Saya sempat menghimbau, via laman FB, agar dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus Corona dan demi keselamatan umat serta masyarakat, sebaiknya gereja-gereja, untuk sementara, menghentikan  ibadah Minggu di gedung gereja.

Himpunan massa yang berdesakan, bersesakan dan berdempetan saat ibadah mempertinggi resiko penyebaran virus Corona di kalangan anggota jemaat. Beberapa gereja di luar negeri, termasuk di Korea Selatan, dan di dalam negeri mengalami efek buruk ini.

Sayangnya, himbauan saya itu tidak menimbulkan dialog yang saling mengasah untuk peningkatan kematangan, tetapi ia justru menimbulkan Pro-Con yang panas. Muncul perdebatan emosionil dengan kata dan kalimat yang pedas.

Yang Pro alias yang setuju mengatakan himbauan ini rasional dan penuh hikmat demi keselamatan umat dan masyarakat. Mereka yakin, pertimbangan rasionalitas ini tidak bertentangan dengan iman. Iman butuh rasionalitas dan sebaliknya rasionalitas butuh iman. Keduanya beriringan sekaligus saling mengeritisi.

Iman tanpa rasio bisa menjebak orang pada ketaatan buta dan pembodohan bahkan rentan menjadi korban penipuan. Sebaliknya, rasio tanpa iman berpotensi menciptakan kepongahan atau malah kehidupan tanpa makna.

Yang Con alias yang kontra dan tidak setuju menyatakan bahwa himbauan ini tanda minim dan dangkalnya iman. “Ibadah dilakukan kepada Allah maha kuasa, yang akan melindungi umatnya, mengapa takut ketularan dan mengapa gereja jadi kurang iman sehingga perlu membatalkan ibadah,” nyinyir mereka yang kontra.

Mereka sangat yakin, Tuhan akan mencegah Corona sehingga umatNya tidak akan tersentuh sedikit pun. Mereka bahkan percaya, Corona akan dienyahkan dengan penyembuhan ilahi, bukan dengan penyembuhan via ilmu kedokteran. Bagi mereka, iman tak butuh rasionalitas, bahkan tak butuh ilmu kedokteran. Rasio bertentangan dengan iman.

Pro-Con terhadap isu di atas masih cukup ramai. Diawali dengan masalah ritual: antara menghentikan sementara ibadah Minggu atau meneruskannya seperti biasa. Lalu merembet pada isu iman vs akal. Meskipun melalui FB saya melayani diskusi atau dialog soal ini, tetapi bagi saya ada satu persoalan yang jauh lebih penting daripada menyibukkan diri dengan perdebatan di atas.

Persoalan yang penting itu adalah ini, lebih baik umat mulai mendialogkan atau mendiskusikan strategi yang paling bagus untuk menghimpun seluruh kekuatan dan potensi, baik daya dan dana, untuk merespon krisis kemanusiaan dan krisis dunia ini dalam aksi-aksi nyata.

Menghimpun daya dan dana untuk memperkuat solidaritas sosisl kemanusiaan jauh berguna daripada perdebatan mempertahankan kebenaran versi ego kita masing-masing.

Kenalan saya, ayah dan suami yang baik yang merupakan tiang pondasi satu-satunya ekonomi rumah tangganya, terpapar virus Corona. Seluruh keluarga mengalami pukulan telak dari segala aspek kehidupan: spiritual, fisikal, sosial dan juga ekonomi. Mereka stress dan mengalami frustrasi berat. Mereka sangat membutuhkan ukuran tangan dan bantuan kita.

Orang-orang seperti ini mulai banyak di sekitar kita dan mungkin akan lebih banyak lagi. Oleh karena itu, daripada kita sibuk berdebat soal yang saat ini kurang penting, lebih baik kita mulai mengekspresikan cinta dan solidaritas kemanusiaan melalui aksi nyata bagi siapa pun, terutama bagi mereka yang saat ini sudah menjadi korban Covid-19.

Sekarang bukan saatnya menyelamatkan diri sendiri, tetapi saatnya kita semua saling menyelamatkan.

Toh pada akhirnya, iman kita semua diukur bukan sekedar dari dogma atau doktrin yang kita yakini; bukan juga dari apa yang kita katakan, tetapi melalui apa yang kita lakukan bagi kebaikan sesama dan dunia ini.

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.