Fasilitas kesehatan yang biasa kami kunjungi untuk berobat, pada hari Jumat, 27 Maret 2020 tampak berbeda. Tentunya ada kaitan dengan upaya menanggulangi Covid-19. Pintu masuk pengunjung dan calon pasien yang mau berobat dibuat satu pintu. Ada meja-meja dan tenda khusus untuk skrining yang disiapkan. Di meja-meja tersebut ada perawat dan dokter yang menyapa pengunjung dan calon pasien dan bertanya apakah memiliki gejala serupa Covid-19, memiliki kontak dengan pasien Covid-19 atau baru bepergian dari luar negeri selama 2 minggu terakhir. Pada hari itu, para petugas kesehatan memakai Alat Perlindungan Diri cukup lengkap, termasuk Face Shield atau plastik pelindung wajah. Satu-satunya petugas yang hanya memakai masker adalah petugas keamanan yang bertanggung jawab untuk mengukur suhu tubuh pengunjung dan/atau calon pasien serta mengarahkan mereka untuk mencuci tangan menggunakan hand sanitizer.

Namun pada keesokan harinya, di pagi hari, saat saya mengunjungi kamar tempat putra kami dirawat, di area skrining tampak ada pemandangan yang berbeda dibandingkan hari sebelumnya (Jumat). Para petugas kesehatan di area skrining tidak lagi memakai Face Shield. Hanya APD (berupa jas hujan, masker, sarung tangan) dan goggles (kaca mata).

Saya tidak terlalu percaya pada apa yang namanya kebetulan. Sore harinya, sekitar pukul 4, saat saya sedang mendampingi putri kami di pastori,  muncul chat WA di gawai saya dari Pnt. Herbert Sidjabat (penatua pendamping di Pokja Demuda dan juga Komunitas Wilayah Berdoa GKI Kayu Putih). Ia mendapat masukan dari seorang anggota jemaat di wilayah tempat tinggalnya, agar warga jemaat digerakkan untuk memproduksi Face Shield sederhana dari bahan plastik mika (ukuran A4 landscape) dengan ketebalan 0,3 – 0,5 mm, karet elastik, dan busa (tebal 2 – 3 cm). Biayanya diperkirakan tidak terlalu mahal, namun berdaya guna.

Dug… hati ini sepertinya gelisah antara menerima masukan tersebut atau mendiamkannya. Menerima masukan tersebut berarti saya harus sedikit repot (berkordinasi dengan para pihak terkait dana, pengerjaan, pengiriman dsb.). Sementara mendiamkannya menjadi pilihan yang masuk akal bagi saya saat itu. Saya sedang kurang berdaya, mengingat harus bolak-balik ke rumah sakit guna mengirimkan keperluan istri dan putra kami, serta menjaga putri kami di pastori.

Namun rupanya pilihan yang pertamalah yang saya lakukan. Jempol dan jari-jemari tangan ini sepertinya “gatal” untuk meneruskan informasi tersebut ke dr. Katya Saphira – anggota jemaat yang juga merupakan Sekretaris Pokja Kesehatan GKI Kayu Putih. Tujuannya adalah untuk mendapatkan konfirmasi apakah Face Shield sederhana di atas bisa terpakai / bermanfaat bagi para petugas medis atau tidak. Ternyata, Face Shield sederhana ini bisa dimanfaatkan oleh para petugas medis di lapangan (termasuk di bagian poli), namun bukan untuk di Ruang Isolasi.

Apa yang diungkapkan oleh dr. Katya tersebut, lantas saya coba sampaikan di WA Grup Demuda (Dewasa Muda) GKI Kayu Putih. Ternyata, gayung bersambut. Beberapa aktivis mendukung ide pembuatan Face Shield  tersebut. Ada 1 aktivis kami, namanya Eriko Hermawan, yang pekerjaannya adalah memproduksi aneka merchandise untuk promosi perusahaan dan kegiatan. Dia memiliki perlengkapan kerja yang cukup lengkap (seperti: mesin potong busa dsb.). Dia menawarkan diri untuk membantu belanja bahan-bahan, memotong aneka bahan, sehingga siap dirakit.

Saya lantas mengajak para aktivis Demuda untuk turut berpartisipasi, entah dana, entah daya untuk merakit aneka bahan tersebut. Di luar perkiraan, sambutannya sangat positif. Dalam sekejap sudah ada beberapa yang menghubungi secara pribadi untuk berkomitmen membantu. Malah dana sudah ditransfer ke rekening GKI Kayu Putih dengan berita dan kode khusus.

Puji syukur, putra kami bisa keluar dari rumah sakit pada hari Senin, 30 Maret 2020. Saya pun bisa fokus untuk mengkordinir proyek pembuatan Face Shield ini.

Selain bantuan dana, sejumlah orang juga mendaftarkan diri untuk membantu merakit Face Shield di rumah-rumah mereka (home made deh jadinya). Produksi pun mulai berjalan sejak hari Rabu, 1 April 2020. Persoalan lantas muncul: ke mana barang-barang akan disalurkan. Ah… ini memang kebiasaan di GKI yang diajarkan beberapa pendeta senior saya (alm. Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya dan Pdt. S. Davidy Jonazh – Ketua Umum BPMSW GKI SW Jawa Barat): “memanah lebih dulu”, baru dibuat lingkaran-lingkaran sasarannya.

RSUD Koja (Tahap I)
RSUD Koja (Tahap I)

Ketika hal ini saya sampaikan di WA Grup BPMSW GKI SW Jawa Barat, laporan muncul tentang kebutuhan Face Shield di RSUD Koja. Lalu, ketika saya tanyakan kepada dr. Katya, permohonan serupa muncul dari Tim Siaga Medis GKI Kayu Putih. Hal ini menjadi pemicu semangat bagi kami untuk terus memproduksi, mencermati kualitas produk, mendata kebutuhan, menyalurkan Face Shield melalui berbagai sarana: baik diantar oleh kendaraan operasional gereja maupun pengemudi ojek online (ojol). Sampai dengan berita ini ditulis, telah disalurkan sejumlah 303 buah Face Shields dengan 19 penerima (baik faskes seperti: rumah-rumah sakit, puskesmas, petugas keamanan GKI Kayu Putih maupun perorangan tenaga medis yang membutuhkan).

RSUD Tanah Abang

Kalau hal-hal ini bisa kami kerjakan, semuanya berawal dari hati yang terbuka oleh gerakan cinta kasih. Melalui hati yang terbuka itulah, banyak wajah dapat tertutupi dari potensi paparan SARS-Cov-2, penyebab Covid-19.

Kiranya hal-hal ini dapat menjadi inspirasi bagi kita bahwa berdiam diri di rumah (#stayathome) tidak berarti berdiam diri tak berdaya. Kita bisa tetap mengerjakan sesuatu untuk mewujudkan damai sejahtera yang menjadi misi Allah bagi kita. Soli Deo Gloria.

Author