“Pah, virus Corona sudah mulai masuk dan merebak di kota kita. Kalau Pemerintah Daerah memutuskan Lockdown, bagaimana pah? Terus kita nanti makan apa?” Tanya istri dari Pak Surya dengan penuh kuatir.

“Tenang, mah! Semenjak kita memutuskan untuk tidak makan nasi putih, kan kita tidak pernah membeli beras lagi.” jawab Pak Surya pada istrinya dengan enteng. Pak Surya dan istrinya memiliki potensi penyakit Diabetes dan sudah setahun mereka tidak mengkonsumsi nasi putih.

“Iya, pah! Tapi masa kita tidak membeli dan menyimpan makanan lain untuk persediaan selama Lockdown” desak istri Pak Surya.

“Mah, coba mamah hitung tanaman sayur hidroponik yang kita tanam di atas dak rumah! Kira-kira cukup untuk berapa hari?” Pak Surya berupaya menenangkan istrinya.

“Ehm… ya… mungkin sekitar 2 minggu, pah” jawab istri Pak Surya sambil membayangkan sayuran hidroponik yang ia tanam selama ini.

“Tuh, kan cukup untuk kita berdua selama 2 minggu!” Pak Surya pun tersenyum lebar. Lanjutnya, “Coba sekarang mamah bayangkan! Kalau kita ikut-ikutan memborong dan menimbun bahan makanan, kan kasihan orang yang malah membutuhkan bahan makanan jadi tidak kebagian. Padahal anak cucunya banyak sekali! Bisa-bisa mereka jatuh sakit, bukan sakit karena virus Corona, tapi sakit karena kelaparan, nggak bisa membeli makanan.”

“Betul juga, ya pah!” istri Pak Surya mengangguk-angguk.

“Gara-gara diborong dan ditimbun oleh orang yang punya uang banyak, malah orang lain jadi kelaparan!” kata Pak Surya kepada istrinya. “Kita berdoa saja supaya masalah virus Corona segera berakhir. Kitapun senantiasa dicukupkan dengan makanan yang ada, bahkan kita bisa berbagi pada tetangga!” ajak Pak Surya pada istrinya.

*******

BORONG DAN TIMBUN

Pernahkah membayangkan jika di tengah masyarakat terjadi kelangkaan bahan makanan? Apa yang akan terjadi? Bisa dipastikan akan terjadi rebutan makanan, kerusuhan, penjarahan, pencurian, perampokan. Akan ada banyak tindak kejahatan yang terjadi di tengah kelangkaan bahan makanan. Dalam keadaan kacau-balau akibat ketiadaan bahan makanan, siapapun bisa menjadi salah satu pelaku atau korban tindak kejahatan tersebut.

Kelangkaan bahan makanan, itulah yang menjadi salah satu kekhawatiran masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Ketika korban infeksi Covid-19 mulai berjatuhan, sebagian orang mulai panik, khawatir, dan takut. Kepanikan, kekhawatiran, dan ketakutan mereka diungkapkan dengan mengunjungi swalayan-swalayan untuk memborong bahan makanan: beras, mie instan, tepung terigu, roti, minyak, gula, Frozen Food/makanan beku, dll. Makanan-makanan itu diborong dan ditimbun, entah untuk konsumsi pribadi, entah untuk mencari keuntungan dengan menjual kembali pada orang lain. Bisa jadi apa yang diungkapkan oleh Aming, seorang aktor dan komedian terkemuka di Indonesia, ada benarnya juga. Aming menuliskan di Instagramnya: “Pada akhirnya bukan Corona yang membunuh kita, tapi saudara sendiri, yang punya duitlah! Berbondong-bondong ngeborong sampai stock kosong! Sobat miskin cuma bengong, dimatiin saudara sendiri dalam keadaan kelaparan. Keprihatinan Aming tentu juga menjadi keprihatinan banyak orang. Syukurlah pemerintah hingga saat ini masih terus menjaga ketersediaan bahan makanan bagi warga masyarakat.

Tapi mari kita bayangkan, jika di tengah masyarakat terjadi kelangkaan bahan makanan, namun di halaman rumah atau di atas dak atap rumah ada bahan makanan berupa tanaman sayur-mayur atau tanaman buah-buahan, seperti milik Pak Surya yang menanam sayuran dengan cara hidroponik di atas dak atap rumahnya, apakah masih perlu memborong dan menimbun bahan makanan?

PERANAN GEREJA

Oleh karena itu, penting bagi kita (baca: gereja) untuk sadar pada persoalan ketahanan pangan, apalagi di tengah krisis kesehatan akibat penyebaran virus Covid-19 seperti saat ini, yang dapat menimbulkan kelangkaan bahan makanan. Sejauh mana gereja dapat berpartisipasi dalam menjaga ketahanan pangan nasional? Atau bila pertanyaan itu terlalu muluk, maka dapat dipersempit menjadi, “Sejauh mana gereja dapat berpartisipasi dalam ketahanan pangan anggota jemaatnya, atau paling luas, masyarakat di sekitarnya?” Jangan-jangan selama ini gereja beranggapan, “Yang penting punya uang, maka segala hal dapat dibeli”?

Berkaca dari pengalaman menghadapi penyebaran virus Covid-19, di mana orang tidak mampu membeli hand sanitizer, masker, antiseptik, disinfektan; atau dokter dan rumah sakit tidak mampu membeli pakaian APD (Alat Pelindung Diri), bukan karena mereka tidak mempunyai uang, melainkan ketiadaan barang yang dibutuhkan. Untungnya, barang-barang itu tidak mengenyangkan perut, maka orang tidak harus sampai melakukan kerusuhan, penjarahan, atau pencurian demi mendapatkannya. Tetapi situasi akan sangat berbeda, jika yang dicari dan dibutuhkan itu adalah makanan. Orang akan melakukan segala hal untuk mendapatkan makanan demi mempertahankan hidupnya. Jadi, uang sebanyak apapun tidak dapat membeli makanan, jika makanan tersebut tidak ada. Dan uang sebanyak apapun tidak akan dapat dimakan untuk menghilangkan rasa lapar. Maka, anggapan bahwa “Yang penting punya uang, maka segala hal dapat dibeli” sebaiknya tidak dijadikan patokan bagi gereja.

Penulis Amsal memberikan nasehatnya dalam Kitab Amsal 12:11 “Siapa yang mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan”. Nasehat tersebut jika diartikan secara harfiah, bahwa setiap anggota gereja perlu memanfaatkan setiap lahan atau tempat untuk menanam tanaman yang dapat menjaga ketahanan pangan, minimal ketahanan pangan di lingkup keluarga. Entah itu sayur-mayur atau buah-buahan. Dalam berpartisipasi menjaga ketahanan pangan, kita juga perlu memiliki spirit atau semangat Yusuf saat akan menghadapi bencana kelaparan yang merajalela di seluruh bumi. Yusuf, Firaun, dan seluruh bangsa Mesir berupaya bahu-membahu memanfaatkan tahun-tahun kelimpahan sebaik mungkin agar mereka semua dapat melewati tahun-tahun kelaparan yang dahsyat dan belum pernah terjadi di sepanjang sejarah Mesir, bahkan dunia. Yusuf bukan saja berupaya menjaga ketahanan pangan, lebih dari itu, ia membangun kedaulatan pangan bangsa Mesir sehingga dapat menyelamatkan banyak orang Mesir, bahkan bangsa lain, termasuk bangsa Israel, yang datang ke Mesir untuk membeli makanan.

HIDROPONIK SEBAGAI (SALAH SATU) ALTERNATIF

Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat dan cepat, tanpa mampu dikendalikan. Semakin berkurangnya lahan pertanian karena alih fungsi: dari sawah menjadi komplek perumahan atau pergudangan; dari kebun menjadi hotel dan villa. Semakin langkanya anak muda yang mau berprofesi sebagai petani, karena dianggap berjibaku dengan tanah dan lumpur, yang memunculkan kesan kotor dan miskin. Suatu saat, itu semua akan mengantarkan kita pada titik di mana bahan pangan yang dihasilkan tidak akan mencukupi kebutuhan kita semua. Dengan kata lain, krisis pangan dapat menjadi keniscayaan. Namun demikian, ada alternatif untuk menumbuhkan wawasan dan minat masyarakat terhadap ketahanan pangan, salah satunya melalui Hidroponik.

Hidroponik adalah salah satu teknologi pertanian yang saat ini terus dikembangkan dan diharapkan mampu mengatasi masalah ketahanan pangan di kemudian hari. Hidroponik perlu diperkenalkan bahkan dipraktekkan dalam skala kecil dan sederhana kepada anggota jemaat, mulai dari Anak Sekolah Minggu, Remaja, Dewasa, dan Lansia, agar jemaat dapat mempergunakan lahan dan tempat untuk ber-hidroponik sebagai salah satu cara menjaga ketahanan pangan, minimal dalam lingkup keluarga dan jemaat. Tentu saya tidak bermaksud mengajak semua orang untuk menjadi petani. Namun kesadaran dan antisipasi pada ketahanan pangan perlu dimiliki banyak orang.

Dari petani berdaki, yang bergulat dengan lumpur dan tanah, menjadi petani berdasi yang memanfaatkan teknologi, itulah Petani Hidroponik. Mimpi dan harapan saya saat ini ialah membentuk “KOPERASI SAYUR HIDROPONIK”. Koperasi yang akan menampung hasil panen petani Hidroponik, lalu memasarkannya ke jemaat, masyarakat, rumah makan/restoran, sebagai upaya pemberdayaan ekonomi jemaat dan masyarakat, sekaligus partisipasi umat sebagai penjaga-penjaga ketahanan pangan.

Apa dan bagaimana memulai Hidroponik, kita dapat dengan mudah memperoleh informasi bahkan tutorial untuk mulai bercocok tanam dengan metode Hidroponik. Yang terpenting, gereja harus berpartipasi menjaga ketahanan pangan sebagai upaya mewujudkan damai dan sejahtera, yaitu tercukupinya sandang, pangan, papan bagi sebanyak mungkin orang.

Salam Hidroponik…!

Author