Bagi banyak orang Kristen di Indonesia, Kebaktian Jumat Agung biasanya dirayakan dengan Perjamuan Kudus (PK). Oleh karena itu, mungkin banyak yang merasa resah ketika menyadari bahwa gereja tidak mungkin mengadakan PK pada Jumat Agung tahun ini. Sebagian bertanya, mengapa kita tidak melaksanakan PK secara online? Misalnya, masing-masing orang mempersiapkan roti dan juice anggur di rumah lalu mengikuti Kebaktian Online lewat YouTube. Ketika sampai pada Liturgi Perjamuan, tiap-tiap orang makan dan minum bersama-sama seperti layaknya di gereja. Ide ini sekilas tampak praktis, realistis, dan kreatif. Namun demikian, GKI memilih untuk menunda PK ketimbang melakukan PK Online. Mengapa?

 

Pertama,  Liturgi Perjamuan Kudus mengasumsikan adanya persekutuan umat yang real ketika ia dilayankan. PK diadakan di tengah persekutuan umat sebagai tubuh Kristus. Perjamuan ini bukan hanya ritual makan dan minum bersama untuk mengenang kematian Kristus, melainkan sakramen yang merupakan tanda dan materai yang Tuhan anugerahkan kepada umat sebagai tubuh Kristus. PK dilayankan oleh gerejaNya yang dalam hal ini direpresentasikan oleh para pejabat gerejawi. Apabila ada anggota jemaat tidak dapat hadir di gereja, biasanya Pendeta dan Penatua datang ke rumah untuk melayankan PK. Jelas di sini bahwa kehadiran para pelayan gerejawi sebagai representasi gereja menjadi konteks penting dalam pelaksanaan PK. Sama seperti umat tidak melayankan sakramen Baptisan sendiri di rumah secara mandiri, begitu pula umat tidak melayankan sakramen Perjamuan  Kudus secara mandiri, lepas dari keterkaitan dengan gereja.  Di sisi lain, keikutsertaan umat untuk makan dan minum bersama juga merupakan konteks penting dalam liturgi PK di GKI. Di masa wabah virus Covid-19 ini, ada gereja-gereja yang melayankan ibadah online dengan“Perjamuan Kudus secara  spiritual.” Artinya, sementara para pelayan liturgi menyelenggarakan PK di gedung gereja, umat yang menyaksikan lewat YouTube  mengimani bahwa mereka pun telah diberi makan dan minum oleh Tuhan secara spiritual. Kita tidak mengikuti cara ini karena PK membutuhkan keterlibatan umat secara nyata untuk mengambil roti dan air anggur lalu memakan dan meminumnya bersama-sama.

 

Kedua, Jumat Agung tidak akan kehilangan maknanya ketika dihayati tanpa Perjamuan Kudus. Sekalipun banyak gereja di Indonesia merayakan PK pada hari Jumat Agung, banyak juga gereja di muka bumi  yang tidak menyelenggarakan PK pada hari itu. Kebanyakan gereja, termasuk beberapa jemaat GKI, menyelenggarakan PK justru pada hari Paskah. Ini menunjukkan bahwa peringatan Jumat Agung tanpa PK tidak akan berkurang maknanya. Perlu kita pahami bahwa ketika merayakan Perjamuan, yang kita kenang bukan hanya pengorbanan Yesus ketika Ia disalibkan. Kita juga mengenang seluruh karya Kristus, mulai dari Ia lahir sampai naik ke sorga, bahkan kita juga mengingat akan janjiNya untuk kelak mengundang kita dalam Perjamuan Sang Anak Domba Allah. Itulah sebabnya PK bukan hanya dirayakan pada hari Jumat Agung. PK dapat diadakan di sepanjang tahun liturgi. Di GKI pelaksanaan PK minimal empat kali dalam setahun, tetapi bisa juga lebih dari itu.

 

Kita memutuskan untuk menunda Perjamuan Kudus di Jumat Agung tahun ini. Sampai kapan? Sampai kita bisa bertemu kembali di gereja, seusai wabah Covid-19 bisa kita atasi. Kita sekarang berada di masa yang suram, di mana kita tidak dapat bersekutu dan harus menjaga jarak fisik satu sama lain. Kita merindukan saat di mana kita bisa kembali beribadah di gereja tanpa harus menjaga jarak. Jika saat itu tiba, kita patut merayakannya dengan penuh sukacita. Pada saat itulah kita akan merayakan Perjamuan Kudus secara khusus, karena Tuhan telah memampukan kita melewati masa-masa yang sulit ini. Kata Paskah berarti melewati atau melampaui (passover). Kita yakin, bersama Kristus, Paskah akan tiba!

 

Author

  • Pdt. Juswantori saat ini melayani di departemen Musik dan Liturgi Sinode GKI. Dalam waktu senggangnya, Pdt. Juswantori suka menjelajah daerah baru, berkebun, berenang, nonton, meng-explore teknologi komputer, dan memasak.