Dalam sebuah adegan di film Overcomer, Thomas bertanya kepada Harrison,“Siapakah dirimu?” dan dijawab oleh Harrison, “Saya seorang pelatih basket.” Thomas kembali bertanya, “Seandainya hal itu diambil darimu, siapakah dirimu?” Maka Harrison menjawab, “Saya seorang pelatih lari …saya seorang suami … saya seorang ayah …

Sampai akhirnya karena pertanyaan itu terus diajukan, Harrison menjawab, “Saya seorang Kristen.” Mungkin kita tidak ada bedanya dengan Harrison, yang menjadikan ‘Saya Seorang Kristen’ sebagai jawaban terakhir.

Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia,” demikian Tuhan Yesus menjelaskan identitas kita. Garam dan terang adalah dua hal yang sangat kita butuhkan dari waktu ke waktu. Tanpa perlu diiklankan lagi, semua orang mengetahui manfaatnya.

Garam dan terang juga memiliki sifat dan karakter tersendiri yang secara alegoris menarik untuk dikaitkan dengan sifat-karakter-tugas orang Kristen. Misalnya, garam sebagai pupuk untuk menyuburkan dan mengawetkan, menjadi gambaran tugas orang Kristen untuk mencegah kebusukan dan kebobrokan moral. Sifat terang yang menjadi gambaran tugas orang Kristen untuk menyingkapkan kegelapan dan menuntun orang pada jalan yang benar.

Setidaknya ada dua hal penting yang disampaikan Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya mengenai Garam dan Terang ini. Pertama, menjadi orang Kristen bukanlah status belaka, tetapi diikuti dengan karakter dan sifat yang melekat padanya. Tuhan Yesus menegaskan tentang pentingnya menjadi garam dan terang yang memiliki karakter dan sifat sesuai dengan hakekatnya.

Dalam kitab nabi Yesaya disebutkan mengenai umat Israel yang setiap hari mencari Allah, mengenal segala firman-Nya dan rutin berpuasa, namun perbuatan-perbuatan mereka keji kepada sesama.Walaupun secara ritual mereka merendahkan diri di hadapan Allah, namun Allah tidak mengindahkan mereka (Yes. 58:3-4). Layaknya garam yang telah menjadi tawar.“Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”(Mat. 5:13).

Kedua, selayaknya orang Kristen tidak hidup sebagai ‘gated community‘ yang asik dengan dunianya sendiri dan dengan cara beribadahnya sendiri, melainkan hidup untuk membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, serta berbagi dengan sesama. (Yes. 58:6-7).

Terang yang disembunyikan di bawah gantang sama saja dengan garam yang tawar: tidak ada gunanya. Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari masyarakatyang membawa pengaruh dan memberi manfaat bagi dunia. Menjadi garam dunia dan terang dunia bukanlah pilihan hidup seorang Kristen yang sejati.

Tuhan Yesus tidak mengatakan “kamu bisa atau kamu akan menjadi atau kamu memiliki kemampuan untuk menjadi garam dunia dan terang dunia.” Tetapi setiap orang Kristen adalah garam dunia dan terang dunia.

Menjadi garam dunia dan terang dunia adalah sebuah tugas mulia, karena membawa orang lain untuk memuliakan Tuhan. “Demikianlah hendaknya terangmu ber-cahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat. 5:16).

Kiranya dengan banyaknya peristiwa di depan mata kita saat ini, seperti musibah akibat Virus Corona, bencana banjir, orang hilang, kedukaan dan lainnya, menyadarkan kita kembali akan identitas kita.Karena identitas kita akan melekat kemana hati kita melekat pula.

Sumber: Tim Warta GKI Kota Wisata

Ilustrasi: redeemer

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.