Kita saat ini mengenal penyakit kusta atau lepra, sebagai infeksi jangka panjang yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium leprae atau juga Mycrobacterium lepramatosis. Infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, syaraf, saluran pernafasan dan mata. Dalam dunia medis, lepra juga sering disebut sebagai penyakit Hansen, mengacu pada dokter kebangsaan Norwegia, Gerhard Hansen (1841-1912), yang berhasil menemukan bakteri penyebab penyakit ini.

Namun, jika kita membaca teks Alkitab, kerap kali deskripsi tentang penyakit kusta bukan hanya menggambarkan penyakit Hansen ini. Kata Ibrani tzara’ath yang banyak dipakai terutama dalam Kitab Imamat, nampaknya punya spektrum yang luas, mencakup penyakit dan kelainan pada kulit, rambut serta berdampak pada pakaian atau rumah.

Perbedaan ini, selain terkait persepsi dan diagnosis penyakit, juga terutama disebabkan penerjemahan ke bahasa Yunani. Para penerjemah Septuaginta memilih kata Yunani lepra untuk menerjemahkan tzara’ath. Karena sama-sama menampilkan fitur utama berupa kerusakan kulit. Kata ini juga dipakai untuk menyebut beberapa orang yang terkena penyakit kulit di Perjanjian Baru. Hal yang kemudian memberikan asosiasi yang bisa jadi kurang pas dengan apa yang dimaksud masyarakat Israel sebagai kusta atau lepra.

Tzara’ath nampaknya mencakup banyak penyakit kulit. Ilmuan modern, terutama yang berlatar Yahudi, telah mencoba mengidentifikasi paralelisasi gambaran tentang beragam penyakit kulit di Kitab Imamat 13-14 dengan nama penyakit tersebut di masa kini.

Usulan seperti psoriasis (kelainan kulit karena autoimun), seborrhoea (kelainan berupa kulit memerah), favus (kerak yang biasa muncul di kulit kepala), sejumlah varian dermatitis, scabies, morphea (pengerasan kulit) hingga vitiligo (hilangnya pigmen) adalah sejumlah alternatif nama modern untuk menjelaskan varian dari tzara’ath.

Namun, melampaui bentuk fisiknya, dalam Alkitab istilah kusta lebih banyak menyoroti sisi spiritual. Akar kata tzara’ath itu sendiri punya konotasi kesialan atau kutukan. Orang yang terkena kusta tidak sekedar dianggap sakit, namun dinyatakan najis. Penderita kusta tidak hanya merujuk pada pengobatan medis, tapi justru diuji oleh imam. Mereka pun tidak boleh ambil bagian dalam ritual keagamaan.

Dalam perspektif inilah, kisah Yesus menyembuhkan orang kusta bukanlah semata terkait penyembuhan fisik, namun sebuah wujud rekonsiliasi spiritual. Allah membuat kita kembali tahir, lepas dari kutukan relasional, kembali masuk dalam persekutuan ibadah pada-Nya bersama sesama kita. **arms

Ilustrasi: Bereanfamily

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.