Himbauan untuk membatasi perkumpulan dalam jumlah besar karena pandemi Covid-19 berimbas pada kebaktian Minggu lalu (22/3). Barangkali ini untuk kali pertama gereja-gereja – termasuk dalam lingkup Sinode GKI – memindahkan kebaktian minggu ke dalam format online.

Lantas bagaimana rasanya?

Seliweran komentar di media sosial dari warga jemaat memang beragam. Ada yang menyebut kecanggungan dan kegagapan teknis karena kali pertama melakukan ini. Ada yang begitu terharu dan bersyukur karena masih ada sarana ibadah. Ada yang menyadari betapa selama ini karena sudah terlalu biasa, kita kurang menghargai ibadah di gereja. Ada pula yang merenungkan ulang, jika demikian apakah hakikat ibadah yang sejati?

Kebanyakan ibadah minggu kemarin sebenarnya menggunakan format yang sama dengan kebaktian minggu biasa. Tak ubahnya siaran live-streaming kebaktian seperti yang selama ini telah diunggah beberapa gereja. Bedanya, kali ini gereja terlihat lengang dan kosong.

Jadi benarlah jika frasa yang umum dijumpai adalah: “memindahkan ibadah ke online,” bukan “mengubah kebaktian Minggu menjadi ibadah online.” Sebab pada hakikatnya, ini adalah siaran kebaktian minggu searah dengan mengharap warga jemaat mengikutinya di tempat masing-masing. Mereka tetap tidak bisa memberikan respon real-time, menandakan kehadirannya.

Bahkan, seperti di sejumlah kanal ibadah online, persiapan untuk syuting ibadah tersebut sudah dikerjakan sebelumnya. Sehingga yang ditampilkan secara streaming hanyalah rekaman kebaktian. Tidak masalah, toh tidak butuh interaksi langsung.

Namun, jika kita meninjau lebih jauh, ada hal yang cukup unik. Di fitur live-chat, warga jemaat cukup banyak yang merespon dengan berbagai gaya. Kegembiraan, rasa haru, kritik-saran hingga upaya saling menyemangati. Sayang hal ini tidak terlalu digubris sepanjang ibadah. Bahkan sejumlah gereja mematikan fitur tersebut karena dinilai mengganggu konsentrasi. Padahal, ini adalah respon genuine warga jemaat yang ingin menunjukkan kehadirannya.

Tentu saja ini berpulang pada bagaimana gereja meyakini dan menghayati ibadah. Jika ibadah memang harus melibatkan pertemuan fisik, maka hal ini tentu tidak perlu direfleksikan lebih jauh. Kita tinggal berupaya dan berharap agar keadaan kembali seperti semula. Jika belum, kita tetap berupaya mengulang format ini.

Namun jika kita merasa perlu ibadah online dalam makna yang baru, benar-benar berkebaktian Minggu secara online, adalah baik jika memakai momen dua sampai tiga minggu ke depan untuk merefleksikan ulang sebenarnya apa yang ingin kita tuju dengan kebaktian Minggu?

Jika sekedar kegiatan mengumpulkan warga jemaat menyembah Tuhan di waktu yang sama, tentu live-streaming sudah cukup. Namun jika kita memaknai ibadah juga sebagai perjumpaan antar sesama maka kita perlu memikirkan lebih jauh bagaimana mewujudkan interaksi dan perjumpaan itu secara online.

Apakah dengan menyediakan waktu untuk menanggapi komentar live-chat sebelum atau di momen tertentu dalam ibadah. Apakah dengan menyediakan waktu untuk warga jemaat di tempat masing-masing terlibat memimpin doa, menyampaikan kesaksian, mempersembahkan pujian, dll. Apalagi sekarang ada sejumlah aplikasi untuk confrence dalam jumlah besar. Bisa juga dalam kanal streaming biasa, namun mempersiapkan beberapa peralatan tambahan yang akan dipakai di rumah warga jemaat.

Tentu saja ini perlu kesiapan dan mungkin penyesuaian untuk beberapa formula liturgis. Misalnya saja salam damai diganti dengan saling sapa emoticon, memberi persembahan dengan scan barcode yang tertampil, atau doa pengutusan yang spesial karena warga jemaat juga diutus ke dunia online.

Syukur-syukur bisa ada aplikasi khusus merangkum semua kebutuhan ini sehingga jadi gedung gereja di gawai. Kalau sudah begitu, nampaknya kita bisa ibadah seterusnya secara online, mungkin perlu sesekali saja berjumpa massal, mengingat momen perjamuan kudus, misalnya nampaknya belum bisa diganti format lain.

Terlalu jauh? Mungkin saja, tapi jika kita meninjau sejarah gereja, khususnya tradisi Protestan, perubahan format dan gaya ibadah adalah hal yang lazim terjadi. Asal bisa menyusun format yang sesuai dengan apa yang diyakini gereja, kenapa tidak? **arms

Ilustrasi: Christian Webhost

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.