Wawancara dengan Saro Eddy Muham Sembiring.

Sabtu itu (10/9), pagi tampak bening-cerah. Kami menjumpai Saro Eddy Muham Sembiring di rumahnya, di Kompleks Surapati Core, Bandung. Seekor beagle yang sudah sepuh nampak malu-malu menyambut kami, di teras rumah yang begitu asri. Pohon, kolam kecil dan kericik air membuat suasana hijau tropis amat terasa. Nampaknya pengisi rumah memang pecinta lingkungan.

Nadia, putri beliau, membukakan pintu. Ia dan adiknya bertukar cerita sejenak dengan kami, sembari kami menunggu orang yang akrab disapa Bang Saro itu.

“Rumahnya lumayan besar ya? Sejuk lagi,” komentar kami yang disambut senyum kedua anak itu.

Tak lama kemudian Bang Saro turun menjumpai kami. Ia langsung ngobrol soal keluarga, pekerjaan, aktivitas gereja dan rencana pengembangan kaum muda. Pengusaha yang kini bergerak di industri penyediaan air bersih tersebut, memang dikenal aktif menyuarakan pemberdayaan jemaat. Ia juga adalah seorang penatua di GKI Maulana Yusuf, Bandung.

“Kali ini kita lebih banyak bicara soal air, Bang,” sela kami mencoba memfokuskan pembicaraan.

“Oh, oke… silahkan. Sekalian belajar bisnis penyediaan air, biar saya latih. Gratis!” Sambutnya tak kalah antusias. Kami tertawa, membiarkannya bercerita tentang awal ia menggeluti bisnis ini.

“Sebelum di air, saya di industri pertambangan. Namun saya lihat kesempatannya kok kecil sekali buat jadi pemilik. Harus dekat dengan pengusaha, penguasa… Saya cuma bisa jadi pekerja. Nah, melihat peluang di air, saya yakin bisa kuasai hulu sampai hilirnya. Waktu itu, (2006) masih jarang yang di usaha ini. Kami terbilang pertama di Indonesia.”

se3

Bang Saro langsung mengeluarkan hitung-hitungannya. “Satu liter air minum sekarang dijual Rp.4.000-6.000. Jadi satu meter kubik bisa sampai enam juta. Nah, kalau menurut standar Bapenas, sehari orang dewasa itu menghabiskan 15 liter air. Ya, total pengeluaran untuk air bersih bisa sampai tiga juta itu sebulan. Dan… itu semua dalam kondisi air masih mudah didapat. Hanya dengan pengelolaan sedikit saja.”

“Wah, benar juga, ya…,” komentar kami tersadar.

“Nah, itu saya dapat inspirasinya unik loh… Saya jalan sepanjang waduk Jatiluhur. Melihat-lihat penggunaan air oleh masyarakat sekitar. Dari situ saya jadi yakin, bahwa bisnis ini bisa berguna dan bisa jalan.” Ia mengenang momen unik perintisan bisnisnya.

Menyadari semakin terbatasnya air bersih, Saro mengaku prihatin dengan perilaku masyarakat Indonesia yang belum memahami penggunaan air yang bertanggung jawab. Banyak orang sering meninggalkan kran menyala sampai berlebih-lebih. Kran dan pipa seringkali kualitas rendah sehingga banyak kebocoran. Sedikit sekali rumah yang mau pasang reservoir penampung air hujan. Kebiasaan orang yang minum air kemasan hanya sedikit, lalu membiarkan sisanya terbuang. Juga kebiasaan warga perkotaan yang terlalu sering menghabiskan air untuk cuci mobil dan taman.

“Abang suka melakukan edukasi terhadap konsumen soal penggunaan air?”

“Oh ya, ada. Kami biasanya menekankan kalau kami pakai kran dan pipa berkualitas. Jadi mengurangi kebocoran. Terus, untuk konsumen yang konsumsi airnya lewat batas penggunaan, biayanya setelah lewat batas jadi lebih mahal. Sebaliknya buat konsumen yang konsisten lebih hemat, tiap tahun kami beri benefit tertentu.”

Nampaknya pria lulusan Magister Manajemen ITS Surabaya ini sangat menikmati rutinitas usahanya. Ia mengaku beberapa kali mengalami masalah pelik. Namun karena sikapnya yang selalu nothing to lose dan berserah, banyak hal bisa diatasi dengan cara yang bertanggung jawab. Dukungan istri dan keluarga juga menjadi tenaga dorong terbesar bagi Saro.

Saro juga senang melihat sejumlah perubahan pada konsumen. Ia mencontohkan sebuah perumahan di Wilayah Bekasi, tempat ia pertama kali merintis usaha. Setelah air bersih tersedia, sektor usaha jadi lebih ramai, anak-anak lebih sehat dan perekonomian meningkat.

“Sebegitu pentingnya peran air, bukan? Ke depannya orang mungkin harus berperang untuk berebut air, sama seperti beberapa waktu lalu dunia berperang untuk energi. Nah, marilah kita lebih bertanggungjawab mengelola air, yang sampai sejauh ini masih mudah kita dapatkan,” pesannya sekaligus menutup bincang-bincang untuk wawancara ini. **arms

Biodata: img-20160916-wa0012
Nama: Saro Eddy Muham Sembiring
Tempat & Tgl Lahir: Sidikalang, 17 Oktober 1966
Nama Istri: Lucy Magdalena
Nama Anak: Nadya Integralia, Adam Gassor
Pekerjaan:
1. Owner PT. Watertech Estate Cikarang
2. Owner PT. Adia Tirta
3. Owner PT Amartha Sejahtera
4. Owner PT. Amartha Sejahtera Bandung

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.