Istilah social distancing belakangan menjadi populer seiring adanya pengumuman pandemi global virus Covid-19. Sebelumnya, tem self-isolation juga dianjurkan bagi mereka yang dalam pemantauan dan pemeriksaan terkait virus ini. Tujuannya senada, mengurangi pesatnya penularan penyakit, sehingga kapasitas medis yang ada cukup untuk melayani. Juga agar kelompok yang lebih rentan penyakit terlindungi.

Social distancing ini diterapkan dalam banyak aspek. Salah satunya adalah mengurangi kegiatan berkumpul dalam jumlah besar di tempat-tempat publik, baik kegiatan pendidikan, sosial maupun keagamaan. Itu terlihat di hari Minggu lalu (15/3), sejumlah gereja, termasuk beberapa jemaat GKI meniadakan ibadah Minggu atau menghimbau umat tetap tinggal di rumah.

Di tengah sejumlah jemaat yang tetap melangsungkan peribadatan pun terlihat sejumlah perubahan kebiasaan. Sebisa mungkin mencegah kontak personal terlalu banyak. Misalnya dengan membatasi bersalaman atau mengatur jarak duduk. Tak lupa disediakan hand-sanitizer yang cukup banyak digunakan warga jemaat.

Tentu saja upaya-upaya pencegahan lewat social distancing dan higenitas personal ini adalah hal baik. Terutama di jemaat perkotaan yang punya mobilitas tinggi serta ukuran interaksi yang sangat besar. Sayangnya, tak jarang hal tersebut ditanggapi dengan agak miris.

Ada saja sejumlah orang yang menilai semua upaya tersebut sebagai bentuk sikap “kurang beriman.” Terlalu panik sehingga tidak percaya Allah melindungi umat-Nya dari penyakit. Atau “berkompromi” sampai harus mengubah ritual ibadah (meniadakan salam damai). Sebaliknya, mereka yang melakukan usaha pencegahan tadi pun – mungkin karena tidak terima disebut kurang beriman – menyebut yang ngotot beribadah dengan cara sama sebagai orang yang “beragama tanpa akal.”

Pergunjingan seperti ini, meski tidak sampai cakupan besar, tentu saja terkesan amat kekanakan. Padahal, sejak beberapa waktu sebelumnya gereja-gereja di Indonesia, termasuk di GKI, berkali-kali menyerukan semangat merangkul yang berbeda, mengusung toleransi yang dilandasi kasih Kristiani yang melampaui batasan.

Rasanya bukan kebetulan, jika di GKI tema Minggu Pra Paska III yang diramu dari Yohanes 4:5-42 di kebaktian Minggu kemarin bertajuk Membuka Isolasi, Menjalin Relasi. Jika ditinjau sekilas, kelihatannya ini akan bertolak belakang dengan anjuran social distancing. Masakkan di tengah begitu pentingnya kita membatasi gerak sosial, kita diminta membuka isolasi dan membangun relasi?

Namun, jika kita meninjau hakikat social distancing, sejatinya itu bukanlah melulu soal keselamatan diri sendiri. Dengan menerapkan social distancing, terutama di wilayah padat penduduk dan punya risiko penularan tinggi, kita tidak sedang egois atau takut dan mementingkan diri sendiri.

Kita justru tengah berempati dan bekerja sehati lintas-batas demi mencegah penularan. Kita pun bahu-membahu membatasi jarak, demi empati pada mereka yang lebih rentan tertular. Juga agar fasilitas kesehatan yang merupakan milik bersama, maksimal dipakai oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.

Ini adalah bentuk lain untuk membuka isolasi dan menjalin relasi. Selama ini kita mungkin terbiasa menerapkannya dalam wujud yang “bersuara” seperti bakti sosial, pengobatan gratis, beasiswa, acara bertema keberagaman atau aksi-aksi sosial lain. Tapi bisakah kita kali ini mengerjakannya juga dalam spiritualitas yang “berdiam”? Jika tidak, barangkali selama ini aksi kita menjalin relasi ternyata punya motif agar itu terlihat orang lain semata atau demi kita sendiri beroleh selamat.

Akan jauh lebih baik pula, jika kita meneruskan sikap membuka isolasi namun dalam spiritualitas berdiam tadi dengan sejumlah tambahan. Kita bisa memakainya untuk menguatkan relasi di keluarga atau sekitar yang kecil, mendoakan orang-orang yang terkena dampak penyakit dan mereka yang bekerja mengobatinya, juga membantu – tanpa harus terlihat besar – mereka yang mungkin terkena dampak ekonomi dan sosial yang cukup parah selama social distancing ini (seperti rekan-rekan pekerja harian, pemilik usaha kecil dan para pekerja lepas).

Masa pra-Paska tampaknya momen yang cukup pas untuk memulainya… **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.