Sejak 22 Maret lalu GKI memindahkan pelaksanaan ibadah minggu di gedung gereja ke rumah-rumah umat. Ibadah dilaksanakan secara daring (online) menggunakan berbagai fasilitas teknologi komunikasi yang ada. Jalannya ibadah direkam, lalu link dibagikan. Hal ini kita lakukan bersama-sama sebagai salah satu cara untuk mencegah penularan Covid-19.

Ini tentu bukan didasarkan karena ketakutan semata, atau sikap kurang beriman. Justru, gereja-gereja melakukannya sebagai salah satu cara iman untuk menjaga kehidupan yang Allah berikan. Sehingga, korban tidak semakin banyak yang berjatuhan. Dengan memindahkan ibadah menjadi secara digital, maka kerumunan orang dapat dihindari.

Sampai kapan hal ini berlangsung? Sampai suasana menjadi baik kembali. Namun, sepertinya memang kita akan melewati segala rangkaian Masa Raya Paskah tanpa ke gedung gereja. Suasana ini mungkin terasa aneh dan janggal. Bahwa orang Kristen berhenti bersekutu dan berkumpul bersama. Beribadah masing-masing di rumah, bukan kebiasaan dan tradisi gereja. Namun, hal itu perlu ditempuh saat ini.

Dalam Efesus 4:3-6 tertulis: Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Inilah panggilan hidup sebagai umat Tuhan, agar terus berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Berhentinya kegiatan bersama di gedung gereja, bukan berarti bahwa kita berhenti memelihara kehidupan satu sama lain. Ibadah Minggu, Persekutuan Doa, Pemahaman Alkitab, rapat-rapat gerejawi, semua pindah tempat ke ruang-ruang digital.

Kini, cara kita memperhatikan satu sama lain saat ini menjadi berubah. Kita tidak bisa mendengar firman dari atas mimbar secara langsung, tapi kita dapat mendengarnya melalui rekaman-rekaman firman yang ada. Kita tak bisa bernyanyi dan berdoa bersama di gereja, tapi kita bisa masing-masing dari tempat kita berdoa, dengan pokok-pokok doa yang sama setiap hari.

Kita tak bisa menjenguk mereka yang sakit, tapi kita bisa mendoakan mereka melalui telpon, chat, atau video. Kita tidak bisa melayat keluarga yang berduka, tapi kita bisa memberikan salam dan doa kita kepada mereka. Kita tak bisa duduk beramah-tamah bersama di gereja, tapi kita bisa mengirimkan pesan-pesan ramah satu sama lain. Kita tidak bisa duduk makan bersama di gereja, tapi kita bisa berbagai resep dan foto makanan kita.

Ada banyak hal yang menjadi berbeda dari cara bergereja yang biasa kita lakukan seperti ketika kita berkumpul di gedung gereja. Namun, Tuhan selalu memberikan kita hikmat untuk mencari cara memelihara ikatan kasih kita satu sama lain.

Hal lainnya, memelihara ikatan kasih itu bukan hanya tentang doa-doa dan ibadah saja. Juga, tentang banyak hal yang kita alami. Ada mereka yang bergumul dengan kondisi sakit dan duka, maka sebagai gereja yang peduli kita juga menopang mereka dalam masa-masa ini dengan informasi atau bantuan yang dapat kita berikan.

Ada orang-orang yang kesulitan secara ekonomi dalam situasi ini, maka sebagai gereja Tuhan kita dipanggil untuk bertolong-tolongan menanggung beban satu sama lain. Ada orang-orang yang tetap harus bekerja, bahkan mereka yang harus bekerja dalam bidang-bidang medis sebagai garda terdepan perjuangan melawan virus corona baru ini, maka sebagai gereja kita mau memberikan dukungan-dukungan terbaik kita kepada mereka.

Semoga semua ini lekas berlalu. Jikapun tidak, maka kiranya Tuhan memberi kita kemampuan untuk bertahan dalam masa-masa ini.

Sumber: Tim Warta GKI Gading Indah

Ilustrasi: Christianity Today

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.