Sungguh tidak pernah terbayangkan, akan ada suatu masa di mana Ibadah di gereja akan diliburkan atau ditiadakan. Maksudnya, saya mengerti ada beberapa tempat ibadah (dalam hal ini gereja) yang mengalami perundungan atau persekusi, sehingga mengalami kesulitan dalam menjalankan kegiatan Kebaktian Minggu, dan mau tidak mau harus mengalihkan tempat atau meniadakan kebaktian untuk sementara waktu. Akan tetapi yang terjadi saat ini sungguh sangat berbeda dan tidak terduga. Bahwa akan ada suatu wabah yang melanda seluruh dunia (hampir tanpa terkecuali) dan mengakibatkan terjadinya pergeseran dan perubahan secara massive dalam banyak hal yang dunia ini biasa lakukan. Perubahan ini pun harus dirasakan dan dihadapi oleh gereja, khususnya GKI. GKI harus dapat dengan cepat merespons dan melakukan berbagai penyesuaian, salah satunya dengan membuat Ibadah dalam bentuk online. Bentuk inilah yang sudah dilakukan selama 3 kali hari Minggu (sejak tanggal 22 Maret), yang tentunya terdapat baik kelebihan maupun kekurangan. Hal ini mungkin saja penerapan bebas dari percakapan yang mendominasi beberapa gereja GKI belakangan ini, yaitu pelayanan di era digital.

GKI Guntur sebagai salah satu Gereja dalam lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, memutuskan untuk mengikuti arahan yang disampaikan lewat surat-surat dari BPMSW, yang salah satunya mengarahkan untuk tidak melakukan Kebaktian online sendiri, melainkan mengikutinya dari kanal-kanal yang sudah ditunjuk. Walaupun ada masukan dan pertanyaan dari beberapa anggota jemaat, “Mengapa Guntur tidak bikin seperti gereja-gereja lain?” Untuk hal ini kami dapat menjelaskan bahwa himbauan dan seruan social/physical distancing adalah sesuatu hal yang harus disikapi secara serius dan bahwa ketika ada orang-orang yang sudah ditunjuk dan menyediakan dirinya untuk memfasilitasi Ibadah Minggu kita, supaya kita dapat tetap di rumah aja untuk membatasi dan menghentikan penyebaran virus corona, harus kita hargai setinggi-tingginya. Mirip dengan seruan beberapa dokter dan tenaga medis(walaupun tidak dapat sepenuhnya dibandingkan) yang mengatakan, “Kami tetap masuk kerja untuk kalian, kalian tetap di rumah saja untuk kami”. Ketika perjumpaan melalui Ibadah Minggu agak sulit untuk terwujud, tentunya kami tidak dapat berdiam diri saja.

Dengan melihat perkembangan situasi yang ada, saya dan rekan Pdt. Ujun Junaedi berusaha untuk memikirkan bagaimana supaya kami tetap dapat menyapa anggota jemaat dan simpatisan GKI Guntur, termasuk Pos Jemaat Kopo Permai dan Bakal Jemaat Ujungberung dalam bentuk-bentuk yang lain. Khusus mengenai hal ini saya pribadi harus berterima kasih dan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa GKI Guntur bersyukur memiliki seorang Pdt. Ujun Junaedi yang sangat fasih dan “melek” dalam merancang bentuk-bentuk pelayanan digital seperti apa yang dapat dilakukan. Akhirnya kami melakukan apa yang kami bisa, mulai dari membuat program “Mimbar Kecil” sebuah tayangan video berdurasi 4-5 menit berisi nyanyian singkat dari beberapa aktivis GKI Guntur dan renungan singkat oleh para pendeta GKI Guntur. Rekaman dilakukan secara terpisah dan kebanyakan menggunakan kamera smartphone atau laptop. Lalu ada juga doa-doa yang dibuat dan dishare untuk didoakan bersama-sama dalam keluarga. Selain itu, dilakukan juga beberapa kegiatan, seperti Katekisasi, Persekutuan Remaja/Pemuda dengan menggunakan aplikasi zoom dan live IG. Kegiatan Pemahaman Alkitab juga difasilitasi dengan cara membuat tayangan slide power point disertai rekaman suara dari pendeta yang menjelaskannya. Yang terbaru, kami juga membuat konten berjudul “Ngeteh” kepanjangan dari “Ngobrolin tentang hidup”, yang bentuknya rekaman dari obrolan santai saya dengan Pdt. Ujun Junaedi. Beberapa kegiatan tersebut yang sejauh ini dicoba dilakukan dengan segala keterbatasan sarana yang ada. Sempat terpikir bagaimana menjangkau mereka yang tidak terfasilitasi dengan gadget, namun sejauh ini belum ada informasi yang masuk, kalau pun ada, maka kami harus juga mempersiapkannya, supaya warga jemaat terfasilitasi dengan baik.

Apa yang terjadi saat ini memang terbilang datangnya tiba-tiba dan mengejutkan semua pihak. Kita harus menjaga jarak aman dari segala sesuatu yang selama ini bisa kita lakukan dengan leluasa. Sebagai sebuah refleksi bersama, mari kita coba lebih dapat memaknainya secara mendalam. Ketika saat ini kita tidak dapat beribadah di dalam gedung gereja, ingatlah saat di mana kita bisa sangat mudah dan leluasa beribadah, tetapi kita tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Kita ada di dalam sebuah Kebaktian di gereja, tapi mata dan pikiran kita tak bisa lepas dari layar gadget kita, atau sebaliknya sebagai Gereja (baca: Majelis Jemaat dan aktivis gereja) ketika ada kesempatan untuk mengelola Ibadah kita dengan baik, malah kita lakukan yang seadanya saja. Marilah sama-sama bersedia memaknai segala proses yang saat ini dapat dilakukan, hidupi setiap momentum perjumpaan dengan Tuhan yang kita alami dalam bentuk di rumah aja, sambil terus bersyukur akan apa yang masih bisa kita lakukan di tengah pandemi ini. Tetap kuat, tetap sehat dan tetap semangat. God bless!

Author