“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

– Filipi 4:6

Virus Corona Covid-19 menjadi sebuah trending topic tidak hanya di Indonesia, namun juga dibicarakan di hampir seluruh belahan dunia. Kenyataannya, memang virus ini menyebar dan mewabah di berbagai negara. Per 3 Maret 2020 pk.08.30, tercatat ada 90.428 kasus, sebagian besar terjadi di China. Ada 3117 orang meninggal dunia dan 47.945 dinyatakan sembuh.

Di Indonesia sendiri, orang menjadi panik saat Senin, 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan secara resmi bahwa ada 2 orang yang dinyatakan positif terkena Virus Corona Covid -19. Dapat dimengerti dan dipahami jika ternyata banyak orang men- jadi takut dan panik, karena sebelumnya kita merasa Indonesia masih aman dan kebal terhadap Virus Corona Covid-19 ini.

Kemarin malam, pusat-pusat perbelanjaan dipenuhi orang-orang yang sibuk berbelanja kepentingan sehari-hari. Mereka bukan sekedar berbelanja namun ber- belanja dalam porsi berlebih untuk menimbun di rumah. Saat ini hand sanitizer dan masker menjadi barang-barang langka yang sulit ditemukan karena orang secara panik memborongnya. Tidak hanya itu, perdebatan mengenai penyebaran virus ini dan cara penanggulangannya mewarnai group-group whatsapp.

Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, sangat kecil kemungkinan virus Corona Covid-19 ini menular melalui bersalaman. Sayangnya, saat ini orang-orang dikuasai rasa panik dan tidak lagi mampu mengingat dan berpikir dengan tenang. Akibatnya, beberapa orang sudah tidak lagi mau bersalaman. Jika pada akhirnya bersalaman akan menimbulkan ketidaknyamanan, memang kita tidak wajib untuk bersalaman.

Khawatir adalah sifat manusia yang memang ada dalam diri kita, dengan kata lain khawatir sendiri adalah sesuatu yang manusiawi. Filipi 4:6 mengatakan: ”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Saat ini yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan ketakutan dan kekhawatiran kita. Kita perlu membawa kekuatiran itu dalam doa dan ucapan syukur.

Di tengah situasi dan kondisi yang sekarang tengah terjadi, kita seharusnya bisa bersyukur dan berdoa. Jangan justru terjerumus dalam ketakutan dan kekhawatiran yang berkepanjangan, yang pada akhirnya membuat kita tidak mampu lagi bersyukur.

Saat kita dikendalikan ketakutan dan kekhawatiran, sibuk berbelanja menimbun bahan makanan di rumah kita, hand sanitizer, masker dan lain-lain, kita telah menjadi manusia yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Kepedulian kita terhadap sesama tergilas dalam kekhawatiran kita. Kita sendiri terpenjara dalam ketakutan kita dan tidak mampu lagi berserah, bersyukur apalagi mempedulikan sesama kita.

Saat ini pun, dalam rangka Masa Raya Paskah, sebagian kita sedang menjalani puasa dan pantang. Kita berupaya menahan diri kita. Menjadi sangat ironis jika ternyata kita menjalankan puasa dan pantang namun kita tidak mampu menahan diri untuk tidak belanja berlebihan dan menimbun. Kita mengatakan kita berpuasa dan berpantang namun kita tidak mampu menahan kekhawatiran yang berlebihan.

Kita berpuasa dan berpantang agar bisa menjadi lebih baik dan lebih menjadi berkat, namun kalau ternyata kita sibuk belanja berlebihan, kita malah menjadi batu sandungan dan membuat orang lain menjadi lebih sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.

Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari, demikian yang tercatat dalam Pengkhotbah 1:9. Virus Corona Covid-19 menjadi sesuatu yang menakutkan di tahun 2020 ini, namun jika kita sejenak menengok sejarah kehidupan manusia, ada banyak penyakit yang pada masanya terlihat begitu mengerikan dan menakutkan.

Penyakit kusta di jaman Perjanjian Lama bahkan jaman Perjanjian Baru, menakutkan dan menjijikkan. Mereka yang terkena penyakit Kusta dibuang dan terasing dari tatanan sosial yang ada. Namun ternyata sekarang orang sudah lebih menerima dan memahami penyakit kusta. Penyakit sampar dalam Alkitab adalah penyakit yang menakutkan, namun dalam perjalanannya, manusia menembukan obat penyakit sampar bahkan mampu menganalisa sebabnya.

Virus Corona Covid-19 ini ternyata bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Menurut penjelasan Dr. Wani Devita Gunardi, rektor UKRIDA, ada tujuh tipe virus Corona. Tiga diantaranya yang belakangan mewabah adalah SARS (tahun 2003), Mers Cov atau flu Unta yang mewabah di Timur Tengah (tahun 2012), dan Covid-19 yang sekarang kita hadapi bersama.

Dibandingkan dengan dua virus sebelumnya, tingkat kematian dari orang yang terjangkit Covid-19 relatif kecil (2-3%) dibandingkan dengan SARS (10%) dan Mers Cov (30%). Namun demikian, daya penularannya lebih tinggi dari SARS.

Jadi, tidak ada sesuatu yang baru. Karena itu, di tengah-tengah pengulangan sejarah, di tengah-tengah seolah déjà vu kehidupan, kita perlu yakin bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan, Sang Empunya Kehidupan, memelihara hidup kita dan memampukan kita untuk bertahan.

Karena itulah, di tengah ancaman Virus Corona Covid-19 yang tengah kita hadapi bersama, kita berupaya untuk tetap tenang, tidak dikuasai oleh kekhawatiran yang berlebihan namun tetap bersyukur dan berdoa, tetap meyakini Providentia Dei (Pemeliharaan Tuhan) yang melampaui akal dan pikiran kita. Tidak ada sesuatu yang baru di bawah langit. Jika dunia terus berlangsung sampai saat ini maka kita meyakini Tuhan, Sang Pencipta itu hadir dan terus memelihara. Ia tidak pernah berhenti berkreasi dan memelihara.

Sehubungan dengan situasi yang terjadi karena kepanikan melanda sebagian masyarakat Indonesia, ijinkan kami menyampaikan beberapa hal:

  1. Jangan panik dan jangan bereaksi berlebihan. Reaksi yang berlebihan malah akan membuat suasana semakin tidak terkendali. Mari menyebarkan ketenangan dan kedamaian. Kami menghimbau rekan-rekan untuk menyebarkan berita-berita yang menenangkan dan pesan-pesan positif bukan sekedar meneruskan berita-berita yang membuat panik bahkan belum diketahui kebenarannya.
  2. Salam Damai dapat diganti dengan menyilangkan tangan kanan di dada kiri. Ini dilakukan karena banyak orang merasa tidak nyaman dengan salaman. Virus Corona Covid-19 sendiri sangat kecil kemungkinannya menular melalui salaman. Virus ini menular melalui droplets (air liur). Yang penting adalah jangan mengusap wajah dengan tangan yang kotor. Cucilah tangan anda dengan benar.
  3. Jika anda dalam kondisi demam atau batuk, maka beristirahatlah. Kenakan masker jika anda batuk. Jangan sampai anda menularkan virus kepada orang di sekitar anda sekali pun memang belum tentu virus Corona.
  4. Jagalah kebersihan diri termasuk kebersihan tangan. Bawalah hand sanitizer jika berpergian.
  5. Jagalah kesehatan anda. Makanlah makanan bergizi, beristirahat cukup dan berjemur di bawah sinar matahari.

Mari tetap tenang, jangan khawatir, bersyukur, berdoa supaya keadaan semakin baik dan virus Corona Covid-19 ini dapat tertangani dengan baik.

Penulis: Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah GKI SW Jabar

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.