Sekitar dua atau tiga tahun lalu, seorang penatua bertanya kepada saya, “Apakah di GKI ada Bina Pranikah Online? Pasangan yang mau menikah beda negara dan beda daerah agak susah mengikuti Bina Pranikah.” Pada saat itu saya menjawab, “Sampai saat ini belum ada Bu. Doakan saja. Saya percaya akan ada waktunya.” Saya tidak menyangka bahwa apa yang dipercakapkan pada saat itu menjadi kenyataan dalam masa pandemi Covid-19. BPMK GKI Klasis Jakarta Timur dipercaya sebagai panitia pelaksana Bina Pranikah Online oleh BPMSW GKI SW Jawa Barat. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 16 dan 23 Mei 2020.

Bina Pranikah Online ini diikuti oleh 101 pasang calon pasutri yang latar belakangnya beragam. Dari segi usia, ada peserta yang berusia 20an hingga 50 tahun ke atas.  Ada yang beragama Kristen, Katolik, Budha, dan Islam. Tercatat juga bahwa peserta berasal dari berbagai jemaat GKI (58 jemaat dari tiga sinode wilayah) dan juga dari gereja lain (65 gereja). Yang menarik, ternyata ada empat orang peserta yang berasal dari negara lain dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Untungnya, pasangan mereka bersedia untuk menerjemahkan materi Bina Pranikah Online ke dalam bahasa asal mereka.

Untuk mengukur kualitas daya serap dari para peserta terhadap materi yang diberikan oleh pembicara, panitia juga membuat pre-test dan post-test dalam dua Bahasa (Indonesia dan Inggris) yang harus diisi oleh para peserta. Pengisian pre-test dan post-test ini juga merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikat Bina Pranikah Online. Keberadaan pre-test sangat menolong para pembicara untuk menangkap horizon berpikir para peserta sebelum sesi. Setelah mendengarkan penjelasan dari para pembicara, berdasarkan evaluasi sekitar 98% peserta dapat mengisi post-test dengan baik. Hal ini tentunya mematahkan asumsi bahwa kualitas pelaksanaan Bina Pranikah Offline lebih baik ketimbang kualitas pelaksanaan Bina Pranikah Online.

Bagaimana dengan keaktifan peserta? Ternyata, peserta sangat aktif bertanya. Mereka menulis pertanyaan-pertanyaan mereka melalui chat di aplikasi zoom yang digunakan oleh panitia. Ada banyak sekali pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta di setiap sesinya. Bahkan, karena keterbatasan waktu, sebagian pembicara harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara tertulis paska pembinaan berakhir.

Dari feedback peserta, 96,9% peserta merasa bahwa pelaksanaan Bina Pranikah Online ini cukup efektif. Dari segi pendaftaran online, 84,1% peserta merasa sangat mudah, 9.3% merasa cukup mudah dan sisanya merasa pengisian form online cukup sulit. Dari sisi penyampaian materi, mayoritas peserta juga merasakan bahwa para pembicara dapat menyampaikan materi dengan baik bahkan sangat baik. Feedback yang serupa juga disampaikan oleh para pembicara. Mereka merasa bahwa Bina Pranikah Online ini efektif karena peserta sangat antusias dalam mengikuti sesi.

Ada dua hal yang menjadi inovasi pada pelaksanaan Bina Pranikah Online ini. Pertama, panitia mengundang para orangtua dari calon pasutri untuk mendengarkan dan bertanya pada salah satu sesi yakni “Relasi Pasutri, Orangtua dan Mertua.” Dari komentar para orangtua, mereka merasa senang diundang dalam sesi ini dan merasa bahwa sesi ini sangat bermanfaat dalam menjalin relasi dengan anak dan calon mantunya. Rasanya, sesi ini perlu tetap ada baik dalam setiap pelaksanaan Bina Pranikah baik secara online maupun offline.

Inovasi kedua adalah follow up Bina Pranikah Online yang akan dilaksanakan oleh Binawarga GKI. Para peserta diberikan 2 buah buku terbitan Binawarga GKI yakni Dalam Susah dan Senang serta Waktu Berkualitas Bersama Si Kecil. Tidak hanya itu, Binawarga juga melakukan follow up dengan cara mengadakan Program Couple in Christ, Tujuan program ini adalah untuk pemeliharaan kehidupan rumah tangga keluarga muda. Setiap sebulan sekali akan diadakan webinar pada hari Sabtu ke-2, pukul 10-12 dengan menggunakan buku Dalam Susah dan Senang, karya Pdt. Ayub Yahya.

Hal terakhir yang perlu diketahui adalah setiap pasangan harus memberikan kontribusi uang pendaftaran sejumlah Rp. 200.000,-. Total uang pendaftaran yang diterima dari 101 pasang peserta adalah sejumlah Rp. 20.200.202,- Uang ini digunakan untuk biaya operasional termasuk pengiriman sertifikat dan juga pembelian dua buku terbitan Binawarga GKI untuk calon pasutri. Kelebihan dana akan disalurkan untuk dana kemanusiaan program GONG GKI dalam rangka penanggulangan Covid-19. Pada saat ini, laporan keuangan sedang disusun dan akan segera dilaporkan secara terperinci dan transparan kepada BPMSW GKI SW Jawa Barat setelah proses pengiriman sertifikat selesai dilaksanakan.

Pandemi Covid-19 memang membuat seluruh umat manusia merasa sama-sama rapuh, namun bukan berarti kita tidak memiliki daya lagi untuk berkreasi dan berinovasi di tengah keterbatasan yang ada.  Brené Brown pernah berkata, “vulnerability is the birthplace of innovation, creativity and change.” Bina Pranikah Online ini adalah hasil inovasi, kreativitas dan perubahan yang diinspirasikan oleh Allah dan lahir di tengah kondisi dunia yang rapuh.  Karena itu, kiranya inovasi ini tidak berhenti hanya pada pandemi Covid-19, namun dapat dilanjutkan walaupun pandemi ini sudah berlalu.

Author

  • Pdt. Yessie Irawan saat ini melayani di Bidang Bina BPMK GKI Klasis Jakarta Timur.