GKI memang tetap mewadahi jemaat yang ingin memberikan persembahan persepuluhan, namun hal tersebut bukanlah merupakan kewajiban. Dari segi penatalayanan, persembahan persepuluhan yang diberikan, akan diperlakukan sama sebagaimana pada umumnya persembahan uang lainnya. Persembahan akan masuk ke dalam kas gereja untuk kemudian dikelola bagi pembiayaan kegiatan persekutuan, kesaksian, pelayanan, pembangunan iman jemaat dan pengadaan serta pengelolaan sarana penunjang gereja yang bersangkutan.

Di GKI, persembahan persepuluhan tidak diberikan langsung kepada pengerja atau pendeta. Ini karena GKI memahami bahwa persepuluhan kepada orang-orang Lewi dan imam-imam pada zaman Perjanjian Baru dilangsungkan karena mereka adalah kelompok umat yang mengabdikan sepenuhnya hidup mereka bagi komunitas dan mereka tidak memperoleh bagian atas tanah perjanjian. Hal itu berbeda konteks dengan para pendeta GKI sekarang.

Pendeta GKI tidak digaji, jika pemahaman gaji pada umumnya ialah upah yang diberikan di akhir bulan saat selesai melakukan pekerjaan. Pendeta GKI lebih tepatnya dikatakan mendapatkan pembiayaan hidup yang diberikan oleh gereja tempat ia bekerja. Pembiayaan itulah yang biasa disebut biaya kebutuhan hidup dan hal ini bisa dikelola tanpa keharusan persepuluhan.

Dalam praktik di GKI, pemberian persembahan langsung kepada pendeta tidak dilarang, namun juga tidak disarankan. Pendeta biasanya memiliki kesadaran kode etik dengan meneruskan persembahan yang diterimanya untuk dimasukkan dalam kas gereja. Ini dilakukan untuk tetap menjaga agar persembahan kepada pendeta secara langsung tidak menjadi sebuah kebiasaan yang umum.

Dalam pengelolaan persembahannya pun, gereja berupaya memperuntukan segala bentuk persembahan uang bukan semata-mata bagi diri sendiri, atau kepentingan gereja semata, tetapi demi terwujudnya damai dan sejahtera bagi banyak orang melalui kehadiran dan karya gereja.

Sementara itu dari sisi jemaat yang ingin memberikan persembahan persepuluhan, praktik ini dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk disiplin rohani. Disiplin yang dimaksud bukanlah berarti paksaan yang disebabkan dorongan dari luar. Dalam tradisi Kristen, kata “disiplin” dapat dimaknai sebagai olah kemuridan (disciple). Dalam banyak hal, memang kita perlu melatih diri sendiri secara displin. Jadi bukan karena keharusan dari luar.

Persepuluhan dan bentuk lain yang kita ikhtiarkan sebagai disiplin rohani (misal membaca Alkitab secara rutin, berpuasa, berdoa di jam tertentu, mengabdikan waktu untuk pelayanan sosial, dll.) haruslah menjadi tekad batin yang sifatnya internal. Ia merupakan sebuah keputusan bebas yang kita jalankan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu bentuk disiplin rohani, maka terkait praktiknya apakah itu diberikan untuk periode bulanan, tahunan, mingguan atau harian, atau terkait itu dipotong sepersepuluh dari hasil bersih, hasil kotor, atau pengaturan lain, juga apakah diberikan ke gereja atau ke badan pelayanan lain, semua dikembalikan kepada keputusan pribadi warga jemaat.

Yang penting itu semua harus berangkat dari kerendahan hati, ketulusan dan kesadaran untuk berbagi kasih dengan sesama ciptaan Allah dalam ikatan persekutuan yang saling terikat satu sama lain berangkat dari kasih.

Disarikan dari: Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani? oleh Pdt. Joas Adiprasetya (GKI Pondok Indah) dan Persembahan Sebagai Ekspresi Cinta Kasih (Pdt. Essy Eisen)

Author

  • Selisip

    SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.