jorok. Ada pula yang menganggap itu adalah sesuatu yang konyol

Waktu itu saya tidak habis pikir, mengapa reaksi seperti itu yang mereka berikan. Apakah anak-anak ini tidak punya hati nurani melihat orang yang susah hidupnya? Belakangan saya sadar, bahwa hal tersebut terjadi karena saya yang salah “membaca” para penonton/audiens dari film tersebut.

Bagi anak-anak tersebut, yang mayoritas berasal dari keluarga kelas menengah, realitas kemiskinan ekstrim seperti yang digambarkan dalam film tersebut adalah hal yang amat sangat jauh dan tidak bisa mereka bayangkan. Sehingga alih-alih tersentuh, mereka justru melihat adegan itu sebagai hal yang aneh, konyol, tidak higienis bahkan lucu. Bukan karena mereka tidak punya hati nurani, tetapi karena mereka memang tidak bisa berempati terhadap masalah tersebut.

Empati (Yunani ein: masuk dan pathos: perasaan) adalah kemampuan untuk masuk dan memahami apa yang tengah dirasakan oleh orang lain. Empati berbeda dengan simpati (syn: bersama, pathos: perasaan), “bersama-sama merasakan”.

Ilustrasinya barangkali seperti ini. Anda datang ke sebuah rumah duka untuk melayat seorang ibu yang baru kehilangan anaknya. Si ibu menangis meraung-raung, demikian juga beberapa kerabatnya. Terbawa oleh suasana, Anda turut menangis dengan hebatnya. Itu simpati, Anda bersama-sama dengan keluarga berduka turut merasa sedih.

Namun beberapa menit setelah itu, bisa jadi Anda duduk di meja sambil makan kwaci, bercakap dengan heboh bersama beberapa kawan lama yang tak bersua, lalu berswafoto (selfie) sambil tersenyum lebar. Sementara si ibu dan keluarga yang berduka masih menangis di sekitar peti mati, sekitar 7 meter dari tempat Anda asyik berswafoto.

Bayangkan skenario yang lain. Anda datang, duduk di samping si ibu yang kehilangan anak. Anda mendengarkan ia bercerita sambil menangis. Anda tidak mengatakan apa-apa, hanya meletakkan tangan di bahunya dan menemaninya dalam diam. Anda tidak meneteskan air mata, tapi ada rasa sesak di dada karena Anda membayangkan kehilangan seorang anak yang amat dicintai.

Itulah empati, Anda mungkin tidak meneteskan air mata tetapi sungguh merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang beduka dan karena itu tidak ingin melakukan hal-hal yang justru mengusik mereka.

Dalam sebuah ungkapan bahasa Inggris, berempati adalah “put your feet in others shoes” – harafiah “memasukkan kakimu ke sepatu orang lain”, artinya mencoba memahami apa yang dirasakan oleh orang lain.

Injil Yohanes bersaksi tentang Yesus yang menyatakan empatinya kepada manusia, tepatnya kepada keluarga dan kerabat Lazarus.Ketika melihat Maria (saudara Lazarus) dan kerabatnya menangisi kematian Lazarus, maka Yohanes bersaksi “... maka masygullah hati-Nya. Ia menjadi sangat terharu…” (Yoh 11:33).

Yesus memahami kehilangan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara Lazarus. Yesus mengerti rasanya kehilangan orang yang sangat dikasihi. Bahkan Yesus pun menitikkan airmata sebagaimana ditulis dalam Yohanes 11:35 “Maka menangislah Yesus“, salah satu ayat terpendek dalam Alkitab.

Alkitab adalah kisah tentang Allah yang berempati pada manusia. Puncaknya Allah hadir dalam Yesus Kristus, merasakan pergumulan dan keadaan manusia. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita, demikian kitab Ibrani menulis.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita belajar berempati? Sudahkah masyarakat kita menjadi masyarakat yang berempati, khususnya kepada mereka yang menderita, mengalami kemalangan, dll? Ah, kalau kita masih suka menertawai atau menjadikan sebuah bencana, kemalangan sebagai joke – misalkan berbagai joke tentang wabah corona virus seperti yang bisa kita dengan mudah temui di berbagai media sosial – rasanya kok masih jauh…

Penulis: Pdt. Sthira Budi P (GKI Gading Indah)

Ilustrasi: Vox

Author

  • Selisip

    SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.