Tak dapat dipungkiri, berita-berita bernada negatif terkait penyebaran virus Corona (Covid-19) memang lebih banyak menggaet perhatian kita, ketimbang banyak perkembangan positif yang jelas-jelas ada.

Memang hal serius seperti penetapan pandemi global oleh WHO, atau masa darurat hingga 29 Mei oleh BNPB – bahkan seruan pastoral untuk membatasi kegiatan dan pertemuan ibadah di gereja kita – kerap menimbulkan nuansa yang tegang. Padahal hal tersebut bukanlah diniatkan untuk menebar ketakutan, namun justru menunjukkan perhatian yang lebih dan menjamin keselamatan bersama.

Di sejumlah tempat sebenarnya banyak perkembangan yang baik. Di Wuhan – tempat awal wabah ini merebak – kita telah melihat bagaimana kehidupan warga telah kembali pulih. Kita pun melihat di Taiwan misalnya, tempat yang cukup dekat dengan Tiongkok, namun bisa membatasi penyebaran penyakit. Bahkan di Indonesia, kita mendengar Senin lalu (16/3), tiga pasien pertama yang terpapar virus Covid-19 telah dinyatakan sembuh sepenuhnya.

Berita dan harapan baik demikian perlu mendapat tempat pula di hati kita. Meski ada kesulitan, namun kita dapat menghayati kembali spiritualitas kemanusiaan kita, untuk bisa berjuang mengatasinya.

Jumat lalu (13/3), Br. Richard Hendrick, biarawan Kapusin asal Irlandia, merangkai satu puisi berjudul Lockdown di laman facebooknya, yang kemudian menjadi begitu viral. Pesan yang ia sampaikan memang cukup menyentuh harapan serta sisi kemanusiaan kita bersama dalam menghadapi pandemi ini. Tak ada salahnya jika kita melihatnya dalam versi terjemahan SELISIP berikut ini:

Lockdown
by Brother Richard
Benar, ada ketakutan
Benar, ada isolasi
Benar, ada yang panik memborong barang
Benar, ada kesakitan
Benar, bahkan ada pula kematian

Namun ada yang bercerita di Wuhan
Selepas riuh gaduh menahun
Kita dapat mendengar burung kembali bernyanyi
Selepas berminggu-minggu hening mencekam
Langit tak lagi pekat berasap sendu
Namun membiru-abu cerah

Ada yang bercerita di jalanan Assisi
Orang menyanyi satu sama lain
Nyanyiannya melintas jalan lapang kosong
Mereka tetap membuka jendela
Agar orang-orang yang merasa sendiri
Mendengar suara keluarga di dekatnya
Ada yang bercerita satu hotel di belahan Barat Irlandia
Menyajikan makanan gratis serta mengantarnya ke rumah di sekitar

Hari ini seorang perempuan muda yang ku kenal
Begitu sibuk membagi selebaran dengan nomornya
Ia menyebarnya di sepanjang lorong tetangga
Agar mereka yang uzur bisa meminta bantuan

Hari-hari ini gereja, sinagog, masjid dan kuil
B
ersiap diri demi menyambut
Serta memberi tempat mukim bagi yang tak berumah, yang sakit, yang lemah

Sekalian umat dunia kini melambat diri sembari merenung
Sekalian umat dunia kini melihat sesamanya dengan cara pandang baru
Sekalian umat dunia kini bangun dengan realitas baru

Menoleh pada betapa besarnya jumlah kita
Menoleh pada betapa kecilnya kendali yang kita punya
Menoleh pada hal-hal yang paling bermakna
Menoleh pada Cinta-Kasih

Maka marilah berdoa sembari terus mengingat
Benar, memang ada ketakutan
Namun tidak perlu ada kebencian
Benar memang ada isolasi
Namun tidak perlu ada yang merasa sendiri
Benar memang ada yang panik memborong barang
Namun tidak perlu ada kepicikan
Benar memang ada kesakitan
Namun tidak perlu ada penyakit pada jiwa
Benar, bahkan memang ada kematian
Namun akan selalu ada kelahiran kembali cinta kasih

Bangkitlah pada pilihan yang membuat kita semua tetap hidup
Hari ini, bernafaslah
Dengarkan di balik limpahan kepanikan kita
Ada burung yang kembali bernyanyi
Ada langit yang kembali cerah
Ada musim semi yang selalu akan kembali
Dan kita selalu diliputi Cinta Kasih

Bukalah jendela jiwa
Dan meski kita tak bisa
Saling menyentuh di jalan lapang kosong itu
Bernyanyilah…

**arms
Ilustrasi: Stylist

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.