Jika kita memperhatikan bahasan teologis awam di Indonesia, terutama sejak perkembangan denominasi Pentakosta dan Kharismatik, permasalahan persepuluhan adalah salah satu hal yang sering diangkat.

Cukup banyak anggota jemaat yang mengalami kebingungan dalam hal persepuluhan. Mereka kerap mendengar dari banyak orang Kristen dari denominasi lain bahwa persepuluhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang Kristen, karena mereka sudah diberkati atau supaya mereka diberkati. Di lain pihak, GKI ternyata tidak mewajibkannya. Lalu, bagaimana harus menyikapinya?

Dalam pengajaran GKI persembahan dipahami secara utuh meliputi persembahan diri (baptisan dan hidup baru setia ikut Kristus sampai mati), persembahan waktu (kehadiran, keterlibatan dalam persekutuan), persembahan tenaga (pelayanan nyata di gereja dan masyarakat) dan persembahan uang.

Persembahan dalam bentuk uang diberikan dalam persembahan di kebaktian-kebaktian, persembahan bulanan, persembahan syukur tahunan, persembahan terkait perayaan hari raya gerejawi, persembahan perjamuan kudus, persembahan sulung, serta persembahan khusus lainnya seperti untuk pembangunan gedung gereja, bantuan untuk korban bencana alam, dana kemanusiaan, dana anak asuh serta persembahan lainnya berangkat dari kebijakan Majelis Jemaat.

Walaupun terdapat rupa-rupa persembahan, sifat persembahan itu sama. Persembahan itu merupakan hal yang tidak diwajibkan karena berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih.

Namun pertanyaannya ialah, mengapa seseorang dapat memiliki kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih? Jawabnya ialah: karena Allah telah “menjumpai”-nya! Allah di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus telah menunjukkan kasih-Nya yang besar. Dengan pertolongan kuasa Roh Kudus, orang akan dimampukan untuk merasakan karya Allah yang menyelamatkan ini.

BACA JUGA  Emeritasi Pdt. Elly L.T Budi

Allah pertama sekali menjumpai manusia melalui Yesus Kristus, Firman yang hidup, juga Firman yang diberitakan gereja, sakramen, dan hal-hal lain yang dikerjakan gereja manakala gereja dengan benar menjadi rekan kerja Allah memfasilitasi perjumpaan itu dengan turut serta memberlakukan karya pembaruan-Nya.

Impresi karya kasih Allah ini kemudian ditanggapi, dijawab, diekspresikan dengan kesediaan untuk berjalan mengikuti Kristus dan menyatakan kasih untuk Allah dan untuk sesama dengan utuh, melalui persembahan hidup.

GKI memaknai persembahan, termasuk persepuluhan, dalam konteks yang demikian. Pemaknaan ini bisa jadi berbeda dengan yang dihayati beberapa denominasi Kristen lain, atau juga umat Yahudi yang mempraktikkan tradisi persepuluhan.

GKI menyadari bahwa konsep persepuluhan dalam Perjanjian Lama memiliki dinamika yang berbeda dengan kondisi maupun penghayatan jemaat Kristen di masa sekarang. Bahkan, dalam perkembangan praktik persepuluhan di jemaat Israel kuno kita pun melihat ada sejumlah pergeseran.

Disarikan dari: Persembahan Sebagai Ekspresi Cinta Kasih (Pdt. Essy Eisen)