Melihat percepatan penyebaran pandemi di Negeri kita, melihat dan mendengar kasus-kasus Pasien dalam Pengawasan (PDP) bertambah, bahkan mendengar laporan anggota jemaat satu persatu menjadi suspect, sebagai gembala hati siapa yang tidak terenyuh, ingin berbuat tetapi tidak berdaya.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika semua pihak menyadari bahwa daya tampung rumah sakit tidak akan sebanding dengan laju pertambahan suspect, kecuali masyarakat mengerti fungsi social distancing dalam memutus mata rantai penyebaran, menghambat kurva pertambahan suspect melampaui daya tampung rumah sakit.

Dalam rasa tanggung jawab untuk melindungi masyarakat, dan demikian di dalamnya terkandung panggilan untuk melindungi domba-domba yang Tuhan percayakan, rapat BPMSW GKI SW Jawa Barat, Senin (15/3) memutuskan sesuatu yang bisa mengejutkan banyak pihak, yaitu memindahkan ibadah di gedung gereja ke tiap-tiap rumah, disertai protokol-protokol berkaitan dengan kebaktian-kebaktian pastoral yang tidak bisa dihindarkan.

Ada jemaat-jemaat yang sigap memutuskannya terlebih dulu disertai protokol-protokol penting mengacu pada arahan pemerintah. Ada jemaat-jemaat yang dengan sabar menunggu arahan-arahan BPMSW. Tetapi juga ada jemaat-jemaat yang memberlakukannya dengan berat hati.

Atas respon yang baik dari tiap jemaat, mematuhi himbauan pemerintah sebagai wakil Allah untuk melindungi dan mensejahterakan masyarakat kami diliputi rasa syukur, dan atas jemaat-jemaat yang dapat memahami pesan pastoral yang pertama, menunjukkan bahwa banyak jemaat-jemaat yang bertumbuh semakin dewasa.

Dalam menghadapi pandemi yang menyebar dengan cepat, sebagai gembala pertama-tama kami mengajak agar tiap jemaat memperhatikan arahan-arahan yang disampaikan pemerintah, sebab kepada mereka Allah menganugerahkan orang-orang yang cakap di bidangnya yang berjerih-lelah untuk melindungi masyarakat.

Yang kedua, ketika masyarakat diliputi kepanikan dan lalu dalam sekejap berubah menjadi masyarakat yang tidak mawas diri, ingin selamat untuk diri sendiri dan tidak memikirkan ada orang-orang kecil yang tidak punya daya beli yang memadai, kami menghimbau agar setiap anggota jemaat tetap mawas diri.

Jangan mengikuti arus masyarakat yang dikuasai kepanikan. Jangan menimbun bahan pangan. Jangan menimbun alat-alat kesehatan dan kebersihan. beli secukupnya, supaya harga-harga tidak bergerak naik, bahkan tidak menjadi barang-barang langka di pasaran.

Kalau perlu ketika banyak orang berebut barang yang dianggap penting, biarlah gereja bersaksi dengan membagikan barang-barang yang langka itu kepada banyak orang. Berbagi masker dengan mereka yang tidak punya, berbagi sanitizer dengan mereka yang papa, memecah roti dengan mereka yang tidak lagi bisa membeli segala sesuatu.

Biarlah perjamuan kudus pada Jumat Agung tahun ini dirayakan di tengah masyarakat, dengan berbagi roti, berbagi air minum, berbagi pakaian dengan mereka yang tidak berpunya.

Yang ketiga, ketika kita belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah, ingatlah ada para dokter dan perawat, para medis yang terancam jiwanya untuk menyelamatkan tiap nyawa.

Kalau Anda ingin dekat dengan peristiwa salib ketika melewati masa masa prapaskah, tataplah mereka yang mempertaruhkan nyawa di rumah sakit yang menangani Pasien Covid 19.

Mereka kekurangan alat pelindung diri, padahal anak-anak mereka masih kecil, kehidupan keluarga bergantung pada mereka. Tidakkah Anda tersentuh untuk memikirkan mereka, mendoakan mereka, dan peduli dengan mereka? Sesekali Anda bisa menghubungi rumah sakit, apa yang mereka perlukan dari kita.

Yang keempat, kita semua tahu bahwa pandemi bukan saja mengancam nyawa, tapi juga berdampak pada ekonomi, berdampak pada kehidupan sosial dan politik. Biarlah kita berdoa supaya jangan ada satu pun pihak yang memanfaatkan musibah untuk kepentingan politik yang sempit.

Kita berdoa agar pandemi ini memberikan hikmah yang berharga kepada kita sebagai sebuah bangsa, dan sebagai sebuah gereja yang ditempatkan bersama dengan lembaga-lembaga keagamaan dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.

Yang kelima, kami mendorong tiap jemaat di semua lingkup untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga agama lainnya, lembaga kemasyarakatan yang punya panggilan yang sama untuk menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan di atas bumi milik bersama.

Yang keenam, dalam duka yang dalam kami menyatukan hati bersama dengan anggota jemaat dan anggota masyarakat yang kehilangan kekasih-kekasih mereka oleh karena pandemi yang merebak di negeri kita.

Kami menyatukan hati bersama dengan anggota masyarakat dan anggota jemaat yang sedang berjuang untuk mendapatkan kesembuhan. Dan kami juga menyatukan hati dengan anggota masyarakat dan anggota jemaat yang menjaga kesehatannya dengan baik.

Tuhan Yesus sang kepala gereja ada bersama dengan kita dan menuntun kita semua keluar dari masa-masa sulit untuk menjadi manusia yang dibaharui.

Penulis: BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.

Author

  • Selisip

    SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.