Saya akan meminta Tuhan berbelas kasihan. Lalu saya akan melakukan pengasapan, memurnikan udara, mencari obat dan meminumnya. Saya akan menghindari tempat dan orang, di mana kehadiran saya tidak dibutuhkan. Agar saya tidak terkontaminasi sehingga tidak menulari orang lain dan menyebabkan kematian oleh karena kelalaian saya.

Demikian Martin Luther menulis dalam sebuah surat pastoralnya. Saat itu tentu saja belum ada wabah Covid-19 seperti sekarang. Wabah yang dihadapi Luther dan masyarakat Wittenberg pada tahun 1527 itu adalah wabah pes (bubonic plague), pandemi yang telah menghantui Eropa sejak dua abad sebelumnya.

Wabah yang disebut Black Death itu telah membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa selama pertengahan hingga akhir abad ke-14. Sebelumnya, pes telah mewabah cukup besar di Asia dan kemudian Afrika Utara. Di masa Luther, sejumlah pengobatan dan upaya sanitasi komunal sudah diupayakan untuk mencegah penyebarannya. Namun, karena beberapa hal medis terkait penyakit pes itu belum dipahami, wabah itu berkali-kali muncul sebagai epidemi di sejumlah wilayah lokal Eropa.

Dalam surat penggembalaannya itu Luther menegaskan dua hal. Pertama, bukanlah hal yang kurang beriman jika seorang Kristiani memilih untuk menghindari wabah. Ia bahkan menegaskan para pelayan gereja agar tidak menghakimi orang-orang sehat yang memilih untuk menyelamatkan diri ke tempat lain.

Sebagai seorang tokoh agama, Luther juga menegaskan agar upaya pencegahan yang direkomendasikan saat itu dipatuhi oleh setiap warga. Pengasapan dan pemurnian udara, juga upaya menjaga jarak fisik (sekarang kita kenal dengan social distancing) juga dimintanya untuk dikerjakan dengan disiplin. Ia juga menyetujui saat Elector kota meminta agar Gereja dan Universitas Wittenberg ditutup selama wabah.

Namun ada pula penekanan Kedua. Luther menegaskan tanggung jawab komunal masyarakat Kristiani terhadap mereka yang lemah dan terlantar karena wabah. Alih-alih bertanya apa yang akan Yesus lakukan, What Would Jesus Do? – sebagaimana budaya populer Kristen saat ini. Luther menanyakan pertanyaan yang lebih esensial: “Apa yang akan aku lakukan jika yang sakit dan terlantar itu adalah Yesus?

Ia memilih untuk tetap bertahan di Wittenberg menemani umat gembalaannya. Ia juga mendorong agar para pengerja gereja melakukan hal yang sama. Ia meminta keluarga-keluarga yang memilih untuk pergi menghindar wabah, agar memastikan terlebih dahulu kerabatnya terawat dengan baik. Secara khusus ia memohon dan mengapresiasi agar para petugas medis dan pejabat publik menjadi tumpuan bergantungnya masyarakat.

Melayani Tuhan pada hakikatnya sama dengan melayani sesama kita,” demikian Luther menutup bagian surat penggembalaannya ini. Menyimpulkan sikap seorang Kristiani di tengah wabah. **arms

Author

  • Selisip

    SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.