Blade Runner 2049 adalah sebuah film sains fiksi neo-noir garapan sutradara Dennis Villeneuve, sequel (lanjutan) dari film cult-classic Blade Runner mahakarya sutradara Ridley Scott (1982). Tokoh utamanya seorang opsir dari Kepolisian Los Angeles di tahun 2049, K (atau tepatnya KD6-37), seorang replicant (manusia buatan hasil rekayasa genetika) yang bekerja sebagai seorang “Blade Runner”, bertugas memburu dan “memensiunkan” alias membunuh replicant “liar” (rouge). Dalam sebuah penyelidikannya, K menemukan sisa jenazah seorang replicant yang meninggal dalam proses melahirkan. Berdasarkan perintah atasannya yang kuatir penemuan ini akan menimbulkan keguncangan, K kemudian menelusuri jejak dan berusaha menemukan anak “ajaib” tersebut. Pencarian tersebut kemudian menjadi sebuah misi pribadi bagi K karena ia menduga bahwa dirinya sendirilah anak yang lahir dari seorang replicant tersebut (spoiler alert: dugaan itu ternyata salah). Emosinya memuncak ketika ia bertemu dengan sang ayah, yang tak lain dari Rick Deckard, sang Blade Runner legendaris yang telah lama menghilang. Maka kemudian K memborbardir Deckard dengan serangkaian pertanyaan: “Apa yang terjadi dengan anak itu? Siapa yang menaruhnya di panti asuhan? Kaukah itu? Kau bahkan tidak bertemu dengan anakmu sendiri? Mengapa? Mengapa kau tidak mau bertemu dengan anakmu sendiri?”. Maka Deckard menjawab “Sometimes, to love someone, you got to be a strangers.” Kadang untuk mencintai seseorang, engkau harus menjadi seorang asing. Deckard sengaja tidak ingin mengenal anaknya sendiri dalam rangka melindunginya, ia memilih untuk menjadi seorang asing demi keselamatan anaknya.
Menjadi seorang asing (strangers), barangkali itu jugalah posisi yang diambil oleh Yesus pada masa-masa terakhir hidup-Nya di dunia, menjelang kematian-Nya. Seorang asing di mata murid-murid-Nya yang tidak juga paham sekalipun beberapa kali Ia mengatakan bahwa Ia akan ditangkap, disiksa dan kemudian dibunuh. Ketika mereka, alih-alih mendukung dan menguatkan-Nya, malah berusaha berebut pengaruh dan posisi untuk menjadi yang terutama ketika kelak Ia (dalam keyakinan mereka) menjadi seorang raja. Seorang asing di mata lawan-lawannya, ketika sang rabi cerdas yang biasanya dengan tajam meladeni para ahli Taurat dan Farisi berpolemik, menjungkir-balikkan keyakinan mereka dengan opini-Nya yang tajam dan segar, justru memilih untuk diam di hadapan pengadilan mahkamah agama. Seorang asing di mata orang banyak, ketika Ia, sang people person yang biasa memukau massa dengan kharisma, integritas pengajaran dan tindakan-Nya, justru tidak berkata apa-apa ketika massa yang beberapa waktu sebelumnya memuja-Nya bak seorang raja, kini justru menuntut penyaliban-Nya. Seorang asing di mata penguasa, ketika Ia bungkam sekalipun berkali-kali memberi petunjuk (hint) yang bisa membebaskannya dari hukuman mati, hingga akhirnya Pilatus tak punya pilihan lain selain menjatuhkan hukuman terberat, salib. Seorang yang asing, sendirian di antara dua penjahat, di antara para para prajurit yang membenci orang-orang Yahudi seperti diri-Nya. Seorang asing tanpa orang-orang yang dikasihi-Nya di dekat-Nya, sendirian menatap kematian. Keterasingan yang berpuncak pada seruan nyaring, entah dalam kesakitan namun mungkin juga dalam kepahitan, “Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Bahkan Allah, yang disapa-Nya dengan sangat intim sebagai Bapa, Abba, kini terasa begitu jauh dari-Nya, berpaling dari-Nya. Keterasingan yang begitu total, mutlak dan menyakitkan.
“Sometimes to love someone, you got to be a strangers.” Menjadi seorang asing, adalah jalan yang ditempuh oleh Yesus untuk menyatakan kasih-Nya. Dengan sadar Ia membiarkan dirinya terasing, menjadi seorang asing, dari dan bagi semua yang dicintai-Nya. Para murid, orang banyak, bahkan Bapa-Nya sendiri. Keterasingan yang justru kemudian mendatangkan keselamatan dan kehidupan baru bagi kita semua. Sebagaimana litani Kitab Nabi Yesaya yang biasa kita baca dalam ibadah masa-masa sengsara Yesus:

Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia,
dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.
Ia dihina dan dihindari orang,
seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan;
Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia
dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,
padahal kita mengira dia kena tulah,
dipukl dan ditindas Allah.
Tetapi dia tertikam karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
(Yesaya 53:2b-5)

Keterasingan, menjadi seorang asing, mungkin itu juga perasaan yang sedang kita bersama alami di saat-saat ini. Khususnya sebagai Gereja yang menjadikan peringatan masa sengsara-kematian-kebangkitan Yesus Kristus sebagai puncak atau poros kehidupannya. Masa di mana kita biasanya bersama berkumpul sebagai satu keluarga besar, bersorak “Hosana!”, melayani dan dilayani dalam sakramen Perjamuan Kudus, dan bersama berseri menyambut Fajar Paskah yang merekah. Namun kini kita hanya duduk diam di rumah kita masing-masing, terasing dari momen-momen yang biasanya begitu penting dalam kehidupan kita sebagai sebuah persekutuan. Pastinya ada secercah rasa pedih yang timbul di hati ketika mengingat dan merenungkan hal ini. Terlebih bagi mereka yang juga di saat-saat ini harus terasing dari kehidupan orang-orang terkasih yang tengah bergumul dengan kesakitan dan bahkan kematian. Mereka yang karena situasi terkini tidak dapat hadir, absen, pada saat-saat terakhir kekasih mereka menghela nafas kehidupan.
Di masa ini, barangkali keterasingan yang dipilih Yesus sebagai cara menyatakan kasih-Nya menjadi sebuah kekuatan bagi kita semua. Ketika kita harus menjadi seorang asing, tak hadir (absen) dari perkumpulan, pertemuan persekutuan yang begitu kita cintai. Bahkan ketika kita terpaksa tak hadir dalam kehidupan, dan bahkan kematian, orang-orang terkasih. Semua adalah karena kasih, terutama kasih kepada orang-orang lain yang Tuhan hadirkan di sekitar kita. Bukankah Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:16), dan dalam kasih-Nya Ia tetap hadir, sekalipun kita tidak dapat hadir bersama dalam persekutuan atau keluarga kita. Bahkan dalam keterasingan kitapun, kita percaya Tuhan membukakan pintu-pintu yang semula tak kita ketahui, untuk hadir dan menjadi berkat bagi orang lain. Pintu-pintu yang menembus sekat-sekat golongan, etnis, keyakinan politik, bahkan agama dan kepercayaan; untuk menjadi berkat dalam berbagai bentuk yang baru dan tak terduga sebelumnya.
Maka biarlah kasih Tuhan hadir sekalipun dalam ketidakhadiran dan keterasingan kita. Kasih yang menguatkan, memberikan inspirasi dan memampukan kita juga menjadi berkat bagi sesama. Selamat menyambut Paskah.

Author