1. PENGANTAR

            Survei ini dilaksanakan pada periode: Kamis-Sabtu, 16-18 April 2020, dan ditujukan kepada warga jemaat GKI SW Jabar yang ada di 100 jemaat GKI SW Jabar. Survei ini dibuat menggunakan google form (g-form) dan disebarluaskan melalui aplikasi Whatsapp. Pada hari Minggu, 19 April 2020, data dari g-form diambil dan didapat 708 responden dari 1500 responden yang diharapkan terjaring. Sekalipun jumlah responden yang dijangkau tidak mencapai 50% dari target, diharapkan lewat survei ini kita tetap mendapat beberapa arti yang penting lewat sejumlah data yang disajikan.

Adapun tujuan penelitian yang ditetapkan sewaktu survei ini akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

  1. Mendapatkan gambaran, apa saja yang sudah dilakukan oleh warga jemaat GKI untuk membantu mendukung pemerintah (baik dukungan secara langsung maupun tidak langsung) dalam mengatasi pandemi Covid-19 dan juga eksesnya dalam hal ekonomi.
  2. Berdasarkan no. 1 tersebut, akan coba dianalisa, pola spiritualitas apa yang tampak dominan mendasari tindakan warga jemaat.
  3. Mengidentifikasi bagaimana respons warga jemaat GKI (utamanya yang memiliki Asisten Rumah Tangga / baby sitter / supir / pekerja lainnya) terkait PSBB dan himbauan pemerintah untuk tidak mudik, serta melihat sejauh mana tanggung jawab sosial pemberi kerja terhadap pekerja informal tersebut.
  4. Mendata daerah-daerah tujuan mudik (jika ada).
  5. Membantu efektivitas program GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19 beserta efek sosial-ekonomi yang dihasilkannya.
  6. Menjadi bahan bagi surat edaran / surat gembala BPMSW GKI SW Jabar selanjutnya.

 

2. IDENTITAS DASAR RESPONDEN

2.1 Jenis Kelamin

Dari 708 peserta survei (responden), komposisinya berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut :

  • 380 responden perempuan. Ini setara dengan 54%.
  • 328 responden laki-laki. Ini setara dengan 46%.

Komposisi yang seperti ini tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang ada di jemaat-jemaat GKI bahwa anggota jemaat perempuan berada pada persentase yang lebih banyak dibandingkan dengan anggota jemaat laki-laki.

2.2 Keterlibatan per Klasis

GKI SW Jabar terdiri dari 8 klasis. Berikut ini data responden berdasarkan persebarannya di antara kedelapan klasis:

Tampak bahwa klasis yang warga jemaatnya terbanyak berpartisipasi adalah GKI Klasis Jakarta Timur, sebanyak 137 orang (mencakup 19% responden).

Juga ada 11 responden (2%) di luar GKI SW Jawa Barat yang turut berpartisipasi. Hal ini dapat terjadi, sebab pertanyaan dalam survei menanyakan perihal keanggotaan responden. Tampaknya mereka adalah simpatisan dari jemaat-jemaat GKI SW Jawa Barat.

2.3 Komposisi Usia Responden

Survei ini sesungguhnya menyasar berbagai usia responden, mulai dari remaja hingga warga senior (lanjut usia).

Tampak pada tabel di samping ini, kelompok usia yang paling banyak menjadi responden dalam survei ini adalah usia: 45-60 tahun (sebanyak 336 orang atau 48%). Kelompok kedua terbanyak adalah usia 36-45 tahun (sebanyak 180 orang atau 25%). Sementara kelompok usia yang paling sedikit berpartisipasi adalah < 16 tahun (hanya ada 3 atau nyaris 0%). Kenyataan yang terakhir ini bisa jadi disebabkan jangkauan yang terbatas kepada Anak-anak Sekolah Minggu oleh pihak-pihak yang berotoritas di gereja. Mengingat, survei ini disampaikan kepada Majelis jemaat-Majelis Jemaat GKI SW Jawa Barat melalui surat elektronik dan pesan Whatsapp.

 

3. RESPONDEN DAN KIPRAH GKI SW JABAR DALAM MENGHADAPI COVID-19

3.1. Pengetahuan Responden akan Kiprah GKI SW Jabar

GKI SW Jawa Barat telah, sedang dan akan melakukan berbagai macam upaya dalam partisipasinya menghadapi pandemi Covid-19 dan ekses sosial-ekonomi yang dihasilkannya. Beberapa usaha GKI SW Jawa Barat tersebut antara lain:

  • Pengadaan Alat Perlindungan Diri (APD) lengkap, yang dipesan melalui distributor dalam dan luar negeri melalui Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (Tim GKI). APD tersebut lantas didistribusikan ke sejumlah fasilitas kesehatan di Jabodetabek maupun ke sejumlah daerah, utamanya di Jawa Barat.
  • Penyaluran makanan setiap harinya untuk para tenaga medis ke dua rumah sakit, yakni: RS PGI Cikini dan RS FMC melalui Gerakan Kebangsaan Indonesia dalam kerjasamanya dengan berbagai lintas agama (program: GONG).
  • Pemberian uang makan siang / hari kepada pengemudi ojek online dengan rating yang bagus dalam kerjasama dengan perusahaan aplikasi: Grab (program: GONG).

Ada 72% responden yang tahu dan sangat tahu perihal apa saja yang dikerjakan oleh GKI SW Jawa Barat menghadapi pandemi Covid-19. Hal ini cukup menggembirakan, sekaligus menjadi catatan tersendiri perihal adanya 5% responden yang sama sekali tidak tahu apa saja yang telah dikerjakan oleh GKI.

Menjadi menarik untuk mengenali di mana saja responden yang sama sekali tidak tahu perihal kiprah GKI SW Jawa Barat berjemaat. Adapun data para responden tersebut adalah sebagai berikut :

Dari data di atas, tampak bahwa responden yang sama sekali tidak tahu perihal kiprah GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19 ternyata banyak berasal dari Jemaat-jemaat yang berada di propinsi DKI Jakarta – yang diasumsikan memiliki akses informasi yang baik. Ini menjadi catatan tersendiri – entah bagi BPMSW GKI SW Jawa Barat, BPMK maupun Majelis Jemaat  terkait dalam menyebarluaskan informasi perihal apa saja yang sudah dikerjakan oleh GKI SW Jawa Barat.

3.2 Sumber Informasi Responden tentang Kiprah GKI SW Jabar

Dalam pertanyaan survei, ada 3 pilihan sumber informasi yang diakses responden tentang kiprah GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19, yakni: warta jemaat (baik lewat website maupun dalam format digital), selisip.com dan pesan lewat aplikasi Whatsapp. Juga dibuka jawaban lainnya untuk diisi oleh responden sesuai rujukan informasinya.

Dari tabel di samping ini, kita melihat bahwa aplikasi Whatsapp (dijawab oleh 522 responden atau sekitar 73% dari seluruh responden) menjadi media paling efektif untuk menyebarluaskan informasi – termasuk mengenai kiprah GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19. Media kedua adalah Warta Jemaat.

Di sisi lain, media komunikasi yang sengaja dibuat oleh BPMSW GKI SW Jabar bagi warga jemaat GKI SW Jabar berupa selisip.com hanya dijadikan rujukan informasi bagi 67 responden (atau sekitar 9,5% responden) saja. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah untuk semakin mempopulerkan media selisip.com bagi warga jemaat GKI.

 

4. KIPRAH RESPONDEN MENGHADAPI COVID-19

Sejak masa awal diumumkannya pasien pertama Covid-19 di Indonesia, pemerintah RI sudah menghimbau warga masyarakat untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah (atau stay at home). Hal tersebut diyakini sebagai cara efektif untuk memutus rantai potensi penularan virus SARS-Cov-2.

Dalam survei ini, para responden ditanyakan hal-hal apa saja yang dikerjakan oleh mereka dalam menghadapi Covid-19. Ada 6 pilihan jawaban yang disediakan, di mana para responden boleh memilih lebih dari satu. Keenam pilihan jawaban tersebut adalah sebagai berikut:

  • Berdiam di rumah (belajar, bekerja dan beribadah);
  • Berdoa bagi tenaga medis, kesembuhan para pasien, upaya pemerintah, dan lainnya;
  • Berbagi (makanan, masker, hand sanitizer atau lainnya) bagi yang membutuhkan;
  • Memberi persembahan kepada gereja, untuk mendukung karya sosial gereja (program kesaksian & pelayanan / kespel);
  • Menyebarluaskan informasi positif kepada teman/kenalan/saudara;
  • Membantu porgram kesaksian dan pelayanan (kespel) gereja secara langsung (mis.: membuat Face Shield, washtafel umum, memasak, menyalurkan bantuan, dsb.);

Lainnya: (responden bisa mengisi sendiri jawaban yang relevan dengan diri mereka).

Tampak pada tabel di samping ini, bahwa ada 620 responden (setara dengan 88%) yang sudah memenuhi himbauan pemerintah untuk berdiam di rumah. Apakah 12% responden lainnya tidak berdiam di rumah? Jika diperhatikan pada jawaban “lainnya”, maka tampak para responden dalam kategori tersebut masih tetap bekerja. Sebagian dari mereka adalah tenaga medis.

Lalu, mengingat para responden adalah warga jemaat GKI SW Jabar, maka tidak heran jika tindakan kedua terbanyak yang mereka lakukan adalah berdoa bagi tenaga medis, kesembuhan para pasien, upaya pemerintah, dan lainnya yang terkait (600 responden atau setara dengan 85% responden).

Tindakan ketiga terbanyak yang dilakukan oleh para responden adalah menyebarluaskan informasi positif kepada teman/kenalan/saudara (dijawab oleh 456 responden atau setara dengan 64% responden). Hal ini penting untuk dilakukan sebab situasi Pandemi Covid-19 ini telah menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran besar di antara masyarakat. Belum lagi berdiam di rumah juga memunculkan kejenuhan. Ditambah dengan informasi palsu dan bohong masih berseliweran di media sosial. Oleh karena itu, partisipasi nyata untuk menyebarluaskan informasi positif menjadi upaya untuk memberi warna berbeda dalam menghadapi Covid-19 ini.

Menarik untuk juga diperhatikan jawaban “lainnya” dari para responden. Beberapa tindakan yang dilakukan oleh responden adalah sebagai berikut:

  • Berbagi pada tiap orang tak mampu yang ditemui, misalnya: saat mampir di mini market, atau juga kepada tukang sampah, tukang parkir.
  • Menyediakan dan membantu umat yang berusia lanjut dan yang memerlukan makanan jadi setiap harinya karena tidak dapat keluar rumah atau ke pasar ataupun karena alasan ekonomi.
  • Melakukan upaya dalam bidang Kategorial untuk menjaga komunikasi dan interaksi dengan umat (anak-remaja-pemuda) serta membuat video clip setiap minggunya guna melengkapi kebaktian online yang diadakan oleh GKI SW Jabar.
  • Menyelenggarakan PA Online
  • Membuat kebijakan gereja untuk aksi kemanusiaan covid-19
  • Membantu dan bekerjasama dgn RT/RW dalam melakukan penyemprotan desinfektan di lingkungan.
  • Membuat tulisan yang memberi semangat dalam menyikapi sikon saat ini.
  • Tetap memberi hak upah karyawan.
  • Konsultasi gratis via WA sesuai profesi.
  • Memberi makanan/bahan makanan kepada ART (yang tidak menginap).
  • Berbagi dengan jemaat wilayah yang kena dampak kesulitan ekonomi karena Covid dan yang menderita Covid (diorganisir oleh Pengurus Wilayah)
  • Berusaha tidak PHK karyawan.

 

5. RESPONDEN DAN RELASINYA DENGAN PEKERJA INFORMAL

Mengingat rata-rata warga jemaat GKI SW Jabar berada di kota dan tingkat sosial-ekonominya berada di tengah ke atas, maka diasumsikan para responden memiliki pekerja informal (seperti: asisten rumah tangga, supir, baby sitter atau pekerja lainnya) yang bekerja bagi mereka. Dari survei ini, diketahui bahwa ada 553 responden (setara dengan 78%) yang mengisi pertanyaan “Apakah Saudara mempekerjakan ART / babysitter / supir atau pekerja lainnya, yang pulang kampung (mudik) – entah sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlangsung ataupun saat PSBB sedang berlangsung saat ini?” Pertanyaan ini sesungguhnya hanya ditujukan kepada para responden yang mempekerjakan pekerja informal dalam kategori tersebut.

Jika ada 553 responden yang mengisi pertanyaan tersebut, diasumsikan ada 78% responden yang mempekerjakan pekerja informal. Akan tetapi asumsi ini meleset, sebab ada responden yang tidak mempekerjakan pekerja informal di rumahnya, turut mengisi pertanyaan-pertanyaan survei bagian D ini.

Selanjutnya, dari 553 responden tersebut, ada 112 responden yang mengaku bahwa pekerja informal yang bekerja pada mereka telah pulang kampung. Itu berarti ada 20% dari responden yang diasumsikan mempekerjakan pekerja informal. Adapun, daerah tujuan mudik terbanyak adalah:

  • Lampung dan Jawa Tengah (masing-masing 11 responden)
  • Garut dan Indramayu (masing-masing 9 responden)
  • Pemalang (7 responden)
  • Cirebon dan Tasikmalaya (masing-masing 6 responden)

Kuningan, Sukabumi dan Tegal (masing-masing 5 responden)

Sementara 441 responden lainnya mengaku para pekerja informal yang bekerja bagi mereka tidak pulang kampung. Situasi ini tentu menggembirakan. Warga yang pulang kampung oleh karena penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah di Banten, DKI Jakarta dan beberapa wilayah Jawa Barat lainnya, bisa menghambat upaya pemutusan rantai penularan Covid-19.

Pertanyaan dalam survei coba menggali apa alasan dari para responden tidak membiarkan pekerja informalnya untuk pulang kampung (mudik). Pilihan yang dijawab terbanyak oleh responden adalah “terpanggil mendukung Physical Distancing dan PSBB” (dipilih oleh 130 responden) sehingga para pekerja informalnya tidak pulang kampung. Jawaban ini adalah jawaban yang tidak egois dan bertanggung jawab, jika dibandingkan dengan pilihan jawaban “Masih dibutuhkan untuk bekerja di tempat responden”.

Sementara ketika ditanyakan apakah responden memberikan tunjangan kepada pekerja informal yang pulang kampung, didapat jawaban seperti tabel di samping ini. Sekitar 75% lebih dari responden yang menjawab pertanyaan ini menyatakan “ya” (memberi tunjangan). Namun jumlah responden yang mengisi pertanyaan ini berjumlah: 226 responden, 100% lebih banyak daripada responden yang menjawab pekerja informal yang bekerja pada mereka telah pulang kampung. Harus diperiksa jawaban ke-112 orang responden terkait pertanyaan soal pemberian tunjangan ini. Apakah hanya sekali saja atau bagaimana?

Survei yang dilakukan, juga berusaha mendata sejauh mana responden bertanggung jawab terhadap para pekerja informal yang pulang kampung tersebut. Dari ke-112 responden yang pekerja informalnya diakui telah pulang kampung, ada 27 responden (24%) yang tidak menjawab perihal pemberian tunjangan yang dimaksud. Sementara, ada 38 responden (34%) yang memberikan tunjangan sebesar 1 bulan bagi pekerja informalnya yang mudik. Lalu, ada 13 responden (12%) yang memberikan tunjangan setiap bulan kepada pekerja informalnya yang mudik, dan 12 responden (11%) yang memberikan tunjangan sebanyak 3 bulan kepada pekerja informalnya yang mudik. Ada juga 3 responden (3%) yang siap memberi tunjangan kepada pekerja informal yang mudik sampai dengan pandemi Covid-19 selesai.

 

6. KESIMPULAN AWAL

Dari survei singkat dan sederhana ini, ada beberapa kesimpulan yang bisa didapat, yakni:

  1. Kiprah GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19 masih perlu disebarluaskan publikasinya, sebab hanya ada 72% responden yang mengaku tahu dan sangat tahu tentang kiprah yang dimaksud. Pada umumnya, orang mau dan tergerak untuk memberi / berpartisipasi jika tahu perihal karya sosial gereja. Dari data di bagian 4 (tabelnya kembali disampaikan pada gambar di samping), tampak ada 398 responden (ini setara dengan 56% responden) yang mengaku memberikan persembahan kepada gereja untuk mendukung program / kegiatan gereja menghadapi Covid-19. Jika kedua hal ini (tingkat pengetahuan responden akan kiprah GKI SW Jabar dengan partisipasi dalam memberikan persembahan) coba dikorelasikan, tampaknya ada kesenjangan di sana. Bukan tidak mungkin hal itu disebabkan oleh informasi yang didapat tentang kiprah GKI SW Jabar kurang menggugah hati warga jemaat untuk berkontribusi lewat persembahan dana. Atau, bisa juga hal ini disebabkan warga jemaat sendiri sudah mulai terdampak secara ekonomi, sehingga tidak banyak yang memberi persembahan kepada gereja untuk menghadapi Covid-19. Hal terakhir ini tentu perlu ditelusuri kebenarannya lewat survei lanjutan.Sejalan dengan itu, pengetahuan warga jemaat akan kiprah GKI SW Jabar perlu ditingkatkan sampai 80%. Media Whatsapp dapat diintensifkan untuk menyebarluaskan informasi tentang kiprah GKI SW Jabar tersebut. Sejalan dengan itu, guna mempopulerkan selisip.com, penyebarluasan informasi dapat juga memanfaatkan popularitas whatsapp di kalangan warga jemaat GKI SW Jabar. Kesimpulan ini tidak berarti meniadakan arti pentingnya Warta Jemaat bagi warga jemaat. Masing-masing Jemaat dapat tetap memproduksi Warta Jemaat sesuai media yang mampu difasilitasi.
  2. Responden survei ini memiliki kesadaran yang sangat baik untuk mendukung pemerintah mengatasi Pandemi Covid-19. Itu terbukti dari adanya 88% responden yang memilih berdiam di rumah untuk mendukung gerakan Physical Distancing dan juga PSBB. Hal ini juga sejalan dengan alasan responden yang menyatakan bahwa pekerja informal yang bekerja bagi mereka tidak pulang kampung, alasan terbanyak adalah untuk mendukung Physical Distancing dan PSBB (ada 130 responden yang menyatakan demikian). Dari hasil survei juga ditemukan sejumlah responden yang tidak bisa berdiam di rumah karena tuntutan pekerjaan yang masih mengharuskan mereka bekerja di kantor (seperti lembaga keuangan) atau di fasilitas kesehatan. Itu berarti, survei ini tidak bisa mengidealkan berapa besar persentase dari kiprah warga jemaat GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19.
  3. Ada 85% responden yang berdoa bagi pemulihan para pasien Covid-19, juga berdoa bagi tenaga medis dan upaya pemerintah. Ini menunjukkan spiritualitas yang positif sebagai orang Kristen-Indonesia.
  4. Ada 62 responden melakukan tindakan-tindakan positif di luar dari 6 pilihan jawaban yang disediakan. Tentu ini menunjukkan suatu kepedulian dari responden untuk menghadapi pandemi yang sedang terjadi. Apa yang dilakukan oleh para responden ini bisa disebarluaskan atau dinarasikan guna menginsiprasi warga jemaat atau bahkan warga masyarakat melakukan tindakan-tindakan positif sebagai wujud solidaritas kepada mereka yang terdampak. Apalagi, dampak dari pandemi Covid-19 secara sosial-ekonomi diduga masih cukup panjang. Ada yang menduga bulan Oktober 2020 situasi sosial-ekonomi bisa kembali pulih. Ada juga yang menyatakan bulan Desember 2020. Situasi ini tentu mengandaikan adanya keteguhan dan ketekunan dalam mengerjakan apa yang baik sebagai panggilan iman Kristiani kita.
  5. Jika dilihat menggunakan bagan lingkaran di samping ini, sebagian besar responden sudah berada pada Growth Zone. Situasi ini tentu tidak boleh membuat kita berpuas diri. Masih ada warga jemaat yang berada pada Fear Zone dan juga sudah bergerak menuju zona berikutnya: Learning Zone. Ini menjadi kesempatan yang sangat positif bagi gereja untuk mewartakan kerygma atau berita Injil yang tepat kepada warga jemaat, sehingga mereka menemukan makna dan pesan Injil yang kuat dan relevan dengan kehidupan pada kondisi saat ini. Program “informal” seperti Sapaan Gembala yang diinisiasi oleh beberapa pendeta GKI SW Jabar dengan membuat video renungan singkat setiap hari (kecual hari Minggu dan hari raya gerejawi), untuk menyapa warga jemaat GKI, bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran umat untuk menuju Growth Zone. Atau, khotbah-khotbah online yang dilayankan – entah oleh YKB GKI atau oleh jemaat-jemaat, dapat juga mengarah ke sana.

 

7. PENUTUP

Apa yang tersaji dalam laporan hasil penelitian ini mungkin belum memuaskan dan  menjawab keingintahuan dan persoalan yang ada, namun setidaknya sudah merupakan suatu langkah positif untuk meningkatkan kiprah GKI SW Jabar dalam menghadapi Covid-19 serta implikasi sosial-ekonominya. Sebagai gereja yang hadir dan berada di bumi Indonesia, GKI terus berupaya relevan dengan pergumulan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan relevansi keberadaan GKI sekaligus perwujudan panggilan iman kita, kiranya laporan hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti oleh para pihak yang terkait. Kami pun membuka diri untuk melaksanakan penelitian lanjutan atau lainnya yang diperlukan untuk konteks GKI SW Jawa Barat.

Kiranya Tuhan memberkati kita.

 

Kamis, 23 April 2020.
Dilaporkan oleh PPDI GKI SW Jawa Barat:
Pnt. Roesdiono & Pdt. Natanael Setiadi

Author