Sebagai gereja yang mendasarkan diri pada cinta kasih Allah, maka kita semua terpanggil untuk ikut bertanggung jawab. Menghadirkan cinta kasih di tengah krisis kemanusiaan ini dengan turut mendukung semua upaya mengatasi dan mencegah penyebaran covid-19.

Kalimat itu menjadi dasar pemikiran surat pastoral Sinode GKI yang ditandatangani oleh ketua umum BPMS GKI Pdt. Handi Hadiwitanto dan sekretaris umum Pdt. Danny Purnama. Surat ini merupakan rumusan atas beberapa hal yang telah berkali-kali disampaikan sebagai pesan pastoral di tiap Sinode Wilayah GKI maupun di tiap jemaatnya.

GKI menyadari wabah karena Corona (Covid-19) ini telah menjadi pandemi global, juga telah ditetapkan secara nasional untuk menghadapi masa daruratnya. Pemerintah Indonesia sendiri telah menerbitkan protokol kesehatan untuk penangangan kasus ini.

Sebagai bentuk dukungan, BPMS GKI mengimbau agar warga jemaat tidak memandang remeh perihal pandemi dan penyebaran virus Covid-19. Selain karena bahaya dan cepatnya penyebaran virus, wabah ini juga menjadi dukacita dan krisis umat manusia se-dunia. Surat pastoral ini mengingatkan pentingnya protokol kesehatan untuk benar-benar dijalankan oleh warga jemaat GKI dengan sikap yang antisipatif serta kasih dan kepedulian atas krisis ini.

Terkait penyelenggaraan kebaktian Minggu dan sejumlah kegiatan gerejawi yang mengumpulkan banyak orang, GKI menyadari hal tersebut adalah salah satu pusat ekspresi iman dan amat kuat melibatkan warga jemaat.

Namun, kita perlu menyadari bahwa pertemuan dalam jumlah besar tersebut berpotensi menjadi sarana penularan. BPMS GKI, dengan pertimbangan dan informasi valid, termasuk mengacu pada anjuran pemerintah, memutuskan secara prinsip agar kebaktian minggu ditiadakan sampai 29 Maret,” demikian poin kedua surat ini menekankan.

Meski demikian, karena tingkat kedaruratan di sejumlah wilayah tidak sama, pengaturan tentang hal tersebut dapat ditetapkan di tingkat sinode wilayah. Kebijakan ini akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan informasi resmi dari pemerintah pusat dan daerah.

Hal ini pun berlaku untuk setiap kegiatan gerejawi lain yang mengumpulkan orang banyak. Jika benar-benar genting melakukan kegiatan seperti itu, maka kegiatan tersebut harus dengan serius mematuhi protokol kesehatan yang ada. Selama situasi ini pun, diharapkan warga jemaat mengurangi bepergian kecuali untuk hal yang benar-benar penting.

Dalam perspektif BPMS GKI, sikap antisipatif dan kebijakan tersebut, tidak perlu dipertentangkan dengan iman dan keyakinan atas perlindungan Allah. “Beriman bukanlah menjadikan kita bersikap fatalistik, apalagi tidak peduli pada krisis kemanusiaan,” lanjut surat tersebut. “Sekalipun ada perbedaan dalam penerapan, kami meminta agar warga jemaat mengedepankan sikapnya pada kasih dan kepedulian akan orang lain.

Sikap ini juga bukan berarti panik atau ketakutan yang berlebihan. Hal seperti itu membuat orang menjadi tidak peduli pada yang lain dan cenderung mengkonsumsi informasi yang menyesatkan. GKI menghimbau warganya agar mengingat bagaimana kisah Yesus menyembuhkan orang buta di Yohanes 9. Bukan berfokus pada menyalahkan orang lain atau mementingkan diri, namun memberi perhatian besar agar pekerjaan-pekerjaan Allah yang penuh cinta-kasih dinyatakan di tengah dunia (Yohanes 9:3).

Oleh karenanya, sinode gereja ini juga mengharapkan agar warga jemaatnya turut berbagi pada sesama di sekitarnya, yang mungkin terkena dampak ekonomi dan sosial akibat situasi seperti ini.

Semoga Tuhan memampukan umat manusia berpulih. Mari bertolong-tolongan menyelamatkan kemanusiaan dengan hidup yang bertanggung jawab dan peduli pada sesama. Tuhan menguatkan kita semua. Hosiana,” demikian pesan tersebut ditutup. **arms

Disarikan dari: Pesan Pastoral BPMS GKI Berkaitan dengan Pandemi Covid -19.

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.