Semua berawal dari sebuah artikel: Coronavirus and Poverty: A Mother Skips Meals So Her Children Can Eat (Virus Corona dan Kemiskinan: Seorang Ibu Rela Tidak Makan Supaya Anak-anaknya Bisa Makan)[1]. Seorang Ibu di Amerika Serikat rela kelaparan, tidak makan pagi dan siang demi menghemat pengeluaran keluarga. Satu hal yang membuatnya tenang adalah dia bisa mendapatkan makan siang gratis yang disediakan oleh sekolah untuk ke-6 anak-anaknya yang masih kecil. Dia berkata: “If we didn’t have this, I probably would have a mental breakdown with stress,”. “I’m not going to let my kids go hungry. If I have to just eat once a day, that’s what I have to do.”[2] (Kalau saya tidak dapat makan siang gratis ini mungkin saya akan mengalami gangguan mental karena stress. Saya tidak akan membiarkan anak-anak saya kelaparan. Kalau saya harus makan hanya satu kali sehari, itulah yang harus saya lakukan).

Artikel The New York Times tanggal 20 Maret 2020 di atas menghentak dan membuat saya resah. Penduduk dari negara adidaya seperti Amerika Serikat saja bisa mengalami kesulitan seperti ini, bagaimana dengan penduduk di Indonesia, penduduk di Jakarta? Apakah kesulitan yang sama karena pandemi ini juga dialami oleh orang-orang di sekitar kita? Kehilangan pekerjaan, menahan lapar karena tidak bisa membeli makanan? Apa yang bisa kita lakukan?

Tanggal 29 Maret 2020, setelah selesai ibadah live streaming di GKI Perniagaan (Pernias), saya berbincang dengan Pdt. Debora R.S. Simanjuntak mengenai hal ini. “Deb, kita ada rencana ga untuk berbuat sesuatu di masa pandemi ini?” Seperti gayung bersambut, ternyata Pdt. Debora juga memiliki pemikiran yang sama. Kami langsung berdiskusi mengenai jenis bantuan apa yang dibutuhkan saat ini dan bagaimana menggalang donasi. Awalnya kami bermaksud untuk membagikan makanan gratis meniru apa yang dilakukan oleh sekolah di Amerika Serikat tersebut, namun akhirnya diubah menjadi bantuan paket sembako agar bisa tahan lama dan dinikmati oleh lebih banyak orang. Selain itu diputuskan pembagian sembako akan dilakukan minggu depan (5 April 2020) sejumlah 100 paket. Apakah akan tergalang donasi yang cukup untuk membeli 100 paket sembako dalam 1 minggu (kurang lebih Rp 10 juta)? Kami sama-sama tidak tahu. Tapi satu hal yang kami tahu, kita harus berbuat sesuatu, sekecil apa pun itu.

Tugas selanjutnya adalah menghubungi beberapa teman untuk terlibat dalam aksi kepedulian ini. Saya menghubungi seorang pemuda yang saya tahu selama ini punya beban membantu sesama. “Uhm, kayanya ga ikutan dulu deh ci buat turun ke lapangan. G juga selama ini udah bantu driver OJOL, pesen makanan buat mereka. Nolong orang tapi ga bersentuhan. Nanti g bantu sumbang dana ya” Itu respons yang saya terima setelah saya menceritakan rencana kami, dan ternyata reaksi serupa juga ditunjukkan oleh beberapa pemuda lain yang kami hubungi setelahnya. Menurut mereka tinggal di rumah dan tidak turun ke lapangan adalah bentuk tanggung jawab ke orang tua di rumah untuk meminimalkan risiko mereka terpapar virus Corona. Sampai H-3 baru ada 2 orang yang menyatakan bersedia membagikan sembako dan teman yang tadinya sudah mengiyakan membantu sempat bertanya: “Ci, g lagi pikir ulang apa rencana kita ini tepat ga ya di tengah kondisi pandemi ini? Kita bisa membahayakan keluarga kita kalau kita turun ke lapangan.” Saya hanya berkata: “Kita tidak bisa mundur, brur, karena dana sudah tergalang. Bagaimana nanti pertanggungjawaban kita kepada mereka yang sudah menyumbang dana?”.

Di tengah kegalauan kami mencari orang yang mau terlibat dalam aksi ini, Tuhan mencukupkan segalanya. Kami mendapat tambahan 4 orang dan 2 mobil yang bisa digunakan untuk pembagian sembako dan dalam waktu 1 minggu donasi yang kami terima mencapai Rp 10.100.018, pas untuk membeli 100 paket sembako dengan harga ±Rp 100 ribu per paket yang berisi 4 kg beras, 10 mie instant, 1 liter minyak goreng, dan 6 butir telur. Teman-teman yang ingin membantu namun berhalangan datang di hari H turut mengulurkan tangan mengepak paket-paket sembako.

Pembagian sembako kami lakukan di daerah sekitar Pernias dan kami telah memutuskan untuk memberikan paket kepada supir bajaj, angkot, taxi, tukang becak, pemulung, dan tukang sampah yang menurut pengamatan kami kurang mendapat perhatian (tidak seperti gaung gerakan membantu driver OJOL yang viral dimana-mana). Membagikan sembako ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Cukup sering kami tidak jadi memberikan sembako karena situasi tidak mendukung. Ketika kami membagikan sembako kepada 1 tukang sampah di kawasan pinggir kali dekat Season City dalam sekejap kami dikerumuni oleh beberapa tukang sampah yang lain sehingga kami bergegas meninggalkan lokasi karena situasi kurang kondusif. Namun pengalaman tidak mengenakkan itu terhapus oleh senyuman tulus serta ucapan terima kasih, doa, dan berkat yang berkali-kali kami terima dari mereka yang menerima bantuan. The joy of knowing that we have done something to ease the burden of others, though not much, nothing can take that away from us.

Minggu depannya setelah selesai ibadah livestreaming kami menayangkan liputan mengenai aksi kepedulian ini dan mengumumkan rencana aksi kepedulian berikutnya. Kami tidak menyangka dampak viral dari pengumuman tersebut. Ada jemaat yang “memarahi” Pdt. Debora yang tidak bilang-bilang mengenai kegiatan ini sebelumnya, karena dia ingin ikut memberikan bantuan. Ada hamba Tuhan yang langsung menghubungi dan menyatakan siap menyumbang dana. Ada teman yang sudah bertahun-tahun tidak beribadah ke Pernias tiba-tiba menghubungi saya untuk menanyakan nomor rekening untuk menyumbang. Ada yang langsung menghubungi untuk menyumbang masker, biskuit, ada jemaat pemuda yang menyatakan siap menyumbang 900 bungkus mie instan, dan ada Yayasan yang menyumbang 75 paket sembako. Jika untuk tahap 1, kami mengumpulkan Rp10  juta dalam waktu 1 minggu, kali ini jumlah yang sama terkumpul hanya dalam waktu 2 hari dan dalam waktu 3 minggu terkumpul dana sejumlah kurang lebih Rp 22,5 juta untuk aksi kepedulian tahap 2 berupa 300 paket nasi bungkus, snack, biskuit, masker, dan kurma.

Saat tulisan ini dibuat aksi kepedulian tahap 3 berupa pemberian bantuan sembako bagi jemaat Pernias baru saja digulirkan. Sasaran kali ini adalah jemaat yang penghasilannya menurun drastis karena pandemi. Malam hari setelah publikasi aksi tahap 3 ini diumumkan, seorang teman mengirimkan WA: “Suz, mau info, g ada isi form bantuan gereja kita. Sebenarnya malu. Tapi karena keadaan jadi g isi. Thanks infonya. Jbu.” Saya sedih mendengar kesulitan yang dialami teman saya, tapi sekaligus senang karena aksi kepedulian tahap 3 ini bisa menjangkau jemaat yang membutuhkan bantuan namun tidak terdeteksi oleh gereja. Selama ini kami fokus kepada masyarakat menengah ke bawah di luar gereja, sudah saatnya anggota jemaat Pernias menikmati uluran tangan dari keluarga sendiri, sesama jemaat Pernias.

Pandemi virus Corona telah memengaruhi kehidupan setiap orang. Work from home, tidak bisa keluar rumah, gaji dipotong, kehilangan pekerjaan, PHK, ketakutan terpapar virus Corona, menjadi fenomena yang mengelilingi kita. Kita tidak tahu kenapa kita hidup dan ada di masa ini, menyaksikan wabah seperti ini yang tidak pernah kita bayangkan akan kita lihat dan alami sendiri. Menghadapi itu semua, ada 2 opsi yang bisa kita pilih:

  1. kita bisa menyikapinya dengan berpangku tangan, bersembunyi, cari aman, membiarkan diri terkungkung dalam ketakutan dan kekhawatiran; atau
  2. sebaliknya kita memandang kondisi saat ini sebagai momen emas untuk melihat ke sekeliling kita dan berbuat sesuatu sehingga ketika wabah ini berlalu (dan pasti akan berlalu), ketika kita menengok ke belakang, kita bisa berkata kepada diri kita dan kepada Tuhan, waktu itu kita telah berbuat sesuatu dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi saluran berkat Tuhan di tengah dunia yang sangat membutuhkan uluran tangan kita.

We are here for this moment. Let us do good while we can.

     [1] Manny Fernandez, “Coronavirus and Poverty: A Mother Skips Meals So Her Children Can Eat” (https://www.nytimes.com/2020/03/20/us/coronavirus-poverty-school-lunch.html, diakses pada tanggal 20 Maret 2020).

     [2] Ibid.

Author

  • Suzi Tanzino saat ini berjemaat di GKI Perniagaan.