Dalam dunia pendidikan di sekolah-sekolah, guru memainkan peran yang sangat penting. Dalam proses pendidikan tersebut, guru sering diperhadapkan pada situasi yang penuh tuntutan standar pendidikan. Situasi tersebut dapat membuat guru terperangkap dalam rutinitas pekerjaan dan kehilangan panggilan luhurnya sebagai pendidik. Guru dapat merasa kering, burnout, mengajar dengan ala kadar nya.  Bagaimana membangkitkan semangat dalam profesi guru? Salah satu cara dalam menangani hal tersebut adalah dengan mentoring. Seorang guru membutuhkan sahabat/sosok yang dapat mengarahkan dan menguatkan diri dan panggilan luhurnya. Sosok tersebut diharapkan bukan  mempercakapkan soal tuntutan standar pendidikan, tetapi sebagai sahabat yang menopang dirinya.

Apa itu mentoring? Mentoring adalah proses pembimbingan di mana seseorang dibimbing agar dapat menemukan dan mengenali gambar diri, potensi diri, pola diri, tujuan hidup, dan panggilan hidupnya. Proses mentoring  mencakup konseling dan coaching. Lalu apa yang membedakan antara mentoring dengan konseling dan coaching? Coaching berfokus pada mengoptimalkan skill seseorang, sedangkan konseling berfokus pada membuka hambatan diri agar potensi seseorang dapat optimal. Mentoring adalah proses pembimbingan yang menekankan pada relasi antara mentor dengan mentee-nya. Mentee dibimbing agar dirinya sendiri dapat menemukan sendiri solusi. Mentor sangat jarang memberikan nasihat langsung seperti “seharusnya begini atau jangan begini”, tetapi lebih menekankan pada seni bertanya. Dalam coaching, jika skill orang yang dibimbing sudah tercapai, maka relasi pembimbingannya selesai. Contoh: kursus setir mobil. Ketika orang yang dibimbing itu sudah bisa, maka selesai juga proses relasional coachingnya. Tidak ada relasi yang berkesinambungan lagi antara pelatih dengan orang yang dibimbingnya. Demikian juga dengan proses konseling, jika permasalahan sudah teratasi, maka relasi antara konseli dengan konselor selesai. Sedangkan dalam mentoring; memandang kebutuhan relasi antara mentee dan mentor itu berlangsung dalam waktu yang panjang.

Saya punya seorang mentor. Ia telah menjadi mentor saya sejak kelas 3 SMP di  SMPK BPK PENABUR Tasikmalaya. Ia telah menjadi mentor saya selama 20 tahun, sejak masa sekolah sampai saat ini.  Ia adalah Pdt. Em. Robby Chandra. Setiap tahun saya bertemu dan dimentoring oleh Pdt. Robby Chandra. Pada waktu itu ada P321 (Program Pelatihan Pemimpin Abad 21: bagi siswa kelas 3 SMP – 3 SMA PENABUR Tasikmalaya). Dalam mentoring selama 20 tahun itu, sangat jarang Pdt. Robby mengatakan, “Kamu tidak boleh/jangan”, tetapi, “Menurut kamu bagaimana hal itu jika terus dilakukan?” Saya diajak untuk menyadari konsekuensi atas sebuah pilihan yang dibuat. Kata–kata yang selalu ia ucapkan adalah, “Kamu baik, kamu hebat, hidupmu itu berharga. Tuhan mengasihi dan menyayangimu”.  Ini adalah bentuk apresiasi relasional yang berkesinambungan selama bertahun-tahun.

Nah, siapa yang tidak senang punya mentor yang demikian? Mentoring itu adalah proses yang menyenangkan dan membangkitkan semangat. Mentoring bukan monitoring. Meski seorang mentor perlu mengamati (monitoring) menteenya, tetapi cara menjalin relasi dan cara menguatkan, itulah yang sangat berharga. Orang yang dibesarkan dalam pujian akan menghasilkan orang yang memiliki kepercayaan diri yang baik. Demikian juga sebaliknya, orang yang hidup dalam kritik dan celaan yang destruktif, akan menjadi orang yang melakukan segala sesuatu dengan ala kadar.

Siswa membutuhkan mentor, yaitu guru. Demikian juga dengan guru; guru pun membutuhkan mentor. Mentor bagi guru, adalah Kepala Sekolah, pendeta pendamping sekolah, atau rekan guru “senior” lainnya. Seberapa besar dan berat pekerjaan, akan terasa lebih ringan ketika ada hati yang tersentuh oleh relasi yang kuat. Sebaliknya, sekecil apa pun beban pekerjaan akan terasa lebih berat karena kurang adanya relasi.

Author

  • Pdt. Peter Abet Nego merupakan pengerja di GKI Sumbawa Dua dan Pengurus BPK Penabur Jakarta.