Dua anak TK berdebat soal lebih hebat mana: laki-laki atau perempuan?

Si anak perempuan kemudian menunjukkan beberapa kehebatan perempuan. Si anak laki-laki juga menunjukkan kehebatan laki-laki. Sampai si anak laki-laki itu menancapkan argumen biblis, “Tuhan itu laki-laki! Jadi laki-laki lebih hebat!

Debat itu memang selesai. Tapi gejolak imbasnya tak pernah berhenti di hati si anak perempuan.
***

Kisah itu adalah cuilan dari masa kecil Pdt. Yolanda Pantou. Pendeta yang kini melayani GKI Surya Utama ini, meyakini bahwa kesadarannya akan isu kesetaraan gender, bukan dimulai saat ia belajar secara formal. Ia menyadari sejak kecil sudah ada semacam kegelisahan spiritual dalam dirinya. Kegelisahan terkait bagaimana seharusnya keluarga, gereja dan masyarakat memposisikan laki-laki dan perempuan.

Menjadi pendeta yang menggeluti teologi feminis di Indonesia, adalah tantangan tersendiri bagi Pdt. Yolanda. Ia mengakui GKI, sinode tempat ia bernaung, sudah terbilang maju terkait peran dan posisi jabatan gerejawi. Sudah cukup banyak perempuan menjadi pendeta, penatua, bahkan terlibat dalam posisi yang cukup penting di gereja dan badan pelayanan. Namun, masih dijumpai seabrek praktik keseharian yang timpang dalam hal kesetaraan gender.

“Masih berkembang pandangan yang menganggap kalau istri penghasilannya lebih tinggi dari suami sebagai hal yang aneh. Apalagi kalau ia yang bekerja, sementara suami mengurus rumah,” ia memberi contoh.

“Saya juga sering merasa kesal, kalau perempuan, termasuk saya, lebih dikomentari soal penampilan fisik dan busana yang dikenakan. Tadi mungkin hanya contoh kecil. Namun sama halnya kalau kita bicara soal kekerasan di rumah tangga, eksploitasi perempuan, kesetaraan di dunia kerja, bahkan sampai isu LGBT. Semua berawal dari perspektif yang bias terkait gender. Melihat perempuan sebagai obyek. Menganggap pembedaan posisi karena konstruksi sosial sebagai hal yang mutlak.”

Lulusan STT Jakarta dan Vrije Universiteit ini bercerita bagaimana ia sering dianggap terlalu kritis saat menyoal praktik-praktik ketidaksetaraan gender di lingkungan jemaat. “Kadang teman-teman dan warga jemaat berhati-hati memilih kata dan menjaga laku, kalau ada saya. Seolah-oleh ini karena Yolanda-nya, bukan karena kesadaran akan kesetaraan.”

“Salah seorang senior di jemaat bahkan pernah tegur saya: ‘Buat apa kamu terlalu sibuk dengan isu ‘fenimis’ itu?’ Dia bahkan salah menyebut istilahnya,” kenang Pdt. Yolanda miris. “Jadi, jemaat kita memang masih butuh lebih banyak edukasi dan pendekatan bertahap untuk bisa sepenuhnya merangkul permasalahan kesetaraan gender ini.”

Tidak hanya banyak bergelut dengan isu feminis, Pdt. Yolanda juga dikenal aktif dalam isu lingkungan. Ia membentuk grup media sosial Zero Waste Nusantara dan mengkampanyekan gaya hidup yang peduli lingkungan di tengah jemaatnya.

“Responnya cukup positif. Banyak jemaat yang share. Jemaat kami juga sudah ada program bank sampah. Hasilnya juga baik. Isu ini memang sudah lebih berterima di masyarakat perkotaan. Mungkin karena kita melihat jelas permasalahannya. Tidak seperti isu gender, yang sering dinilai terlalu filosofis.”

Kenapa tertarik menggeluti isu lingkungan? Pdt. Yolanda meyakini bahwa kesadarannya terhadap isu lingkungan juga telah dimulai sejak usia remaja. Saat masih di bangku SMA, ia selalu mengupayakan gaya hidup yang meminimalkan sampah. Hatinya tidak bisa terima penggunaan makanan dan sumber daya lain secara berlebihan.

Meski tidak ingin mengkotakkan diri sebagai seorang ‘eco-feminist’, Pdt. Yolanda menyadari gereja memang penting menggeluti isu kesetaraan gender dan isu lingkungan.

Gereja perlu peka, tidak hanya sekedar mengikut-bentuk (conform) budaya dunia yang berujung pada kematian. Tidak sekedar membiarkan apalagi membenarkan budaya yang eksploitatif terhadap perempuan dan alam. Namun berani mengubah-bentuk (transform) budaya yang ada. Dengan mengedepankan budaya kehidupan, yang secara khusus juga menghormati martabat perempuan dan menghargai alam.

Apakah GKI tengah menuju kesana?

“Harapan saya sih, ya. Ada sejumlah kemajuan. Namun sekarang, ya masih jauh,” ujarnya sembari tersenyum. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.