Apa yang menjadi topik paling dibicarakan saat ini, baik di dunia maupun di Indonesia? Pasti kita semua setuju, jawabannya adalah COVID-19. Meskipun sejak akhir Januari lalu sudah ramai dibicarakan, namun orang masih berfokus pada pembahasan penyakit yang mewabah di Wuhan, China, yang pada 31 Desember 2019 disebutkan penyebabnya adalah virus corona baru.

COVID-19 (Coronavirus Disease) sendiri baru ditetapkan sebagai nama resmi penyakit yang disebabkan virus corona baru ini oleh WHO pada tanggal 11 Februari 2020 yang lalu, bersamaan dengan penamaan virusnya SARS-Cov-2 (Severe Acute Re spiratory Syndrome Coronavirus 2), yang sebelumnya hanya disebutk sebagai 2019 novel coronavirus (virus corona baru).

Orang-orang di Indonesia seperti dicelikkan matanya saat ada temuan kasus lokal di awal Maret lalu, dan sejak saat itu semua pihak mulai meningkatkan tingkat kewaspadaan dan pengetahuannya tentang COVID-19 ini, dan sampai saat ini menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di berbagai grup media sosial di negara ini.

Mengapa sebenarnya semua orang tertarik untuk membicarakan COVID-19 ini? Karena pada dasarnya pengetahuan kita masih sangat minim tentang hal itu dan informasi masih terus berubah dan dibarui terus-menerus seiring dengan penelitian yang terus dilakukan oleh para ahli.

Mungkin hal semacam itu juga yang terjadi pada orang-orang Yahudi yang melihat orang yang buta sejak lahir tiba-tiba bisa melihat (Yoh. 9:8-34). Mereka penasaran dan sangat ingin tahu apa yang terjadi, siapa yang menyembuhkan, benar tidak ia memang orang yang buta sejak lahir, dan lain sebagainya. Saat itu mereka belum memahami bahwa pekerjaan Allah di dalam Yesus Kristus lah yang menyembuhkan orang buta itu sehingga ia menjadi celik.

Jika saat itu sudah ada media sosial, mungkin kejadian itu akan menjadi trending topic yang mereka bicarakan. Penilaian atau pemikiran manusia cenderung dibatasi oleh apa yang ada di depan mata mereka, apa yang bisa dirasakan oleh panca indra. Hal itu juga yang menjadi dasar pemikiran Samuel ketika ia melihat Eliab anak Isai yang bagus parasnya dan tinggi perawakan, sehingga ia berpikir pastilah Eliab ini yang dimaksudkan oleh Allah untuk diurapinya sebagai raja Israel. Namun Allah berkata lain, Ia melihat hati (1 Samuel 16:7).

Kita sering kali lupa dan tidak menghargai pekerjaan Allah dalam hal-hal ‘sederhana’ yang kita terima setiap hari. Bagi orang-orang yang sehat, oksigen yang ada dalam udara yang dihirup tampak biasa-biasa saja dan bahkan tidak lagi menjadi penting untuk diperhatikan. Namun bagi orang-orang yang mengalami sesak napas, oksigen adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan harus dibeli untuk mendapatkannya.

Kebaktian di gereja yang masih bisa dengan relatif mudah kita ikuti setiap minggunya, sudah menjadi hal yang biasa bagi kita, bahkan sering kali kita melakukannya tanpa melakukan persiapan apapun untuk berbakti kepada-Nya. Namun di saat-saat seperti sekarang ini, di mana kita diminta untuk membatasi diri berkumpul dalam jumlah besar untuk mencegah penyebaran COVID-19, dan tidak bisa berbakti di gereja untuk sementara waktu, baru kita merasakan kehilangan.

Melalui tema kebaktian minggu ini, kita diajak untuk tidak hanya melihat kehidupan sebatas penglihatan mata inderawi semata. Lihat dan syukurilah bahwa pekerjaan Allah di dalam Tuhan Yesus itu senantiasa ada di sepanjang hidup kita.

Sumber: Warta GKI Kota Wisata

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.