Seorang kolega pendeta berkata, “Ini ada ibu nawar-nawarin terus produk jualannya ke saya. Jadi, saya mau enggak mau terima aja, dan kasih uang ke ibu itu. Itung-itung membeli produknya.”

Itulah sebuah kisah yang saya dengar dari seorang rekan pendeta di jemaat tempat saya melayani, tentang seorang ibu yang terpaksa berjualan untuk menyambung hidup.

Saudaraku, pada masa kini, ada sejumlah orang yang terpaksa banting setir menjadi “pengusaha dadakan”, supaya bisa bertahan hidup. Pekerjaannya semula tidak lagi menghasilkan oleh karena PSBB terkait Covid-19. Sekalipun ada beberapa orang yang statusnya adalah karyawan, namun penghasilannya berkurang karena dirumahkan. Mau tidak mau, mereka mencoba peruntungan dengan membangun usaha baru. Namun tidak semua dari mereka paham untuk memasarkan produk-produknya lewat media sosial.

Beberapa lainnya, coba mengembangkan usaha yang sudah dibangunnya selama ini, namun mengalami kesulitan untuk memasarkan produknya. Lagi-lagi alasannya seperti klise terdengar: karena PSBB. 

Di sisi lain, pada masa kini, pemasaran lewat media sosial (atau marketing digital), adalah suatu keniscayaan. Apa-apa bisa dilakukan dari rumah dengan perangkat yang terhubung internet. Itulah sebabnya, GKI SW Jawa Barat melalui selisip.com coba mewadahi usaha umat dari sejumlah Jemaat GKI untuk dipasarkan lewat website tersebut. Harapannya, aneka usaha dari umat tersebut dapat dibaca dan dimanfaatkan secara lebih luas.

Namun, kita menyadari bahwa usaha tersebut bisa menjumpai kendala di sana-sini. Misalnya: dari sekian e-katalog yang terpampang, mana yang pembaca akan pilih, lihat dan manfaatkan? Jemaat A atau jemaat B? Tentu tidak mudah, bukan? Ada banyak pilihan di sana – entah yang membuat pembaca bingung untuk memilih atau malah enggan melirik sama sekali.

Oleh karena itu, apa yang namanya kemandirian ekonomi menjadi suatu hal yang juga perlu diperjuangkan bersama.

Sehubungan dengan ada sejumlah warga jemaat yang belum cukup terliterasi dengan media sosial – yang juga sebagian dari mereka adalah para pengusaha kecil, membuat sejumlah aktivis dewasa muda (demuda) GKI Kayu Putih menggagas pelatihan online (semacam webinar atau web seminar) berseri. Seri I bertajuk Dagang Cantik lewat Media Sosial (untuk Pemula), dilaksanakan pada Sabtu, 30 Mei 2020.

Menghadirkan dua narasumber – aktivis GKI Kayu Putih, yang tergolong generasi milenial akhir (atau pra-Gen Z) dengan dua sesi : (1)  mengenal prinsip-prinsip dasar pemasaran lewat media sosial dengan memanfaatkan Instagram, Facebook dan Whatsapp sebagai sarana pemasaran produk; serta (2) membuat desain poster sederhana dengan aplikasi Canva.

Sementara, 70% peserta pelatihan online tersebut adalah generasi Y awal ke atas (hingga baby boomer). Itu berarti, kegiatan tersebut bersifat intergenerasional.

Sudah beberapa tahun terakhir ini, istilah intergerenasional malang-melintang di sejumlah percakapan di lingkup GKI SW Jawa Barat. Kegiatan intergenerasional bukan sekadar menghadirkan sejumlah orang dari berbagai generasi. Namun di dalamnya ada upaya untuk saling belajar dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Dalam persiapan pelatihan online tersebut, kedua narasumber terperangah tatkala mendengar laporan panitia bahwa sebagian besar pesertanya belum terliterasi dengan media sosial. Itu berarti, kedua narasumber harus belajar menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti oleh generasi yang lebih senior di atas mereka. Pada sisi yang lain, generasi yang lebih senior belajar untuk mendengarkan aneka wawasan yang disampaikan oleh dua narasumber yang secara usia, terpaut cukup jauh dari mereka, namun memiliki wawasan dan keterampilan yang berharga untuk dipelajari lebih lanjut. Interaksi dialogis lintas generasi ini menjadi salah satu hakikat dari kegiatan intergenerasional.

Tembok pembatas berupa usia luruh seketika, tatkala ruang virtual menyatukan 116 peserta pelatihan online tersebut. Ruang virtual pula yang bisa menyatukan para peserta yang berasal dari berbagai kota. Ada peserta dari Solo, Semarang, Lampung, Cirebon, Bandung dan sebagian besar lainnya dari Jakarta. Seluruhnya punya kerinduan agar produk dagangan mereka bisa laris-manis di pasaran lewat media sosial.

Bahasa yang digunakan oleh kedua narasumber, adalah bahasa yang sederhana, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk praktis yang bisa langsung diaplikasikan oleh pendengarnya. Sesi pelatihan juga dilanjutkan dengan tanya jawab, sehingga para peserta dapat semakin memahami apa yang perlu dilakukan selanjutnya.

Waktu selama hampir 2 jam seperti tak berasa, sebab suasananya begitu cair dan rileks. Para peserta yang masih ingin bertanya, diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan lanjutan ke nomor WA admin webinar demuda di: +62 877-7327-6301. Aneka pertanyaan yang muncul, akan disampaikan kepada narasumber untuk kemudian dijawab.

Guna melengkapi pelatihan online seri I ini, pokja Demuda GKI Kayu Putih menyiapkan pelatihan online serial berikutnya, yakni: bagaimana memfoto produk dengan menarik (direncanakan pada Sabtu, 06 Juni 2020), permodalan (13 Juni 2020), dan selanjutnya tentang mentalitas seorang enterpreneur (20 Juni 2020). Harapannya, dengan pelatihan ini, upaya saling tolong-menolong di antara warga jemaat menjadi perekat persekutuan. Sekalipun tak berjumpa secara langsung, namun hati yang mau berbagi dan menopang menjadi penguat relasi.

Dalam perjalanannya, mengingat kegiatan ini sangat baik manfaatnya bagi warga jemaat – terutama yang tengah merintis atau membangun usaha kecilnya, maka ke depan, para peserta akan diperluas jangkauannya (diutamakan warga jemaat yang telah ikut serta dalam e-Katalog Usaha Jemaat) dalam kerjasama dengan Binawarga, dengan dukungan dari selisip.com dan Youth Empowerment Community (YEC) GKI SW Jabar.

Bagi Bpk/Ibu/Sdr/i yang ingin mendengar lebih jauh tentang pemaparan materi dan keseruan tanya jawab dalam acara tersebut, dapat mengunjungi kanal youtube GKI Kayu Putih dengan judul “Pemberdayaan Online Seri 1”.

 

Soli Deo Gloria.

 

Author