Dalam sejarah, umat Kristiani memang tidak selalu menerapkan sikap yang bijak saat menghadapi pandemi. Apa yang dilakukan oleh Martin Luther di Eropa Modern atau St. Siprianus di era Kekaisaran Romawi bukanlah hal yang selalu dicontohkan Kekristenan. Ada kalanya, komunitas Kristen terjebak dalam kepanikan dan pandangan keliru terkait pandemi.

Semasa Black Death melanda Eropa, terutama di puncaknya pada 1348-1350, umat Kristen saat itu dilanda keputusasaan yang besar. Lebih dari sepertiga penduduk di kota-kota besar meninggal dalam wabah pes tersebut. Biara-biara sebagai pusat keagamaan dan pendidikan nyaris lenyap, karena umumnya warga yang sakit berkumpul disana mencari pertolongan.

Di tengah terbatasnya pengetahuan soal penyakit, orang malah kian banyak mengadakan upacara keagamaan untuk menolak bala. Hal yang malah memperparah wabah karena umumnya mereka melakukannya dengan mengumpulkan massa.

Terbatasnya pengetahuan itu pula yang berujung pada persekusi umat beragama lain. Komunitas Yahudi adalah sasaran terbesar, karena mereka nampaknya tidak terlalu terdampak wabah ini. Padahal, kita mengetahui sekarang, itu lebih dikarenakan masyarakat Yahudi umumnya menerapkan sanitasi yang lebih baik dan mereka tinggal terisolasi.

Di gereja tersebar desas-desus bahwa umat Yahudi sengaja meracuni sumur air yang dipakai warga. Ini berujung pada pembantaian lebih dari 2.000 orang Yahudi di Strasbourg, demikian pula di sejumlah kota lain seperti Mainz dan Cologne. Pada 1351 tercatat sekitar dua ratusan kantong pemukiman Yahudi di Eropa yang dihancurkan serta 350 kasus pembantaian.

Cerita pahit ini menunjukkan bahwa tidak selamanya ajaran kasih dan solidaritas diamalkan oleh para pengikut Kristus di tengah pandemi. Hal ini pula yang membuat kita perlu mawas terkait sikap beragama kita.

Meskipun pahit, harus diakui kejadian ini pula yang perlahan mengubah cara pandang umat Kristen di Eropa. Keberadaan gereja yang sebelumnya menjadi tumpuan dalam menentukan sikap masyarakat mulai dikritisi. Demikian pula jumlah penduduk yang jauh berkurang mendorong inovasi teknologi serta mobilitas penduduk. Dua modal, yang dua abad kemudian memberi ruang bagi gerakan reformasi Protestan di Eropa. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.