Mereka menelantarkan orang-orang yang mulai kelihatan sakit dan pergi begitu saja meninggalkan kerabat dekatnya… Berbeda sekali dengan saudara-saudari Kristiani. Meski sadar akan bahayanya, mereka tanpa pamrih merawat dan melayani yang sakit. Banyak dari orang-orang sakit itu sembuh, sementara cukup banyak juga saudara kita yang tertular penyakit itu hingga meninggal.

Demikian sebagian catatan Dionisius, uskup Aleksandria, di pertengahan abad ketiga. Dionisius bersama Cyprianus dari Kartage membuat catatan lengkap bagaimana orang Kristen ada di tengah wabah pandemik yang melanda kekaisaran Romawi sepanjang 249-262 M. Di puncaknya, wabah itu bahkan disebut menewaskan 5.000 orang dalam sehari.

Sejarahwan modern menamainya wabah Cyprianus (St. Cyprianus Plague), dari deskripsi yang diuraikan oleh Cyprianus para ahli memperkirakan wabah itu berupa penyakit campak, cacar, filovirus (keluarga penyakit yang menyebabkan demam tinggi dan pendarahan) atau sebangsa flu yang pandemik. Dugaan ini dikaitkan dengan penularan yang cepat, kondisi kulit yang bengkak, tubuh yang lemas dan kurang cairan, demam tinggi serta pendarahan.

Wabah saat itu memang terbilang misterius serta menimbulkan keputusasaan yang besar. Banyak orang panik dan segera menghindar dari orang sakit. Tenaga medis yang ada saat itu sangat kewalahan untuk sekedar memeriksa. Ketakutan akan risiko tertular membuat banyak sekali penderita penyakit yang terlantar.

Di tengah masa itulah, sejumlah besar umat Kristiani melakukan pelayanan berisiko. Tetap merawat yang sakit dengan apa yang ada pada mereka. Hal ini tentu terlihat mustahil. Apalagi saat itu umat Kristiani, meski telah tersebar luas di Mediterania, tak sampai 2% dari penduduk kekaisaran Roma. Ini bisa dianggap sebagai tindakan bunuh diri demografis.

Mereka bukanlah orang-orang yang kebal, sebab banyak dari yang merawat justru tertular dan meninggal. Mereka juga tidak sesumbar soal kuasa Allah yang melindungi. Namun, mereka memiliki kasih dan pengharapan di tengah wabah yang mematikan. Mereka memberi perhatian pada mereka yang paling terdampak dan tak berdaya.

Apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu iman kita tadi tentu patut direfleksikan, apalagi di tengah pandemi global virus Covid-19 saat ini. Hal yang dapat kita pelajari masa kini tentu bukanlah tindakan medis awam yang mereka lakukan. Sebab di masa kini kita telah memiliki pekerja dan pengetahuan medis yang lebih baik.

Namun, kita dapat bercermin dari semangat mereka yang tidak mementingkan diri sendiri dan bersolidaritas menghadapi wabah. Bukan semata demi kepentingan kelompok, mereka melintasi batas, menolong yang paling lemah. **arms

Ilustraso: SOV

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.