Memiliki teman penting sekali bagi perkembangan emosional anak. Kita mungkin pernah mendengar bagaimana anak menceritakan soal teman dekat mereka di sekolah, gereja atau tempat lain. Anak suka menceritakan keunggulan temannya, kelucuan ketika bermain, berbagi makanan, bahkan ketika mereka menyelesaikan konflik, yang menurut ukuran orang dewasa permasalahan tersebut terlalu sederhana dikatakan sebagai konflik. Tapi, itulah keseruan dan keunikan masa kanak-kanak.

Psikolog asal Inggris, Joan Freeman pernah mengungkapkan bahwa anak yang tidak memiliki banyak teman, ternyata sulit bertumbuh menjadi orang dewasa yang seimbang. Sebagai orangtua, kita pun harus menyadari bahwa anak banyak belajar tentang cara berperilaku, istilah-istilah baru, sopan santun dan cara mengatasi konflik dari teman-teman mereka.

Anak dengan karakter bersahabat memiliki modal yang sangat baik bagi pertumbuhan karaktenya. Ia bisa menyesuaikan diri dalam berbagai situasi, disukai orang lain, menghargai perbedaan, peka terhadap masalah sosial dan mampu mengurangi perilaku negatif seperti perundungan (bullying).

Anak-anak belajar dan meniru dari orang tua. Pernyataan ini memang tidak terbantahkan. Namun, selain dari orang tua, anak-anak juga belajar dari teman-temannya. Teman adalah salah satu hal esensial dalam masa pertumbuhan anak-anak. Dari pertemanan, anak-anak belajar banyak hal tentang dirinya sendiri dan kehidupan sosial.

Mungkin saat kita melihat anak-anak sedang bermain-main rasanya biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Namun, di saat itulah anak sedang belajar banyak hal bermakna untuk bekal pembentukan karakternya.

Eileen Kennedy-Moore, psikolog dari New Jersey yang studinya berfokus pada pengasuhan dan perkembangan sosial serta emosional anak-anak, pernah menjabarkan ada empat hal yang dipelajari anak-anak dari pertemanan, yaitu: self esteem, sikap saling melindungi, pemecahan masalah dan empati.

BACA JUGA  Kebangkitan Nasional dan Cinta Indonesia

Saat menginjak usia Sekolah Dasar, anak-anak umumnya sudah memilih teman berdasarkan kesamaan ketertarikan, misalnya: sama-sama suka bermain bola, atau sama-sama menyukai balet.

Pertemanan menyadarkan mereka bahwa mereka disukai dan diterima oleh beberapa orang. Hal itu akan membantu mereka melihat diri mereka sebagai pribadi yang menyenangkan serta dapat menumbuhkan self esteem atau harga diri mereka.

Sementara itu dalam pergaulan keseharian anak, teman adalah seseorang yang hadir di saat senang maupun sedih. Teman dapat membantu anak-anak saat menghadapi masalah. Teman akan melindungi mereka, saat mereka menghadapi sesuatu yang sulit. Anak-anak yang setidaknya memiliki seorang teman, cenderung tidak mengalami depresi serta terlindung dari potensi mengalami bully.

Pertemanan juga memberikan anak-anak kesempatan untuk melatih keterampilan dalam menyelesaikan masalah dan juga mengakhiri perselisihan. Mereka dapat belajar bernegosiasi, berkompromi, memersuasi, serta menerima, memaafkan, dan meminta maaf.

Lebih jauh lagi pertemanan mengajarkan anak-anak untuk bertindak melampaui kepentingan pribadi. Mereka belajar merespons kepentingan dan perasaan temannya yang lain. Hal ini sangat penting agar ia tetap memiliki teman dan diterima oleh temannya.

Anak-anak secara natural atau alamiah memang membutuhkan teman. Pada masa kecil teman itu lebih berfungsi sebagai teman main, jarang berdialog atau berinteraksi secara rasional. Namun saat beranjak dewasa mulailah teman berganti peran atau dengan kata lain mulailah teman-teman itu mempunyai suatu misi khusus dalam pertumbuhan remaja.

Keluarga adalah titik atau ‘basis’ pertama di mana anak mendapatkan keempat hal di atas. Salah satu pedoman yang sering dikutip orang Kristen untuk berteman adalah 1 Korintus 15:33, “Pergaulan yang buruk (atau sebetulnya bisa juga diterjemahkan teman-teman yang buruk) merusakkan kebiasaan yang baik.”

BACA JUGA  Mendidik Manusia di Era Digital

Kata kebiasaan sebetulnya berasal dari kata karakter. Jika diterjemahan bebas: “teman-teman yang buruk merusakkan karakter yang baik.” Teman dapat berpengaruh buruk atau baik. Kriterianya, bukan teman itu baik kepada saya atau tidak, tapi dia itu orang yang secara keseluruhan baik atau tidak dalam hal karakternya. Pengertian ini harus dimiliki oleh anak terutama menjelang remaja, sehingga ia berusaha menilai dan memilah dengan tepat.

Disarikan dari: Pentingnya Teman Bagi Anak oleh Melda Simorangkir (Rubrik Psikologi Mercusuar GKI Kemang Pratama)