Nampaknya kebutaan adalah kondisi yang lazim ditemui di masyarakat Timur-Tengah pada zaman Alkitab. Yang paling seling dijumpai adalah kasus kebutaan atau penglihatan yang kurang jelas pada orang yang telah berusia lanjut. Hal ini tercatat terjadi pada tokoh-tokoh penting Israel misalnya pada Ishak, Yakub atau Imam Eli. Mungkin karena wajarnya hal tersebut ditemui, penulis kitab Ulangan sampai harus memberi penekanan pada kasus Musa, dimana ia wafat ketika penglihatannya masih sangat baik (Ulangan 34:7).

Untuk masyarakat di zaman itu, penglihatan yang baik nampaknya memang merupakan kecakapan yang begitu penting. Hampir semua pekerjaan penting memang mensyaratkan penglihatan yang baik. Frasa hukum “mata ganti mata,” bukan indra yang lain, adalah bahasa lazim dalam regulasi hukum pidana saat itu. Itu tidak hanya dijumpai pada masyarakat Israel, namun dalam sejumlah naskah hukum Timur Tengah lain, seperti Piagam Hammurabi (1750 SM).

Faktor diet yang kurang sejumlah nutrisi atau pola higenitas mungkin menjadi faktor lain penyebab cukup lazimnya ditemui kasus kebutaan. Meski demikian, Alkitab nampaknya tidak membedakan jenis dan penyebab kebutaan.

Jika dicoba didekati dengan pemahaman kedokteran saat ini nampaknya infeksi mata (trachoma) adalah hal yang mungkin sekali menjadi salah satu penyebab terbesar kebutaan. Demikian pula gejala katarak atau atropi pada bagian mata yang ditemui pada orang berusia lanjut. Kitab Injil juga menulis ada orang yang mengalami kebutaan sejak lahirnya. Atau kemungkinan adanya membran epiretinal, yang dalam bahasa Alkitab disebut sebagai “selaput” yang lepas saat seseorang mengalami kesembuhan.

Walaupun penglihatan dianggap penting, namun orang-orang yang mengalami penyakit terkait penglihatan tidak terlalu banyak disisihkan. Larangan terkait orang buta dalam ritual keagamaan Israel lebih banyak dikarenakan keterbatasan fisik, bukan pengucilan seperti pada penyakit kusta. Sejumlah pemimpin yang mengalami kebutaan pun masih tetap dihargai otoritas dan menjalankan tugasnya.

Meski demikian, orang yang buta sejak kelahiran, sering mengalami pengucilan. Lebih jauh, Alkitab memang memberikan penekanan tersendiri saat kebutaan dikaitkan sebagai bentuk rohani. Kebutaan spiritual adalah hal yang sangat banyak mendapat kecaman di Alkitab. Ini identik dengan ketakmampuan mengenal kehendak Allah, serta sifat yang tidak mempedulikan ketetapan-Nya. Maka kebutaan fisik, apalagi yang terjadi sejak kecil, sering dimaknai sebagai hukuman Tuhan.

Dalam konteks tersebut, penyembuhan Kristus atas orang yang buta seperti pada Bartimeus dapat dimaknai sebagai dua hal yang saling terkait. Pemberdayaan orang tersebut secara duniawi, dimana dia dimampukan dan cakap bekerja. Sekaligus, penyingkapan atas perkara-perkara rohani, dimana Sang Juruselamat mencelikkan mata hati kita yang sebelumnya tidak dapat mengenali kehendak Allah. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.