Di dalam kisah Perjanjian Lama kita melihat bagaimana persembahan persepuluhan berperan sebagai sebuah sistem wajib terkait kehidupan bakti umat kepada Allah dan sesama.

Meski telah diteladankan saat Abraham memberi persembahan pada Melisedek (Kejadian 14:20), persepuluhan baru diperintahkan kepada Harun dan Musa oleh Allah dalam perjanjian-Nya yang pertama untuk mendukung pembiayaan kebutuhan hidup imam dan bani Lewi berserta keluarganya masing-masing, juga kepada perhatian kepada orang-orang miskin.

Pengaturan tentang persepuluhan dicatat utamanya dalam Kitab-kitab Taurat. Diceritakan bahwa persembahan persepuluhan umat diberikan kepada Tuhan untuk kemudian disalurkan kepada Bani Lewi. Sementara itu persembahan persepuluhan yang diterima Bani Lewi harus dipersembahkan sepersepuluh lagi yang terbaik kepada Tuhan untuk disalurkan kepada imam Harun. Sisa dari persembahan itu baru untuk upah mereka.

Diajarkan pula bagaimana umat setiap tahun menyisihkan sepersepuluh dari hasil tanah. Lalu sepersepuluh dari gandum, air anggur, minyak zaitun serta anak sapi dan kambing domba yang pertama lahir, untuk dimakan di kemah pertemuan sebagai tanda hormat dan kesetiaan kepada Tuhan. Setiap tiga tahun sekali umat Israel juga diperintahkan sepersepuluh hasil bumi di satu kota. Persepuluhan tiga tahun sekali sekota ini diperuntukkan bagi Bani Lewi, orang asing, yatim piatu dan para janda.

Rabbi asal Perancis, Louis Jacobs, menjelaskan bagaimana tradisi persembahan persepuluhan mulai berkembang dari kebiasaan klasik terumah, dimana setahun sekali, petani/peternak memisahkan hasil untuk persembahan unjukkan, diberikan kepada kohen (imam).

Sisa terumah itu disisihkan lagi (ma`aser), dalam sejumlah tahapan, yaitu ma`aser rishon (untuk bani Lewi dan kohen), ma`asher sheni (untuk dibawa/dimakan di Yerusalem), ma`asher ani (untuk orang miskin) dan kemudian bagian yang dikelola kembali untuk petani/peternak.

BACA JUGA  Kebangkitan Mengatasi Ketakutan

Namun setelah bait Yerusalem hancur (70 M) ma`asher sheni ini tidak lagi dimutlakan dan bebas dimakan di tempat petani/peternak tinggal. Lebih jauh, para rabbi kemudian menetapkan hukum persepuluhan hanya berlaku untuk tanah Israel, dan petani/peternak di diaspora tidak memiliki kewajiban untuk memberikan persepuluhan. Meski demikian ada beberapa bukti dari masyarakat Yahudi di luar Israel, yang juga memiliki sistem persepuluhan (seperti pada komunitas Yahudi di Aleksandria, Mesir).

Melihat kenyataan sekarang dimana mayoritas orang Yahudi tidak lagi tinggal di Israel, dan tujuan persepuluhan untuk pemeliharaan para imam dan orang Lewi menjadi kurang relevan, beberapa sumber rabinik membuat referensi tentang pembaruan sistem memberi persepuluhan. Seperti dengan menggunakan uang, meskipun tidak terlalu jelas apakah ini dilihat sebagai kontribusi sukarela atau kewajiban.

Namun demikian, banyak orang Yahudi yang taat yang masih menyumbangkan sepersepuluh dari pendapatan tahunan mereka untuk amal. Hal ini dikenal sebagai ma’aser kesafim, yang dapat disetarakan dengan pajak pendapatan.

Dari ulasan Rabbi Louis Jacobs ini jelas terlihat bahwa praktik persembahan persepuluhan di komunita Yahudi telah mengalami dinamika perubahan yang signifikan dalam kehidupan umat Perjanjian Lama. Terlebih lagi, sejak bait suci di Yerusalem hancur sekitar tahun 70 M yang mengakibatkan pekerjaan imam-imam tidak ada lagi serta kehadiran bani Lewi sulit dilacak keotentikannya.

Bahkan, dalam praktik sejak peraturan persembahan persepuluhan ditetapkan pada zaman Musa dan Harun, ada beberapa kesempatan kala umat Allah sekaligus para imam dan bani Lewi kehilangan makna kasih, keadilan dan kerendahan hati kepada Allah dalam pemberlakuan persepuluhan. Beberapa nabi diutus Allah untuk mengingatkan keculasan hati umat-Nya, seperti nabi Nehemia, Amos dan Maleakhi.

Para nabi itu bukan semata-mata mengingatkan umat Allah untuk memberikan persembahan persepuluhan belaka, tetapi lebih penting lagi, menukik kepada makna terdalam persembahan terkait kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain karena kasih!

BACA JUGA  Siaga dalam Hidup Yang Berkenan

Pemaknaan ini pula yang dihayati GKI terkait persembahan persepuluhan di masa kini. Pergeseran soal kewajiban, metode dan peruntukan persepuluhan adalah hal faktual dan diterima sebagai kenyataan. Demikian pula kasih, keadilan dan kerendahan hati yang melampaui cara dan pewajiban adalah hal yang dituamakan dalam memberi persembahan, termasuk persepuluhan.

Disarikan dari: Persembahan Sebagai Ekspresi Cinta Kasih (Pdt. Essy Eisen)