Tagar #newnormal #indonesiaabnormal dan #berdamaidengancorona menghiasi lini masa dalam beberapa waktu terakhir. Pandemik Covid 19 telah memasuki babak baru. Intervensi dan rehabilitasi medis mulai bergeser ke antisipasi pergerakan roda ekonomi. Kita ada di dalam masa transisi. Proses perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain. Saatnya kita mereposisi diri supaya tidak tertinggal.

The Shift Age

David Houle (2013), seorang futurist Amerika, beberapa tahun lalu sudah menubuatkan bergeraknya manusia dan peradaban ke dalam jaman perubahan, the shiftage. Ditandai dengan satu ciri utama, yaitu ‘‘secara terus-menerus dihadapkan dengan perubahan” (hal. 18) dan ditegaskan dengan “satu-satunya hal yang tidak berubah di dunia adalah perubahan” (hal. 38). Pandemik corona ini adalah salah satu contoh nyata faktor tidak terkontrol yang mengubah banyak hal. Datangnya tidak diundang, perginya pun tidak jelas.

Bagi dunia karier, shiftage ditandai dengan bergesernya pola perkembangan karier dari karier tradisional ke modern, lalu berubah dari modern ke arah karier protean dan boundaryless.

Karyawan ideal di masa karier tradisional yang dihidupi oleh kelompok babyboomers adalah mereka yang mendapatkan cincin emas karena pengabdian 10, 20 atau bahkan 30 tahun dalam satu profesi di organisasi yang sama. Bekerja demi meraih jenjang karier tertinggi, menghasilkan uang dan mempertontonkan kesetiaan. Bagi generasi X yang hidup di jaman setelahnya, karier yang dijalani mulai berubah wujud. Jenjang karier bukan lagi menjadi sasaran utama, melainkan meraih keseimbangan antara bekerja, belajar, bermain dan bercinta demi suatu kesejahteraan psikologis yang utama.

 

Evolusi karier mengalami transformasi lagi dalam bentuk karier yang protean (Volmer&Spurk, 2010), diambil dari salah satu nama dewa dalam mitologi Yunani, Protheus, putra Poseidon si dewa laut. Konon Protheus adalah sang tua bijaksana, sumber segala hikmat dan pengetahuan yang menjadi referensi bagi para cerdik cendikia. Sang tua yang pelit informasi ini gemar sekali merubah diri, dalam bentuk apa saja, yang tidak terduga, mulai dari hewan, tanaman, benda mati sampai materi yang tak kasat mata seperti virus corona: protean, bentuk yang berubah-ubah, tidak bisa ditebak, tidak bisa dikenali. Puncak transformasi karier mewujud dalam diri careerboundaryless, karier tak berbatas. Tiada batasan fisik, tanpa halangan psikologis. Pola perkembangan karier yang dijalani oleh generasi Y dan Z menjadi aktivitas yang sulit dikenali, sering berubah-ubah (baca: pindah pekerjaan, keluar masuk perusahaan, tukar profesi, antar negara, lintas budaya). Yang menjadi utopia yang diinginkan adalah pengejawantahan nilai-nilai kehidupan (lifevalues), merealisasikan idealisme, dan menggapai keterampilan yang tertinggi. Pilihan karier impian pun menjadi tak terbatas dan sulit didefinisikan : Interaction Design, Blockchain Developer, Deep Learning Specialization, Customer Success Specialist, Back End Developer (Coba tebak pekerjaan apa yang mereka lakukan?)

The Chaos Theory of Career

Pryor dan Bright (2003), dua orang professor asal Australia memperkenalkan teori chaos, dalil kekacauan. Dalam dunia yang penuh perubahan, hanya teori kekacauan yang sanggup untuk menggambarkan proses pencarian karier termutakhir. Premis mereka berbunyi “Jalur karier kita tidak selalu berupa garis lurus, bisa diukur, atau bisa diperkirakan. Selalu berubah dan bergerak, kadangkala melenting dan melesat dengan cara yang tidak terduga“. Yang bisa dilakukan adalah mengenali, menciptakan, mempergunakan dan beradaptasi kepada kesempatan dan hasil akhir yang terjadi secara kebetulan.

Kekacauan berarti perubahan tidak terduga, yang memerlukan transisi dan adaptabilitas karier (Gunawan, 2013). Kita ada di dalam masa transisi. Anda dan saya ada di dalam situasi midair. Tidak di sini, juga belum sampai di sana. Merasa gamang, galau, dan belum bias melihat pelabuhan akhir dalam pelayaran kita. Namun di dalamnya tersedia peluang dan menanti kesempatan. Transisi tidak mudah, beradaptasi perlu waktu. Tapi jika dilakukan dengan tepat, buahnya akan terasa manis. Keindahan dari kekacauan adalah hadirnya peluang dan kesempatan. Kesempatan berpeluang menghasilkan pertumbuhan dengan adanya keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Fertile emptiness, demikian istilah dari Bridges (2019).

 

Reshaping Yourself

Apa pun kondisi dunia saat ini, bagaimanapun keadaan Indonesia selepas pandemik, perubahan adalah keniscayaan. Krisis akan membuka pintu dan jendela kesempatan. Kesempatan untuk mencoba hal-hal baru dan menikmati petualangan tak terduga yang menguras adrenalin. Juga kesempatan untuk menikmati mukjizat dengan melemparkan diri ke tangan Tuhan yang kuat.

Reshaping berarti mempertajam, membentuk ulang agar berfungsi secara efektif. Pensil yang tumpul tidak bisa menulis dengan baik. Kita hanyalah sebuah pensil kecil di tangan Allah, Sang Penulis, yang sedang mengirimkan surat cinta-Nya kepada dunia, demikian kata Ibu Teresa. Apa potensi terbesar yang Tuhan berikan bagi Anda? Apa hal terhebat yang Tuhan ingin Anda lakukan? Apa yang menghambat Anda untuk menjadi versi terbaik diri Anda yang Tuhan inginkan? Inilah yang merupakan tujuan paripurna penciptaan manusia menurut Rick Warren (2002) yang terinspirasi dari tujuan penciptaan manusia menurut katekismus Westminster “memuliakan Allah serta menikmati Dia selamanya“.

Mulailah dengan menanyakan beberapa pertanyaan kepada diri Anda:

  • Seperti apakah pekerjaan impian Anda? Apakah Anda sedang melakukannya saat ini?
  • Bagaimanakah langkah2 membangun karier ideal yang Anda ingin capai?
  • Apa yang membuat Anda bertahan dengan pekerjaan saat ini? Mengapa?
  • Apa harga yang harus dibayar untuk terus bertahan? Apalagi?
  • Kesempatan apa yang mungkin akan Anda lewatkan dengan tetap bertahan? Apalagi?
  • Apa yang perlu Anda korbankan untuk memberikan kesempatan bagi petualangan baru? Apalagi?
  • Peluang apa yang bisa Anda lihat? Kesempatan apa yang bisa Anda ciptakan? Apalagi?

 

Langkah Praktis

Bagaimana agar Anda bisa bertahan di tengah badai perubahan dan tetap teguh berdiri tanpa tergilas kekacauan yang terjadi. Berikut ini beberapa ide praktis yang bisa dilakukan:

  1. Mulai dari dalam ke luar. Sentrifugal, bukan sentripetal. Saat dunia berubah dengan cepat, satu-satunya yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri. Alkitab menyatakan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. (Amsal 4:23). Secara khusus bagi kaum muda yang juga sedang berubah dengan cepat dan dihadapkan dengan quarter life crisis, mengenali aspek internal dari roda karier Anda akan membantu Anda melangkah ke depan (Gunawan, 2016).
  2. Kenali Transferable Skills Sederet keterampilan yang Anda miliki secara unik, yang Anda sukai untuk dilakukan, dan mahir untuk dikerjakan, lahir dari pengalaman dan momen kesuksesan Anda dalam pekerjaan yang telah Anda lakukan di masa lalu. Ketrampilan ini merupakan kualitas-kualitas khusus yang dicari dari para pencari kerja yang dapat memberikan nilai lebih. Transferable skill dapat berupa kemampuan Anda dalam berkomunikasi, keterampilan Anda untuk meyakinkan orang lain, kecakapan untuk bekerja secara teliti, kemampuan melakukan analisa, mendesain suatu produk, menulis, membuat rencana, ataupun teamwork.
  • Hal-hal apa saja yang Anda nikmati untuk dilakukan? Apalagi?
  • Hal-hal apa saja yang Anda akan lakukan dengan senang hati walaupun tanpa dibayar?
  • Hal-hal apa yang dapat Anda lakukan dengan baik? Apalagi?
  • 3 kualitas terbaik apa yang bisa Anda sebutkan dari diri Anda? 5, 10 kualitas?
  • Apakah pengalaman kerja Anda yang spesifik dan unik?
  • Ingat kembali momen-momen kesuksesan Anda dalam bekerja, keterampilan apa saja yang Anda miliki yang menyebabkan kesuksesan Anda? Apalagi?
  • Bekerja dalam bidang pekerjaan atau industri apa yang paling menyenangkan bagi Anda? Apalagi?
  1. Mulailah dari akhir. Saat pandemik Covid 19 ini berakhir apa yang Anda bayangkan terjadi pada entreprenuership intention (intensi kewirausahaan) atau pada perceived future employability Anda (kelayakan kerja Anda di masa datang).

Saat pandemik Covid 19 berakhir:

  • Keterampilan masa depan saya akan bertambah dengan skill… dengan cara …
  • Pengalaman saya akan bertambah dengan … dengan melakukan …
  • Karakteristik pribadi saya akan bertambah kuat dengan … dengan cara …
  • Jaringan pertemanan saya bertambah luas dengan mencapai target … dengan cara…
  • Pengetahuan saya tentang trend lapangan kerja di masa datang akan… dengan cara …
  • Reputasi diri saya dan almamater saya akan semakin kuat …. dengan cara …

Gunawan, Creed dan Glendon (2018) mengatakan, semakin positif dan optimis pandangan Anda terhadap masa depan Anda, semakin kuat Anda akan berusaha untuk meraih hasil positif yang Anda inginkan.

  1. Proaktif untuk belajar. Dunia internet saat ini menyediakan Massive Open Online Courses (MOOCs), kursus online gratis melalui berbagai platform seperti Coursera, Udemy, Lumosity, TED, EdEx, dan lainnya. Anda bahkan dapat mendapatkan sertifikasi yang bisa dipakai untuk menambah selling point
  2. Kembangkan jejaring dengan melakukan segala sesuatu yang Anda bisa. Jika belum ada tawaran pekerjaan yang menghasilkan uang, pikirkanlah untuk melakukan kegiatan pro bono (sukarela) untuk mengasah diri Anda. Tawarkan untuk melakukan kursus online gitar, tutorial bercocok tanam hidroponik, atau sekedar bincang santai tentang topik yang Anda kuasai. Anda akan terkejut dengan reaksi orang yang memberikan respon.
  3. Membuat rencana aksi yang konkret. Jangan malas! Buatlah rencana alternatif sebanyak mungkin. Jika Anda gagal membuat rencana, maka Anda merencanakan untuk gagal. Firman Tuhan mengatakan, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” (Lukas 14:28).
  4. Teruslah mencoba. Dukcworth(2016) menasihati kita untuk mengembangkan grit, yaitu fokus pada tujuan jangka panjang untuk menemukan passion yang ada di dalam diri Anda dengan kegigihan dan ketekunan (preseverance). Bergabunglah dengan orang-orang yang memiliki grit yang sama untuk maju dan buatlah perubahan.

Mari jadikan kesempatan ini untuk menghadirkan the better normal, bukan sekedar the new normal. Jika Anda merasa tidak mampu mengubah dunia, atau terlalu berat untuk memberi pengaruh bagi Indonesia, lakukan untuk orang-orang di sekeliling Anda yang Anda kasihi, jika masih merasa sulit, setidaknya lakukan untuk diri Anda sendiri. The better normal of me!

Author

  • Berlatar belakang pendidikan S3 Psikologi dari Griffith University, Australia , S2 Magister Sains Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia (UI), S2 Magister Divinity dari STT Cipanas dan S1 Psikologi dari Unika Atma Jaya Jakarta. Sejak Maret 2005 bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Psikologi Ukrida, dan dosen tamu di beberapa STT. Sudah menikah dengan satu anak, berjemaat di GKI Perniagaan Jakarta. Melayani di dalam Komisi Kependetaan Sinode (KKSW) Jawa Barat. William memiliki minat khusus dalam pengembangan karier, dan saat ini menjabat sebagai Indonesia Country Director untuk Asia Pacific Career Development Association (APCDA). Dalam masa pandemik ini, William tetap bisa dihubungi melalui alamat email william.gunawan@ukrida.ac.id untuk kebutuhan pelayanan sebagai pembicara, konsultan, trainer ataupun konseling/ coaching online.