BERSAMA seluruh warga bangsa, kita sedang berusaha melawan pandemi Covid 19.    Sejak 22 Maret 2020, kita melaksanakan Ibadah di rumah. Setidaknya, ibadah di rumah masih akan berlanjut sampai akhir Juni. Setelah tiga bulan lebih kita melakukan PSBB, selanjutnya kita akan memasuki era normal baru. Pola bergereja perlu memperhatikan aneka protokol kesehatan demi kewaspadaan. Sebagai umat beriman, kita yakin Tuhan pasti menolong. Hanya saja, kita masih perlu bersabar menanti waktu-Nya.

Dalam kesempatan ini kita melihat sejenak tentang Hari Raya Pentakosta dan penerapannya bagi gereja dan umatnya. Dapat dikatakan bahwa asal perayaan Pentakosta adalah pemaknaan spiritual baru atas Perayaan Pondok Daun dalam tradisi Israel kuno. Untuk itu, mari kita melihatnya dalam kitab Imamat 23:33-44 dan Ulangan 16:10-16.

PERAYAAN PONDOK DAUN. Menurut kitab Ulangan 16 ada tiga hari Raya besar yang wajib dilakukan oleh umat Allah pada masa itu. Pertama, Hari Raya Roti Tak Beragi atau Paskah. Hari raya ini untuk mengingat pertolongan Tuhan yang memimpin mereka keluar dari Mesir. Kedua, Hari Raya Tujuh Minggu. Hari Raya itu ditetapkan setelah orang mulai menyabit gandum yang belum dituai. Dalam kesempatan itu, mereka bergembira bersama, memuliakan Tuhan dan membawa persembahan sukarela. Ketiga, Hari Raya Pondok Daun.

Kapankah Hari Raya Pondok Daun dilaksanakan? Menurut kitab Imamat 23 disebutkan, pada hari ke 15 bulan yang ke 7. Namun dalam kitab Ulangan, Hari Raya ini ditetapkan 7 hari setelah selesai mengumpulkan hasil panen gandum di tempat pengirikan dan atau buah anggur di tempat pemerasan.

Apa yang mereka lakukan pada hari raya itu? Mereka berkumpul di suatu tempat yang ditetapkan, membangun Pondok Daun dan mereka semua bersukaria, laki-laki dan perempuan, keluarga dan keturunan Imam, para janda dan anak yatim, bahkan orang asing yang ada di antara mereka. Dalam kesempatan ini, mereka mengadakan perkumpulan suci selama satu hari. Dalam tujuh hari itu, mereka tinggal di Pondok Daun dan membawa hasil panen sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rasa sukacita. Kemudian, perayaan pun ditutup dengan sekali lagi melakukan perkumpulan suci selama sehari terakhir.

Perayaan Pondok Daun merupakan perintah Musa kepada umat Israel setelah mereka menetap di Tanah Perjanjian.  Berdasarkan ketetapan Tuhan, Musa meminta umat untuk berhenti dari aktivitas sehari-hari selama beberapa hari. Mereka tinggal di pondok daun untuk merenungkan segala kebaikan dan pertolongan Tuhan, khususnya sebagai Allah semesta alam yang memelihara kehidupan mereka dengan menumbuhkan bibit yang mereka tanam. Tuhan memberkati usaha pertanian mereka. Gandum, buah, sayur dan hasil bumi tumbuh dan bisa menghasilkan panen. Umat mensyukuri pertolongan Tuhan dengan membawa hasil panen mereka sebagai persembahan syukur.

PERAYAAN PONDOK DAUN DAN PENTAKOSTA. Pada mazhab Yesus, perayaan Pondok Daun masih dilaksanakan. Menurut Yohanes 7:2, 37-39, Yesus juga menghadiri perayaan tersebut. Pada hari terakhir perayaan itu, Yesus menawarkan sesuatu kepada mereka. Yesus peka akan kondisi mereka yang sudah lelah dengan aneka ritus selama beberapa hari. Maka Ia pun berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!  Bangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir  aliran-aliran air hidup.”

Bisa saja kita berpendapat bahwa dalam undangan tersebut, Yesus menggunakan kata air sebagai kiasan yang menunjuk pada Diri-Nya sendiri sebagai Sang Firman yang menjadi manusia atau sebagai Firman yang hidup. Tetapi menurut catatan penulis Injil Yohanes, undangan itu menunjuk pada Roh Kudus. Ayat 39 merupakan keterangan penulis di waktu kemudian saat Injil ini ditulis. Dengan tegas  penulis Injil mengatakan, yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Catatan dalam Yohanes 7: 39 itu dikuatkan dengan realitas yang terjadi saat Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta. Tawaran Yesus pada saat Ia menghadiri hari Raya Pondok Daun merupakan pemberian Allah yang jauh lebih besar daripada bahan makanan untuk hidup. Roh Kudus yang dicurahkan, hadir untuk memberi kehidupan yang sejati. Sebab hanya oleh Roh orang mengerti Firman Tuhan dan menjadi percaya kepada Yesus. Oleh Roh Kudus pula orang ditolong dalam ziarah kehidupannya. Dan Roh Kudus pula yang menggerakkan orang percaya untuk hidup sebagai saksi-saksi Injil Kristus. Singkat kata, Roh Kudus sungguh memberi kehidupan. Demikianlah Perayaan Pondok Daun mendapat makna spiritual yang digenapi pada hari Pentakosta.

PENTAKOSTA KITA KINI. Pada masa kini, kita merayakan Pentakosta sekitar 7 minggu setelah Paskah. Tepatnya, Pentakosta dirayakan pada hari ke 50 setelah Paskah. Ada yang mengatakan bahwa waktu ini juga berdekatan dengan masa panen yang dijadikan dasar penghitungan Perayaan Pondok Daun. Namun yang terpenting bagi kita bukan soal waktunya, melainkan pemaknaannya.

Bagi kita, Yesus yang mati, bangkit  dan naik ke surga, adalah Tuhan dan Juruselamat. Ia memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus untuk memimpin dan menolong kehidupan orang percaya dalam menempuh perjalanan hidupnya, baik kini maupun nanti. Dengan kata lain, Tuhan tidak hanya memelihara kita dengan kecukupan sandang-pangan, tetapi Ia terus menyertai kita selamanya.

PENTAKOSTA PADA MASA PANDEMI. Seperti  Hari Raya Pondok Daun, bagi kita, Pentakosta juga adalah saat untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas. Pentakosta adalah kesempatan untuk merayakan kehidupan lewat perenungan tentang pertolongan Tuhan sepanjang ziarah hidup. Pada masa pandemik akibat COVID 19 pun, kita masih bisa melihat kehadiran Tuhan dan pertolongan-Nya. Wabah Corona dapat berujung pada kematian, tapi Firman Tuhan membawa kita pada kehidupan. Memang banyak orang yang terpapar dan meninggal, tetapi bersyukurlah orang yang telah menjadikan hidupnya bermakna.   Dalam iman kepada Tuhan, tersedia kehidupan kekal dalam kemuliaan-Nya. Virus Corona memporak-porandakan tatanan hidup tetapi Roh Kudus justru membawa kita pada tata kehidupan baru.

PENTAKOSTA ADALAH MOMEN UNTUK BERSYUKUR. Bagi umat Israel Hari Raya Pondok Daud diperingati sebagai sukacita lantaran terbebasnya  mereka dari perbudakan, dapat tinggal di tanah perjanjian, dan merasakan pemeliharaan Tuhan atas berkat hasil bumi. Bagi gereja dan umat beriman pada masa kini, Hari Raya Pentakosta adalah kesempatan untuk mensyukuri beberapa hal penting dan saling terkait. Pertama, mensyukuri keselamatan oleh iman kepada Kristus. Kedua, mensyukuri peran Roh Kudus yang memberi hidup sekaligus memimpin kehidupan. Ketiga, mensyukuri kecukupan hidup sebagai berkat Tuhan. Maka sudah pantas dan selaknya jika pada hari Pentakosta kita membawa sebagian berkat Tuhan sebagai Persembahan Syukur Pentakosta.

PANGGILAN MEMANCARKAN ALIRAN AIR HIDUP. Satu hal penting yang patut kita garis-bawahi dalam merayakan Pentakosta ialah panggilan Yesus dalam Yohanes 7:37. Yesus memanggil setiap orang yang berlelah untuk menikmati air hidup, dan bagi mereka yang percaya akan memancarkan aliran air hidup dari dalam dirinya. Artinya, siapa menerima anugerah Allah tidak boleh hanya menikmati anugerah itu hanya bagi diri sendiri saja. Setiap orang yang mengalami anugerah Allah, sepatutnya menjadi sumber anugerah bagi yang lain. Jadi, Pentakosta bukan hanya soal bersyukur belaka. Dengan demikian ada dua dimensi yang terdapat pada perayaan Pentakosta, yaitu dimensi syukur atas Karya Kasih Allah kepada umat percaya, sekaligus dimensi panggilan untuk menjadi agen pewarta Karya Kasih Allah kepada dunia.

Selamat Pentakosta. Selamat mengungkapkan syukur atas anugerah keselamatan dan berbagai pertolongan maupun pemeliharaan atas kehidupan kita. Selamat menunaikan panggilan untuk memancarkan aliran air hidup. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:58 mengatakan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Author