Kedua sisi sama-sama diperlukan untuk membangun sebuah jembatan.
– Anonim

Seperti biasa dan dimana-mana, dalam kegiatan-kegiatan gereja bertemulah bermacam orang dengan beragam kondisi. Pula di sebuah gereja di Daegu, Korea Selatan. Seorang ibu (61 tahun) yang mengalami demam terlihat mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja.

Sebelumnya ia telah pergi ke rumah sakit dan diminta melakukan tes Covid-19 (coronavirus desease 2019), namun sang ibu menolak. Bukankah demam adalah hal yang biasa terjadi? Tidak usah kuatir! Selang beberapa hari, karena masih demam juga, ibu ini kembali memeriksakan diri ke rumah sakit. Ia tidak lagi menolak tes Covid-19.

Ternyata, virus tersebut benar ada di dalam tubuhnya. Segera “rute” sang ibu beberapa waktu terakhir ditelusuri, dan ditemukanlah orang-orang yang dalam tubuhnya juga terkandung virus yang sama. Korea Selatan pun mengalami “ledakan” pasien Covid-19.

Yakinlah, ibu yang dikenal dengan sebutan “pasien 31” ini, sama-sekali tidak berencana menjadi penyebar virus. Ia hanya mengikuti acara-acara di gerejanya. Ia hanya melakukan yang diharapkan dari seorang warga gereja. Bagaimana mungkin kesungguhannya bergereja menjadikannya pencetus “ledakan” Covid-19 di negaranya?

Pada waktu yang berbeda, sebuah tabligh akbar dilakukan di sebuah kompleks masjid di Kuala Lumpur, Malaysia. Diberitakan belasan ribu orang menghadiri acara itu, 1.500 orang di antaranya adalah warga asing. Tidak lama setelah kegiatan tersebut, Malaysia mengumumkan menemukan 190 kasus baru Covid. Sekali lagi, yakinlah, mereka yang hadir di sana tidak pernah bermimpi akan terkena dan menjadi pembawa penyakit ke berbagai negara!

Berkumpulnya orang banyak diketahui menjadi jalan bagi penyebaran Covid-19. Itu sebabnya, untuk sementara ini kita diimbau membatasi kegiatan berkumpul. Menunda pameran. Menjadwal ulang seminar. Sekolah dan kerja sedapat mungkin dilakukan dari rumah. Kegiatan-kegiatan keagamaan, terutama yang bersifat menghimpun umat, dialihkan ke dalam bentuk-bentuk lain. Ini yang kita alami di hari Minggu kemarin dan nanti di minggu depan.

Ini bukan soal kurang beriman atau meragukan kuasa Sang Mahabesar. Sebaliknya, ini adalah bentuk meneladani Tuhan Yesus yang tidak mementingkan diri-sendiri dan yang selalu berupaya meringankan beban banyak orang!

Senada dengan kata-kata bijak di atas, perlu peran-serta semua pihak untuk menanggulangi pandemi ini. Rasul Paulus telah lebih dulu menulis, “… dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4).

Kita bersyukur, Tuhan memberi kepercayaan pada gereja (baca: kita!) untuk berperan-serta dalam urusan ini, meski itu harus berarti menjadwal dan mengubah banyak kebiasaan kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan itu!

Penulis: Pdt. Timur Citra Sari

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.